Akhir Hayat Dukun Santet

“Kamu itu masih muda, anakmu masih kecil juga. Mbokyo dijaga tenaganya, jangan terlalu ngoyo,” Surjan berpetuah. Joroso menyimak nasihat kakaknya itu tanpa menimpali.
Kedua adik-kakak itu melanjutkan perjalanan dalam diam. Dan Joroso terus berandai-andai. Jika saja kerbau miliknya tidak mati, dia pasti mendapat banyak penghasilan dari membajak sawah. Dia hirup rokoknya kuat-kuat untuk melepas kegelisahan. Tak dinyana, asap rokok itu menyerobot hidung Surjan. Terbatuk-batuklah ia.

“Awas Kang!” pekik Joroso tiba-tiba.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan telanjur. Batuk yang mendera Surjan membuat kakinya limbung tatkala menjejak lumpur. Maka terjatuhlah dia bermandikan tai kerbau yang berbaur dengan lumpur becek.

Joroso menahan tawa, takut kuwalat. Dia hendak menolong kakaknya, tapi melihat kerbau mencret itu lari berjingkrak lepas dari sang tuan, Joroso segera mengejarnya. Rupanya bapak satu anak itu cukup lihai menangkap kerbau. Sekejap saja sudah dia tangkap kembali binatang itu. Lalu diikatnya pada pohon jambu yang tumbuh rindang di tepi kali. Dua ekor kerbau lainnya mengikuti anteng di sekitar betina liar yang kini terikat erat.

Sementara itu Surjan yang tubuhnya berlumur tai kerbau akhirnya menceburkan diri ke dalam sungai. Aliran sungai yang sedianya agak jernih kini berubah coklat kehitam-hitaman oleh karena tai kerbau yang menempel di tubuhnya telah memburai. Joroso menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepala di tepian sungai melihat kelakuan kakaknya.

Dan Joroso pun melanjutkan perjalanan menuju sawahnya. Dia melihat ada keramaian di depan sana. Kenduri petik padi, gumamnya lirih. Ia menyeberang kali. Kenduri itu memang berada di rute menuju sawahnya. Ia terus melangkah. Beberapa orang memanggilnya untuk turut serta doa petik padi itu. Kebetulan sekali dia belum sarapan. Istrinya tadi mengeluhkan bumbu masak habis. Daripada bingung diomeli istri, dia cepat-cepat berangkat ke sawah. Dan lidahnya bergoyang melihat ada berbagai jenis penganan di situ. Joroso melangkah mendekati kerumunan dengan semangat.

“Nah, ini ada Joroso yang dekat rumah Mbah Dukun Darso. Apa benar tadi pagi itu suara teriakannya?” tanya Solikin memulai gosip seusai kenduri.

“Iya,” jawab Joroso pendek.

“Tadi pagi dia muntah paku, apa iya Jo?” tanya seseorang yang lain.

“Iya,” lagi-lagi Joroso menjawab pendek.

“Nah, itu paku yang pernah dikirimnya untuk menyantet orang. Mungkin itu santet yang pernah ia kirimkan pada Mbah Dul dulu itu. Tak salah lagi,” tukas yang lain.

“Semua yang pernah dikirimnya untuk membunuh orang akan dimuntahkan. Sampai dia mati nanti.”

Tinggalkan Balasan