Al-Ghazali dan “Catatan Pinggir” Descartes

Pada bagian kedua dari bukunya, Descartes mengungkapkan empat prinsip yang selalu ia pegang dalam mengambil keputusan. Salah satunya adalah: Tidak pernah menerima apa pun sebagai sebuah kebenaran, kecuali sampai ia mengetahuinya secara jelas dan gamblang bahwa hal tersebut adalah benar.

Descartes bertekad untuk tidak mau terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Ia tidak mau memasukkan apa pun ke dalam pikirannya sampai hal tersebut benar-benar tampil amat jelas di kepalanya sehingga tak ada celah sedikit pun untuk meragukannya. Jika sedikit saja terbersit keraguan padanya, Descartes akan segera membuang pemikiran tersebut jauh-jauh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lagi-lagi, Al-Ghazali juga menyampaikan hal serupa. Pada awal kitabnya, Al-Ghazali menuturkan bahwa pengetahuan yang pasti benar adalah pengetahuan yang bisa menyingkap persoalan dengan sejelas-jelasnya sampai tak ada keraguan sama sekali. Pengetahuan yang masih menyisihkan ruang keraguan -sekalipun sedikit- adalah pengetahuan yang tidak dapat dipercaya.

Hasil Akhir yang Berbeda

Meski keduanya sama-sama betolak dari keraguan, kesimpulan yang mereka capai sangatlah berbeda. Descartes menggunakan keraguan sebagai metode dalam usahanya mencari kebenaran. Dan, dengan itu ia memperoleh kesimpulan bahwa dirinya benar-benar nyata setiap kali ia meragu (cogito ergo sum).

Sementara itu, Al-Ghazali memosisikan keraguan sebagai penyakit yang harus ia obati. Dan, pada akhirnya ia menemukan bahwa obat itu adalah Cahaya Ilahi atau tasawuf.

Meski pada tahap akhir ini, keduanya berbeda dalam mengambil ksimpulan, apa yang mereka lakukan untuk memerolehnya hampir-hampir mirip. Keduanya sama-sama memulai dari meragukan segala hal yang awalnya mereka yakini. Lalu disambung dengan argumen tentang mimpi, dan diakhiri dengan kesimpulan. Pola yang hampir mirip menurut kami.

Melihat pertalian tersebut sangat masuk akal mengapa banyak orang mengakui cerita tentang kitab bercatatan pinggir di perpustakaan Descartes. Sekali lagi, rentang masa yang berbeda dan kebudayaan yang jauh berbeda, seharusnya melahirkan corak pikir yang berbeda pula. Kemungkinan keduanya bisa bersatu pikir secara kebetulan sangatlah kecil, kalau tidak dibilang mustahil.

Banyaknya kecocokan yang ada pada dua karya tersebut semakin memperkecil kemungkinan hal tersebut muncul secara kebetulan. Memang hasil akhirnya berbeda. Tapi alur berpikir keduanya bisa dibilang identik. Yakni dimulai dari keraguan, lalu mimpi dan Kesimpulan.

Walhasil, orang-orang pun mulai berspekulasi dan mencari alasan yang lebih nyaman diterima akal, dari pada hanya sekadar kebetulan semata. Dan, asumsi bahwa Descartes telah terinspirasi dari Al-Ghazali adalah opsi paling rasional dan paling mudah dicerna.

Tinggalkan Balasan