Al-Ghazali dan “Catatan Pinggir” Descartes

Masa hidup yang berbeda serta letak geografis dan kebudayaan yang berbeda tentu akan menghasilkan pemikiran yang berbeda pula. Mempertimbangkan hal tersebut, kecil sekali kemungkinan untuk keduanya bisa secara tidak sengaja atau kebetulan memiliki pandangan dan gagasan yang serupa. Sungguh seperti mustahil agaknya, membayangkan hal itu benar-benar terjadi.

Tapi faktanya memang demikian. Saya tidak ingin ikut-ikutan mengatakan bahwa Descartes telah terinspirasi dari Al-Ghazali. Tetapi tidak bisa dimungkiri, bahwa banyak gagasan dalam buku Diskursus dan Metode yang bertalian atau bahkan mirip dengan pemikiran yang disampaikan oleh Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min Al-Dlalal. Berikut kami sampaikan temuan temuannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meragukan Indra

Pada bagian keempat buku Diskursus dan Metode, ketika menjelasakan tentang asas-asas metafisika, Descartes mengungkapkan bahwa indra seringkali menipu kita. Ia pun meragukan apa-apa yang ditangkap oleh indranya. Hal yang sama juga disampaikan Al-Ghazali dalam kitabnya.

Al-Ghazali menyampaikan bahwa kita melihat bintang di langit seukuran dengan satu koin dirham/dinar. Padahal ilmu geometri telah meyatakan bahwa sejatinya ia jauh lebih besar dari bumi. Kita juga sering kali melihat bayangan benda-benda di sekitar kita dan merasa ia tidak bergerak. Namun sejam berikutnya kita menyadari bahwa sejatinya bayangan tersebut terus bergerak sedikit demi sedikit sesuai pergerakan matahari.

Lantas Al-Ghazali pun mempertanyakan: “Dari sisi manakah kita bisa mempercayai panca indra kita?

Argumen tentang Mimpi

Masih pada bagian keempat buku ini, Descartes menjelasakan bahwa pemikiran-pemikiran yang muncul saat kita sadar bisa sama meyakinkan dengan pemikiran yang muncul saat kita tidak sadar. Ia pun beranggapan bahwa segala hal yang muncul di pikirannya tidak lebih benar dari ilusi-ilusi yang ia dapatkan ketika ia bermimpi. Karena saat kita bermimpi, sering kali kita meyakini apa-apa yang kita pikirkan pada saat itu, sama yakinnya dengan saat kita sadar.

Kita juga menemukan pembahasan yang serupa pada kitabnya Al-Ghazali. Ia menjelaskan bahwa ia menemukan dirinya penuh kejanggalan ketika tidur. Ia menyampaikan: “Ketika tidur kamu meyakini apa-apa yang terjadi di pikiranmu sebagai sesuatu yang benar-benar nyata, tanpa keraguan sedikit pun. Lantas kau pun terbangun, lalu mengetahui bahwa apa yang kau bayangkan dalam mimpimu itu sama sekali tak berdasar.”

Prinsip Pokok yang Mirip

Tinggalkan Balasan