Maka saat Banser baru didirikan pada tahun 1962 – dengan cikal bakal embrio yang cukup panjang melalau laskar – kata barisan masih melekat. Meskipun Hairus Salim menolak bahwa pendirian Banser diperuntukkan melawan PKI. Karena menurutnya, hal tersebut tidak lebih dari sekadar momentum, dan dalam banyak hal hanya sebagai isu.
Sejarah ingatan ini yang kemudian sampai saat ini masih menjadi konstruksi imajinasi Banser seperti yang termaktub dalam slogan “NKRI harga mati” dan lain semacamnya. Konkretnya, sampai sekarang menjadi imajinasi yang harus dipertahankan karena bagaimanapun, masyarakat pesantren hingga nahdliyin mempunyai kepentingan dan tujuan.

Kepentingan dan tujuan, yang menurutnya harus dipertahankan, dari kelompok di luar (the other) NU. Diperlukan penjaga kepentingan dan tujuan dari pembelanya yang terpilih, kuat, muda dan militan (Kelompok Paramiliter NU, 2004).
Syuun Ijtimaiyah Ansor
Ingatan dan imajinasi yang disampaikan di atas, sebenarnya bisa disandarkan pada aktivisme lain dari organisasi yang berdiri pada tahun 1934 tersebut. Meskipun kesan paramiliter di tubuh Ansor melalui Banser tidak bisa ditepis dan masih menjadi identitas ‘unggulan’ masa kini, tetapi serangkaian aktivisme – juga konstruksi – menghidupkan ekonomi di tubuh Ansor juga sudah tumbuh sejak lama.
Aktivitas ekonomi seperti Nahdlatut Tujjar menjadi titik kesadaran penting aktivisme ekonomi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Atau pada tahun 1960-an, lebih spesifik dalam gerakan ekonomi Ansor, juga sudah dibentuk unit usaha bernama Yayasan Dharma Pemuda. Dan pada tahun 1980, saat Kongres ke-8 GP Ansor pada tahun 1980, kegiatan-kegiatan ekonomi disambut baik oleh pemerintah kala itu.
