Saya dengan gembira, kata Adam Malik, mendukung niat dan keinginan GP Ansor dalam kongres ini memusatkan perhatiannya kepada usaha-usaha mengatasi permasalahan kesempatan kerja, kependudukan, lingkungan hidup dan pendidikan adalah hal penting perlu disambut dengan gembira.
Ingatan aktivisme ekonomi di dalam tubuh Ansor inilah yang tampaknya pada usia 92 tahun GP Ansor dinyalakan kembali, meminjam bahasanya Hairus salim sebagai imajinasi. Persinggungan GP Ansor dengan kelompok-kelompok profesional, ekonom, advokat dan beragam profesi lainnya – bahkan mereka juga tergabung sebagai kader – menjadi modal penting untuk menguatkan aktivisme ekonomi.

Kuat, muda, dan militan ini dikonversi ke dalam ruang-ruang ekonomi riil, terlepas untuk membantu pemberdayaan ekonomi kader secara spesifik, atau menggerakkan ekonomi masyarakat. Pendirian Badan Usaha Milik Ansor (BUMA), Patriot Ketahanan Panan, hingga Kelompok Usaha Gotong Royong yang menjadi ciri daripada gerakan Ansor hari ini, bisa menjadi tulang punggung aktivisme ekonomi.
Layaknya, apa yang kemudian dilakukan Lakpesdam PBNU dalam aktivitasnya setelah Muktamar NU 1984 di Situbondo dalam Rakyat Kecil, Islam dan Politik (Bruinessen, 2013), untuk memberi pelatihan dalam bidang manajemen dan kepemimpinan, mencoba menggairahkan aktivitas-aktivitas yang menghasilkan pendapatan dalam bidang pertanian dan industri rumah tangga, serta mendirikan koperasi.
Ekonomi, hingga saat ini, diakui atau tidak masih belum menjadi kesadaran sepenuhnya. Tetapi bukan berarti tidak mungkin, mimpi kemandirian ekonomi menjadi imajinasi aktivisme organisasi, sebagaimana dulu ingatan politik dan perjuangan kebangsaan yang sampai hari ini masih teguh dipegang? Dan bukan untuk dipertentangkan, melainkan diintegrasikan sebagai perluasan khidmah GP Ansor dalam bersatu, berperan untuk negeri.
