“Tapi sungguh, itu bukan feodal. Itu manusiawi. Di pesantren, kami diajarkan patuh bukan karena takut, tapi karena paham batas. Dan diajarkan taat, tapi bukan bisu. Justru kami belajar mengungkapkan pikiran dengan adab.”
Aku mengakhiri dengan suara pelan, “Feodalisme tak akan pernah bisa hidup di tempat di mana ilmu adalah raja, dan adab adalah istananya.”

Sepulang kuliah, dia menghampiriku di koridor. Wajahnya tak sepanas tadi.
“Aku… sebenernya hanya kecewa, sih. Dulu pernah mondok juga. Tapi… rasanya ngeselin. Tak cocok.”
Aku menatapnya. “Kekecewaanmu valid. Tapi mungkin bukan pesantrennya yang ngeselin, mungkin yang kamu alami belum utuh. Pesantren itu seperti laut. Kalau kamu cuma main di pinggir, lalu bilang seluruh laut itu dangkal, itu pandangan yang keliru. Ya pasti kamu kecewa.”
Ia mengangguk. Pelan. Tidak membalas.
Aku lanjutkan, “Dan satu hal lagi. Pesantren itu bukan tempat sempurna. Tapi dari ketidaksempurnaan itu, kita harusnya memetik pelajaran untuk sabar, untuk ikhlas, dan untuk tetap percaya.”
Ia tersenyum kecut. “Mungkin aku memang belum selesai berdamai.”
“Kita semua belum. Tapi kita berjalan.”
