Akhir Hayat Dukun Santet

Sepagi itu warga kampung Sono Laut telah dikejutkan oleh suara aneh, seperti erangan orang kesakitan. Suara itu melengking panjang dan mengerikan. Terdengar hingga ke sudut-sudut desa, menabrak tebing-tebing bukit, dan bergema hingga ke lembah-lembah jauh di pelosok desa. Suara teriakan itu membangunkan warga yang masih terlelap dalam buaian mimpi. Anak-anak kecil pun ketakutan. Tatkala kicau burung bersahutan dari ujung dahan pepohonan, banyak orang yang keluar rumah. Mereka saling melempar tanya pada tetangga atau sanak saudara. Desa yang berdiri di atas bukit dan lereng-lereng lembah itu pun ramai. Tak hanya di emperan-emperan rumah, mereka membicarakan lengkingan itu di manapun mereka berada. Pasar, warung, sawah, ladang, lereng-lereng bukit, bahkan di tengah jalan berlumpur sekalipun tak luput menjadi tempat bergunjing.

“Kau dengar suara teriakan subuh buta tadi, Jo?” tanya Surjan sembari menuntun kerbaunya. Lelaki itu sedang berjalan menuju sungai guna memandikan kerbau-kerbau piaraannya. Kemarin dia mendapat orderan untuk membajak sawah Mbah Yem, maka ia ingin memperlihatkan kebersihan kerbaunya sebelum terjun ke sawah.
Joroso yang sedang berjalan memanggul cangkul di belakang Surjan kemudian menimpali, “Itu suara Mbah Darso yang mengerang kesakitan, dukun sakti itu kini tengah mendekati ajal,” ucap Joroso sembari mengembuskan asap rokok. Kepulan-kepulan asap pun membubung di udara, menguarkan bau tembakau yang khas hingga ke pematang-pematang sawah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jadi, Mbah Darso memang jatuh sakit?”

“Begitulah, kemarin aku sempat menengok ke rumahnya,” Joroso menimpali.

“Kamu datang ke rumah dukun santet itu? Kamu sering datang ke rumahnya?” dengus kakak kandung Joroso itu sambil melangkah. Hampir saja dia tergelincir di jalanan berlumpur bercampur tai kerbau miliknya. Sepertinya kerbau-kerbau itu sedang mencret. Hampir sepanjang jalan mereka terus mengeluarkan tai, membuat jalan menuju kali yang berlumpur itu semakin becek.

“Sepanjang dia tidak berbuat jahat padaku, aku tidak ingin berbuat jahat padanya,” Joroso berucap tegas. Mereka terus melangkah menapaki jalanan licin dan berlumpur.

Kerbau gemuk-gemuk milik Surjan itu mengingatkan Joroso pada dua ekor kerbau piaraannya yang telah mati. Sedianya, kerbau itu akan digunakan untuk membiayai sekolah anaknya. Sayang, beberapa bulan yang lalu tiba-tiba kerbau itu mati dalam keadaan perut mengembung. Padahal, seharusnya dia dapat banyak rezeki dari membajak di musim hujan seperti ini. Setelah kerbau Joroso mati, pembajakan sawah warga Sono Laut dimonopoli oleh sudara tuanya itu.

“Hati-hati dalam melangkah, Kang! Nanti bisa-bisa kamu mandi tai kebo kalau jatuh!” Joroso mengingatkan.
Surjan memang baru saja tergelincir tai kebo, tapi tidak sampai jatuh.

“Gara-gara mengumpat Mbah Darso, tai kebo pun nyaris bikin celaka!” Surjan mendengus, wajahnya bersungut-sungut.

“Yang bikin celaka atau bahagia bukan Mbah Darso, Kang. Tengok saja, bahkan dia tak mampu menolak sakit yang kini mendera tubuhnya,” ucap Joroso. Lelaki berbadan tegap itu terus mengayunkan langkah menuju sepetak sawah warisan orang tuanya di seberang sungai.

“Nanti kalau sawahmu sudah waktunya dibajak, kamu pakai kerbauku saja, Jo,” Surjan menawarkan bantuan pada adiknya, mengalihkan topik pembicaraan.

“Makasih Kang. Entah nanti atau besok, aku akan selesai mencangkuli, tidak perlu dibajak,” jawab Joroso. Dalam hati sebenarnya dia ingin sekali menerima tawaran itu. Jika dibajak maka tenaganya tidak akan terkuras untuk mengayunkan cangkul sampai berhari-hari. Tapi dia merasa tidak enak pada kakaknya itu, utang untuk pembelian pupuk musim padi sebelumnya belum juga ia lunasi. Tak ingin ia menambahinya dengan utang balas budi. Joroso juga merasa tidak enak karena dulu pernah menjual tanah milik orang tuanya untuk modal usaha yang ternyata berujung kegagalan.

Tinggalkan Balasan