Akhir Hayat Dukun Santet

“Dia bisa saja mati sebelum memuntahkan kiriman santetnya jika mau memberitahu kelemahannya pada orang lain. Sayangnya dia masih ingin hidup seribu tahun lagi!”

“Seandainya Mbah Darso mati, padahal belum semua kiriman santetnya dimuntahkan, apa yang akan terjadi?” tanya seseorang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kiriman santet itu akan kembali pada para pemakai jasa santetnya!” timpal yang lain.

Suara-suara itu terus bersahutan hingga matahari mulai menyengat punggung mereka. Kenduri yang diakhiri dengan acara ngerumpi itu pun usai. Bapak-bapak petani itu kemudian semburat menuju sawah masing-masing. Dan percakapan di sawah itu membuat pikiran Joroso tak tenang. Dia berpikiran macam-macam. Siapa saja yang pernah memakai jasa santet Mbah Darso?

Malam hari ketika Joroso hendak tidur tiba-tiba rumahnya diketuk orang. Ia kemudian membukakan pintu. Seorang nenek-nenek tua berdiri di depan pintu, sedang di tangan kanannya ada sebilah tongkat yang menopang tubuh bungkuknya. Tak lain, dia adalah Mbah Sekar, istri Mbah Darso. Joroso memicingkan mata demi melihat keanehan itu. Jarang sekali dia melihat perempuan tua itu bepergian, apalagi bertandang ke rumahnya. Maka pikirannya dipenuhi penasaran.

“Jo, tolonglah Mbah Darso. Dia sudah tak mampu lagi menahankan rasa sakitnya. Carikan debu kuburan di perbatasan desa itu untuk membuang jimat penangkal kematian Mbahmu. Tolonglah dia untuk segera mengakhiri penderitaannya.

Dia sudah merindukan kematian. Akan kuberi kau imbalan nanti jika sudah mendapatkan debu itu. Tubuhku sudah tak mampu lagi berjalan dengan jarak sejauh itu,” pinta Mbah Sekar dengan suara menggeletar.

“Satu lagi,” ucap Mbah Sekar. “Jangan ceritakan ini pada siapa pun.”

Tubuh Joroso menggigil. Ingin dia mengusir nenek tua itu, tapi pikirannya berkelebat. Dia akan mendapat imbalan, dan itu akan membuat dapurnya kembali mengepul. Selain itu, jika Mbah Darso bisa mati, maka dia tidak akan terganggu lagi dengan jeritan-jeritan mengerikan itu. Apalagi ada ancaman itu. Maka berangkatlah ia dengan berpenerangan korek api di malam yang gulita menuju kuburan. Tak ada senter di rumahnya. Dan setelah memberikan debu kuburan itu pada Mbah Sekar ia cepat-cepat pulang. Tak tahan dia mendengar erangan kesakitan orang yang dikenal sebagai dukun santet itu.

Dan benar saja ucapan Mbah Sekar. Selang beberapa saat kemudian Mbah Darso mengembuskan napas terakhir, dalam kondisi mengenaskan. Berbagai benda muntahan yang mengerikan berada di depan mayat itu. Entah bagaimana caranya Mbah Sekar mengakhiri nyawa suaminya dengan debu itu. Joroso tak mau tahu. Yang ia tahu hanya imbalan, dan cukuplah beberapa lembar uang itu menyenangkan hatinya. Yang jelas, Mbah Sekar sendirilah yang telah melepaskan susuk yang bercokol dalam tubuh tukang santet itu. Kematian itu membawa kebahagiaan pada warga karena mereka tak akan terganggu lagi oleh lolongan suara mengerikan. Mereka juga merasa akan aman dari santet!

Namun, tak berselang hari, kampung Sono Laut dihebohkan kembali oleh kejadian aneh. Dan kali ini tak kalah mengerikan dari peristiwa yang terjadi pada Mbah Darso. Adalah Surjan yang mengalami kejadian mengerikan itu. Sepulangnya dari mengantar jenazah Mbah Darso, dia mengeluhkan pusing dan sakit perut. Malamnya, suatu keganjilan terjadi. Mulutnya tak berhenti memuntahkan tai kerbau. Pemilik tiga ekor kerbau itu terus memuntahkan tai piaraannya.

Berita itu sampai juga ke telinga Joroso. Mengingat kata-kata orang-orang di sawah beberapa hari yang lalu dahinya lantas mengernyit, alis matanya bertaut. Ada geram dan perasaan suram yang mengeram dalam dadanya.

Tinggalkan Balasan