Dalam al-Iklīl mengandung beberapa corak, yaitu corak al-adaby al-ijtima’iy, fiqhi, dan tasawuf. Dalam penulisannya, Kiai Misbah selalu mencantumkan asbāb al-nuzūl, munasabah, dan menjelaskan berbagai makna kata, hadis-hadis atau riwayat Nabi, sahabat, serta tabiin.
Corak penafsiran dalam al-Iklīl ini terlihat sangat didominasi dari sudut pandang kenusantaraan, budaya, dan unsur lokalitasnya baik dalam penulisan, komunikasi, maupun penafsiran. Tradisi pesisir pesantren sebagai ruang asal di mana tafsir ini lahir berpengaruh terhadap ciri khas dan karakteristik tafsir al-Iklīl.

Tafsir ini ditulis pada tahun 1977 dan selesai tahun 1985 di Bangilan, Tuban, Jawa Timur. Tahun-tahun ini merupakan fase munculnya kaum pembaharu dan modernis Islam. Untuk itulah, tafsir ini dikarang dan disesuaikan dengan kondisi sosial historis masa itu.
Aspek lokalitas dalam tafsir ini sangat kental dan kuat. Hal ini bisa dilihat penggunaan aksara Arab pegon dengan Bahasa Jawa. Kemudian, dalam menerjemahkan, Kiai Miṣbah menggunakan dua model. Pertama, penerjemahan menggunakan makna gandhul, yaitu ditulis miring ke kiri. Setiap kata dalam teks asli dituliskan maknanya dalam bahasa Jawa yang ditulis menurun miring ke sebelah kiri. Kedua, terjemahan naratif di bawah makna gandhul yang ditulis dengan aksara Arab pegon seperti, Al-Qur`an terjemah pada umumnya. Bedanya, Kiai Misbah menulis dengan aksara pegon berbahasa Jawa, bukan aksara latin.
Sebagai buah tradisi pesantren pesisiran , tafsir ini menggunakan aksara Jawa pegon dan makna gandhul. Hal ini layak memperolah apresiasi jila melihat penafsiran saat itu mayoritas berbahasa Arab atau Indonesia. Dengan menggunakan bahasa daerah, diharapkan masyarakat mampu mencerna dan memahami dengan baik.
Tafsir ini juga mementingkan penggunaan tindak usuk atau speech level atau penyesuaian bahasa sesuai hierarki. Penggunaan makna gandhul sebagai model analisis gramatika Arab menjadi strategi belajar yang memiliki banyak manfaat sekaligus. Selain dapat mengetahui makna dasar, makna tafsiriyah juga dapat untuk mempelajari mengenai kedudukan setiap kata dalam ayat.
Kiai Misbah memiliki metode yang unik dan membagi penafsiran menjadi dua ranah bagian. Penafsiran yang terperinci menggunakan garis tebal, sedangkan penafsiran yang umum ditandai dengan garis tipis horizontal (mendatar).
