Aku, Feodal, dan Seorang Teman Bernama Cahyo

Hari itu, kelas Sosiologi Agama berubah jadi ring tinju. Topik perkuliahan: “Feodalisme dalam Lembaga Keagamaan”. Dosen hanya melempar satu topik itu, lalu membiarkan kami bergulat dengan pikiran masing-masing.

Seorang teman yang katanya mantan santri angkat bicara lebih cepat dari bayangan. Suaranya kencang, nadanya jelas:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Pesantren adalah bentuk feodalisme terselubung. Kiai diposisikan bak raja, santri itu rakyat kecil yang harus tunduk. Budaya cium tangan, patuh buta, tak ada ruang kritik. Itu bukan pendidikan, itu domestikasi spiritual!”

Aku tertegun. Cahyo adalah temanku. Dulu ia juga seorang santri. Tapi mungkin ada luka dalam dirinya. Sering ia kisahkan bagaimana ia ‘disingkirkan’ dari sebuah pondok karena menulis cerpen yang dianggap nyeleneh. Sakit hati itu menjelma jadi semangat anti-pesantren yang kerap dibungkus kritik rasional.

Sebagian mahasiswa manggut-manggut. Aku duduk diam. Tapi ada suara kecil dalam diri ini yang berontak.

Dengan sedikit gemetar, aku harus angkat tangan dan tidak membiarkan mantan santri itu menjadi-jadi. “Saya santri. Lulusan pesantren. Dan saya ingin bicara bukan untuk menyerang, tapi untuk meluruskan.”

Ruangan mendadak senyap. Dosen dan teman-teman menoleh ke arahku.

“Sebelum debat makin liar, saya kutip dulu definisi feodalisme dari KBBI: ‘sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat, bukan prestasi kerja.’ Nah, izinkan saya bercerita…”

Beberapa orang melirik penasaran. Temanku yang tadi menyerang pesantren, bersandar ke kursi, dengan ekspresi sinis.

“Kita semua tahu Sayyidina Ali, bukan? Beliau pernah berkata, ‘Siapa yang mengajariku satu huruf, maka aku rela menjadi budaknya.’ Pertanyaannya: apakah itu bentuk pengagungan pangkat yang merupakan definisi dari feodal, atau bentuk pengagungan ilmu? Kalau yang dihormati adalah ilmu, maka jelas itu bukan feodal, tapi adab.”

Aku jeda sejenak, menatap wajah-wajah yang mulai condong.

“Di pesantren, santri memang menghormati kiainya. Tapi bukan karena jubah atau pangkatnya. Kami hormat karena ilmu yang mereka bawa. Kalau ada santri yang hormat karena kiainya jago main bola atau numpak motor apik—ya itu santri yang yang nyeleneh,” aku tertawa kecil, beberapa teman ikut terkekeh.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan