Hari itu, kelas Sosiologi Agama berubah jadi ring tinju. Topik perkuliahan: “Feodalisme dalam Lembaga Keagamaan”. Dosen hanya melempar satu topik itu, lalu membiarkan kami bergulat dengan pikiran masing-masing.
Seorang teman yang katanya mantan santri angkat bicara lebih cepat dari bayangan. Suaranya kencang, nadanya jelas:

“Pesantren adalah bentuk feodalisme terselubung. Kiai diposisikan bak raja, santri itu rakyat kecil yang harus tunduk. Budaya cium tangan, patuh buta, tak ada ruang kritik. Itu bukan pendidikan, itu domestikasi spiritual!”
Aku tertegun. Cahyo adalah temanku. Dulu ia juga seorang santri. Tapi mungkin ada luka dalam dirinya. Sering ia kisahkan bagaimana ia ‘disingkirkan’ dari sebuah pondok karena menulis cerpen yang dianggap nyeleneh. Sakit hati itu menjelma jadi semangat anti-pesantren yang kerap dibungkus kritik rasional.
Sebagian mahasiswa manggut-manggut. Aku duduk diam. Tapi ada suara kecil dalam diri ini yang berontak.
Dengan sedikit gemetar, aku harus angkat tangan dan tidak membiarkan mantan santri itu menjadi-jadi. “Saya santri. Lulusan pesantren. Dan saya ingin bicara bukan untuk menyerang, tapi untuk meluruskan.”
Ruangan mendadak senyap. Dosen dan teman-teman menoleh ke arahku.
“Sebelum debat makin liar, saya kutip dulu definisi feodalisme dari KBBI: ‘sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat, bukan prestasi kerja.’ Nah, izinkan saya bercerita…”
Beberapa orang melirik penasaran. Temanku yang tadi menyerang pesantren, bersandar ke kursi, dengan ekspresi sinis.
