Aku, Feodal, dan Seorang Teman Bernama Cahyo

“Kita semua tahu Sayyidina Ali, bukan? Beliau pernah berkata, ‘Siapa yang mengajariku satu huruf, maka aku rela menjadi budaknya.’ Pertanyaannya: apakah itu bentuk pengagungan pangkat yang merupakan definisi dari feodal, atau bentuk pengagungan ilmu? Kalau yang dihormati adalah ilmu, maka jelas itu bukan feodal, tapi adab.”

Aku jeda sejenak, menatap wajah-wajah yang mulai condong.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Di pesantren, santri memang menghormati kiainya. Tapi bukan karena jubah atau pangkatnya. Kami hormat karena ilmu yang mereka bawa. Kalau ada santri yang hormat karena kiainya jago main bola atau numpak motor apik—ya itu santri yang yang nyeleneh,” aku tertawa kecil, beberapa teman ikut terkekeh.

“Tahu nggak? Banyak kiai malah gak nyaman ditunduk-tundukin.”

Teman yang tadi menyerang mulai gelisah. Tapi aku lanjutkan.

“Dan kalau bicara ruang kritik—kita selaku santri punya Bahtsul Masail, Mas. Tempat santri dan kiai duduk lesehan bareng, debat soal hukum, sampai subuh. Santri bisa beda pendapat dengan guru. Pernah dengar kisah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari? Beliau debat gurunya sendiri, lalu berijtihad mandiri. Dan alirannya justru jadi rujukan kita sekarang. Itu bukan kerajaan. Itu keluarga ilmu.”

Aku tarik napas.

“Lagipula, kalau santri rakyat feodal, harusnya semua omongan guru langsung dituruti tanpa bantah. Tapi kenyataannya? Guru bilang ‘jangan tidur pas sekolah’, santri jawab ‘Enggeh!’— lima menit kemudian sudah molor depan papan tulis. Dan guru? Kadang cuma senyum dan bilang: ‘Mudah-mudahan bermanfaat ya ilmumu, Nak.’”

Suasana kelas pecah oleh tawa. Termasuk dosen.

Tinggalkan Balasan