Alain Badiou: Kembali ke Filsafat, Kebenaran, dan Subjek

Alain Badiou memberi darah segar pada filsafat, menghidupkan, dan menggairahkannya. Dengan menggunakan matematika, ia membuka jalan bagi kembalinya filsafat, juga kebenaran dan subjek. Ia menyuburkan lagi hasrat filsafat dengan menafsir ulang pemikiran para filsuf Yunani kuno. Dengan analisis implikasi logis dari pemikiran Herakleitos, Parmenides, Plato, dan Aristoteles, ia mendefinisikan ulang “Ada” (being) dan ontologi. Dengan menarik implikasi dari logika Aristotelian, ia merumuskan ulang kebenaran. Dengan melampaui konsep kebenaran dari Heidegger dan ego semu dari Lacan, ia menemukan subjek dalam wataknya yang baru. Semua itu dirunutnya dengan matematika dan hasrat untuk memecah kebekuan filsafat akibat “pembunuhan-pembunuhan” yang dilakukan poststrukturalisme.

Badiou kini dikenal sebagai filsuf Prancis paling orisinal, terutama setelah karya-karyanya diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Lelaki kelahiran Rabbat, Maroko, tahun 1937 ini dikenal juga sebagai filsuf sayap-kiri Prancis terkemuka. Ia terlibat dalam gerakan mahasiswa Prancis pada Mei 1968, mengorganisasi kelompok komunis dan Maoist seperti UCFML. Di tahun 1969 ia menjadi pengajar di University of Paris VIII (Vincennes-Saint Denis) yang merupakan pendukung pemikiran counter-cultural. Di sana ia terlibat aktif dalam berbagai perdebatan sengit dengan Louis Althusser, Gilles Deleuze, dan Jean-François Lyotard yang menurutnya merupakan para penganjur filsafat kiri yang ia anggap sebagai penyimpangan tak sehat dari jalur-utama Marxisme.

Badiou secara formal dididik sebagai matematikawan di École Normale Supérieure (1956–1961) yang belakangan jadi tempatnya bekerja sebagai Kepala Departemen Filsafat. Sejak muda ia terlibat intensif dalam persoalan politik dan merupakan anggota pendiri dari United Socialist Party (PSU), sebuah organisasi turunan dari Partai Komunis Prancis yang aktif memperjuangkan dekolonisasi Algeria. Dalam dekade 1960-an, minat Badiou meluas. Ia menulis novel di tahun 1964 dan mulai belajar filsafat yang akhirnya menjadi fokus utamanya. Di tahun 1967, ia bergabung dalam kelompok studi yang dikelola oleh Louis Althuser dan tumbuh di bawah pengaruh pemikiran Jacques Lacan. Sebelumnya ia sempat menjadi murid Jean Paul Sartre dan belajar filsafat eksistensialis dari tokoh yang mempopulerkan eksistensialisme itu. Dari sana, modal filsafat ia dapat dan terus digarapnya hingga saat ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Filsafat Badiou terus berkembang, melampaui berbagai pemikiran yang sempat mempengaruhinya. Berangkat dari filsafat tradisi hermeneutik Gadamerian dan Hedegerian, filsafat analitik, juga pemikiran postmodenisme, ia mengembangkan pemikiran orisinal yang dituangkannya dalam buku Etre et l’Evenemen (Being and Event) di tahun 1988. Dalam karya monumental itu, ia merumuskan kembali filsafat yang mencakup ontologi (kajian tentang “ada”), kebenaran, dan subjek. Dari pernyataan-pernyataannya di buku itu, ia juga menurunkan berbagai pemikiran tentang politik, etika, dan estetika yang dituangkannya masing-masing dalam karya tersendiri.

Tujuan Badiou dalam berfilsafat menurut Peter Hallward (2003) dalam buku Badiou: A Subject to Truth adalah:

“…salvage reason from positivism, the subject from deconstruction, being from Heidegger, the infinite from theology, the event from Deleuze, revolution from Stalin, a critique of the state from Foucault, … and the affirmation of love from American popular culture. He asserts a philosophy of the subject without recourse to phenomenology, a philosophy of truth without recourse to adequation, a philosophy of the event without recourse to historicism.”

Bagi Badiou, imperatif paling fundamental yang mendasari antagonisme penyelamatan itu adalah filsafat harus menyediakan tempat yang aman untuk pikiran dan memampukan kita untuk terus berpikir. Agar dapat melakukan perjalanan kembali kepada kebenaran dan menggairahkan pemikiran filosofis mengatasi kepasifan yang dewasa ini melanda bidang filsafat, Badiou menegaskan bahwa filsafat harus menegakkan dirinya di luar representasi atau bahasa sambil menolak setiap Lian (The Other) yang mistik, menolak yang transenden. Persoalan ontologis ini menuntut rekonsiliasi ontologi dengan doktrin baru tentang subjek.

Being and Event, karya utama Badiou, memaparkan proyeknya menegaskan jalan bagi filsafat untuk memahami kemajemukan murni. Ia memanfaatkan perkembangan dalam matematika dengan langkah-langkah aksiomatik dalam memahami ketakterbatasan. Buat Badiou, teori himpunan transfinit dari Cantor membangunkannya dari “tidur nyenyak Sartrean” dan menyediakan apa yang ia sebut “kejadian” kebenaran (‘event’ of truth), membuka dan membongkar kemacetan ontologi modern.

Dalam pelukan kebenaran, Badiou mencermati kemanjuran aksioma yang ditegakkan teori himpunan dan menggunakannya untuk merumuskan kembali ontologi. Rumusan itu tertuang dalam Being and Event. Di sana kita temukan paparan argumentasi bahwa konsepsi matematik secara memadai dapat digunakan untuk pencaritahuan ontologis melampaui konsepsi metafisik dan etis. Bagi Badiou, ontologi adalah matematika. Lebih jauh lagi, matematika sebagai “presentasi murni” (atau presentasi dari presentasi dan dengan demikian juga presentasi dari yang tiada (nothing)), meleluasakan kita untuk memikirkan “kemajemukan inkonsisten” (inconsistent multiplicity), memikirkan kumpulan murni tanpa meminta bantuan dari “Yang Satu” (the One). Dengan penegasan ini, Badiou menemukan jalan untuk menyelamatkan subjek dan filsafat dari kepasifan dan perbudakan oleh Lian di satu sisi, dan kekerasan yang menyeluruh dari imperialisme cogito dan “Ada” (Being) di sisi lain.

Menurut Hallward (2003), pemikiran Badiou dalam Being and Event dapat dibaca sebagai artikulasi dari filsafat inovatif yang mencakup tiga topik umum: (1) “ada”, dalam ranah ontologi (sebagai matematika) sebagai inspirasi untuk memikirkan kemajemukan murni dan infinitas kebenaran; (2)  kebenaran, ranah filsafat yang menemu-kenali “kejadian” (event) tercapainya kebenaran dan memungkinkan tampilnya subjek; serta (3) subjek, ranah etika yang menjelaskan keyakinan dari tampilnya subjek yang diraih oleh kejadian kebenaran, serta keterikatan pada apa yang disebut “prosedur-kebenaran” (‘truth-procedures’).

Alain Badiou

Empat Dimensi Hasrat Filsafat

Dengan paparan rumusan baru dari “ada”, kebenaran, dan subjek dalam Being and Event, Badiou mengembalikan filsafat kepada hasratnya seperti yang ditampilkan oleh para pelopornya di masa Yunani Kuno. Tetapi, wajah filsafat tidak lagi sama dengan sebelumnya, melainkan wajah yang baru, wajah filsafat yang dibutuhkan dunia saat ini.

Bagi Badiou (2003), filsafat adalah semacam pemberontakan logis. Filsafat melontarkan pikiran melawan ketidak-adilan, melawan keadaan dunia dan kehidupan yang rusak. Lontaran pikiran itu menggunakan logika baru, logika yang mengatasi cara pikir lama yang menjadi sumber ketidak-adilan. Lebih jauh lagi, pikiran-pikiran yang dilontarkan filsafat juga hendak mencakup yang universal. Berbasis pada komitmen yang dipegang dalam situasi yang mengandung kemungkinan lain, filsafat juga merupakan pertaruhan atau risiko.

Dari pemahaman terhadap filsafat tersebut, dapat dipahami empat dimensi dari hasrat filsafat: (1) pemberontakan (revolt); (2) logika; (3) univesalitas; dan (4) risiko. Tidak ada filsafat yang tidak mengandung kekecewaan terhadap dunia yang sedang dihadapi. Setiap filsafat merupakan pikiran yang menyatakan kekecewaan atau ketidakpuasan terhadap pemikiran sebelumnya. Filsafat selalu mengandung pikiran berkonfrontasi dengan dunia yang dihadapinya. Dengan kata lain, filsafat selalu merupakan pemberontakan terhadap dunia yang sedang dihadapi. Hasrat berfilsafat selalu mencakup logika. Artinya, filsafat selalu memegang keyakinan akan daya argumen dan penalaran. Logika yang digunakan dalam filsafat merupakan logika baru untuk zamannya.

Lalu, hasrat filsafat juga mencakup universalitas. Artinya, filsafat menganggap semua manusia sebagai makhluk yang berpikir dan mampu memahami pemikiran yang dikandung filsafat. Dengan demikian, pemikiran filsafat yang diajukan untuk menanggapi dunia, meski menggunakan logika baru, semestinya dapat dipahami sebagai pemikiran universal. Terakhir, filsafat mengambil risiko. Pemikiran filsafat selalu merupakan keputusan yang mendukung sudut pandang baru.

Hasrat filsafat yang sudah diungkapkan sejak zaman Yunani Kuno, terutama sangat jelas tampak pada pemikiran Parmenides, kini perwujudannya menghadapi tantangan. Menurut Badiou (2003), dunia kontemporer tempat kita hidup sekarang memberi tekanan intensif yang menghambat empat dimensi hasrat filsafat. Pada dimensi pemberontakan, dunia kini tidak menempatkan pikiran sebagai pemberontakan dengan dua alasan. Pertama, saat ini dunia sudah mencanangkan diri sebagai wilayah bebas; dunia menampilkan dirinya sebagai “dunia bebas”. Semua yang berbentuk dan berbau penindasan terus-menerus direduksi. Kedua, dunia yang kita tempati kini menstandarisasi dan mengkomersilkan nilai kebebasan. Dunia menyajikan kebebasan dalam bentuk keseragaman moneter, dan dengan keberhasilan penyajian itu, dunia tidak memerlukan lagi pemberontakan sebab kebebasan dijamin di dalamnya. Tetapi, dunia tidak menjamin kita untuk bebas menggunakan kebebasan sebab penggunaannya sudah dikodekan dalam kenyataan, diarahkan dan disalurkan pada gemerlap  objek dagangan. Kebebasan tidak lagi berfungsi sebagai keleluasaan kita beraktivitas, melainkan sebagai komoditi atau efek dari konsumsi komoditi. Itu sebabnya dunia kontemporer kita menekan secara intensif gagasan berpikir sebagai upaya bebas dari subordinasi atau pemberontakan.

Tekanan kuat juga ditujukan oleh dunia kontemporer terhadap dimensi logika dari hasrat filsafat. Hal ini terjadi karena dunia kini tersaji sebagai rezim komunikasi tak-logis yang mengakar dalam kehidupan warganya. Komunikasi memancarkan sebuah semesta yang terbuat dari berbagai citra, catatan, pernyataan, dan komentar yang tak berhubungan satu sama lain. Prinsip inkoheren diterima sebagai dasar bagi praktik komunikasi dalam keseharian kita. Komunikasi yang berlangsung membatalkan semua relasi dan prinsip. Berbagai relasi antarunsur komunikasi berpencar sendiri-sendiri dan mengabur dalam keserba-bolehan dan kesemena-menaan makna. Komunikasi dewasa ini menampilkan dunia kepada kita sebagai rintangan yang menghambat terbentuknya ingatan. Setiap citra dan catatan baru menutupi, menghapus, dan menggempur yang terdahulu sehingga ingatan tak bisa dimantapkan dan apa yang sudah dipersepsi terlupakan. Logika tak bisa ditegakkan sebab unsur-unsurnya selalu kabur dan tak dapat diolah. Komunikasi dalam dunia kontemporer memberi tekanan berat bagi kesetiaan pikiran kepada logika dan mengarahkan kita kepada jenis diseminasi imajiner yang tak berjejak pada kenyataan.

Dimensi universal dari hasrat filsafat pun tidak lagi cocok bagi dunia sekarang, sebab dunia secara esensial terspesialisasi dan terpecah-pecah. Keterpecahan itu merupakan respons terhadap tuntutan pemilahan tak terhitung dari konfigurasi teknis benda-benda, juga pemilahan peranti produksi, distribusi pendapatan, keragaman fungsi, dan keterampilan. Persyaratan dari spesialisasi dan keterpecahan ini menyulitkan kita untuk mempersepsi apa yang bisa jadi merupakan irisan atau universal. Dengan demikian, apa yang mungkin valid bagi semua pikiran, yang universal, menjadi sulit untuk dipahami dan dicapai.

Akhirnya, dimensi risiko dari hasrat filsafat juga tak sesuai dengan dunia kontemporer, sebab di dalamnya tak ada lagi orang yang mau merisikokan dirinya untuk mengambil kesempatan dari keadaan yang belum pasti. Hidup orang-orang kini diabdikan kepada perhitungan keamanan. Orang-orang terobsesi oleh keamanan hidup di dunia. Tak ada yang berani bertaruh untuk kemungkinan yang lebih baik, sebab dunia sendiri dipersepsikan sebagai wilayah yang mengandung risiko tak terhitung banyaknya. Persepsi ini mencekam orang-orang dan mendorong mereka untuk menghindari risiko. Mereka meniscayakan perhitungan realistik, mendambakan keamanan dalam hidupnya.

Lalu bagaimana filsafat menghadapi tekanan-tekanan itu? Apakah itu artinya filsafat berakhir? Bagaimana dengan pemikiran-pemikiran yang terkandung filsafat kontemporer? Apakah filsafat kontemporer tidak cukup memadai digunakan untuk mengatasi tekanan-tekanan itu?

Merujuk Badiou (2003), secara selayang pandang ada tiga orientasi utama dalam filsafat kontemporer, yaitu (1) orientasi hermeneutik yang secara historis dilacak jejak awalnya pada romantisme Jerman dengan Heidegger dan Gadamer sebagai tokoh utamanya; (2) orientasi analitik yang berasal dari Lingkaran Wina tetapi berkembang pesat mendominasi filsafat akademik Inggris dan Amerika, dengan tokoh utamanya Wittgenstein dan Carnap; dan terakhir, (3) orientasi postmodern yang pada faktanya mengambil pemikiran dasar dari dua orientasi terdahulu, dengan tokoh utamanya pemikir Prancis Jacques Derrida dan Jean-François Lyotard.

Orientasi hermeneutik memperlakukan filsafat sebagai upaya untuk memahami makna dari “Ada” (Being). Orientasi ini menjadikan makna “Ada-di-dunia” (Being-in-the-world) sebagai kajian filsafat dan konsep sentralnya adalah penafsiran (interpretation). Menurut orientasi ini, filsafat harus dapat menyediakan metode penafsiran yang dapat memperjelas kekaburan makna dan menampilkan makna otentik, makna yang akan memperjelas takdir kita sebagai suatu keberadaan di dunia. Filsafat hermeneutik memandang ada sesuatu yang tersembunyi dan tertutup di dunia. Tujuan penafsiran adalah menyibak selubung yang menutupi sesuatu itu dan membukanya sehingga maknanya menjadi jelas.

Orientasi analitik berpegang pada pendapat bahwa tujuan filsafat adalah memberikan demarkasi yang ketat bagi ucapan yang bermakna dan ucapan yang tidak bermakna. Filsafat, dalam pandangan orientasi ini, harus mampu membedakan apa yang dapat dikatakan dan apa yang tidak mungkin atau tidak sahih untuk dikatakan. Instrumen esensial dari filsafat analitik adalah analisis logis dan gramatikal dari ucapan, dan lebih jauh lagi, dari keseluruhan bahasa. Konsep sentranya adalah “aturan”. Tugas filsafat, menurut filsafat analitik, adalah menemukan aturan yang memastikan sebuah kesepakatan tentang makna. Bagi orientasi analitik, filsafat merupakan alat untuk terapi dan kritik, obat yang menyembuhkan manusia dari ilusi dan penyimpangan bahasa yang membelah kita dengan mengisolasi apa yang tidak memiliki makna, dan dengan mengembalikan aturan yang jelas bagi semua orang.

Terakhir, orientasi postmodern berpegang pada asumsi bahwa tujuan filsafat adalah untuk dekonstruksi berbagai fakta yang diterima oleh modernisme, khususnya pemikiran-pemikiran hasil konstruksi para pemikir abad ke-19. Ide-ide seperti subjek sejarah, kemajuan, revolusi, kemanusiaan, dan sains ideal dinyatakan mati dan tidak lagi bisa jadi pegangan bagi manusia dalam menjalani hidupnya. Secara umum, filsafat postmodern mendekonstruksi ide totalitas. Konsekuensinya, orientasi ini mengaktifkan apa yang disebut praktik-praktik campuran, de-totalisasi, atau pikiran tak-murni.

Badiou (2003) melihat adanya dua kesamaan fitur dari ketiga orientasi tersebut. Pertama, fitur negatif. Ketiga orientasi itu berpegang pada pendapat yang menyatakan bahwa kita berada di akhir metafisika, bahwa filsafat tidak lagi berada dalam posisi mempertahankan locus classicus atau proposisi-proposisi metafisik. Dalam arti lain, ketiga orientasi itu memandang bahwa filsafat sedang berada di situasi berakhirnya filsafat. Sebagai contoh: Heidegger menegaskan berakhirnya metafisika; Carnap mengumumkan berakhirnya kemungkinan metafisika sebab baginya metafisika mengandung tidak lebih dari ucapan yang tak-beraturan dan tanpa makna; dan Jean-François Lyotard menyatakan bahwa narasi-narasi besar telah berakhir yang berarti berakhirnya konfigurasi besar dari subjek dan sejarah yang sebelumnya diasosiasikan dengan metafisika modern. Dengan menegaskan berakhirnya metafisika, ketiga orientasi ini sekaligus juga mengakhiri ideal kebenaran yang pernah dimantapkan oleh filsafat klasik. Untuk mengganti ide kebenaran, menurut mereka, kita harus menggantinya dengan ide pluralitas makna.

Kedua, fitur positif. Ketiga orientasi tersebut menempatkan bahasa sebagai topik sentral dalam filsafat. Filsafat-filsafat yang tercakup dalam ketiga orientasi itu secara prinsipil telah menjadi meditasi tentang bahasa, tentang kapasitas, aturan-aturan, dan otoritasnya.

Dua fitur tersebut membentuk dua aksioma yang menjadi dasar bagi pemikiran filosofis ketiga orientasi itu, yaitu: (1) aksioma negatif: metafisika kebenaran merupakan hal yang tidak mungkin; dan (2) aksioma positif: bahasa adalah situs krusial bagi pikiran sebab bahasa adalah tempat pertanyaan tentang makna berlangsung.

Bagi Badiou, kedua aksioma tersebut mewakili bahaya nyata bagi pemikiran secara umum dan bagi filsafat khususnya. Kedua aksioma itu mengimplikasi ketidakmampuan filsafat untuk mempertahankan empat dimensi hasratnya. Jika filsafat secara esensial merupakan meditasi tentang bahasa, makan filsafat tidak akan berhasil menyingkirkan rintangan spesialisasi dan keterpecahan yang merupakan oposisi dari universalitas. Menerima semesta bahasa sebagai horison mutlak dari pemikiran filosofis pada praktiknya adalah menerima keterpecahan dan ilusi komunikasi. Itu sama saja dengan menyatakan bahwa kebenaran dari dunia kita terletak pada bahasa-bahasa yang digunakan berbagai komunitas, dan itu artinya ada banyak kebenaran, juga ada banyak aktivitas atau jenis pengetahuan. Jelas ini bertentangan dengan hasrat filsafat.

Pengabaian kategori kebenaran menjadikan filsafat tidak mampu mengatasi rintangan berupa subordinasi dunia oleh perdagangan uang dan informasi. Itu artinya filsafat tidak dapat mempertahankan dan mewujudkan hasrat pemberontakan, tidak dapat mengajukan interupsi kepada dunia. Jika ingin mempertahankan hasratnya, filsafat harus mengajukan sebuah prinsip interupsi, harus mampu menawarkan kepada pikiran sesuatu yang dapat menginterupsi rejim sirkulasi tak berujung. Filsafat harus mengkaji kemungkinan adanya titik interupsi karena pikiran setidaknya mesti mampu mengekstrak dirinya dari sirkulasi itu dan menjadikan dirinya sebagai sesuatu yang bukan objek dari sirkulasi.

Absennya prinsip kebenaran juga bisa menutup kemungkinan filsafat mempertahankan dimensi risiko. Kesempatan filsafat untuk menang dalam menghadapi berbagai risiko terletak pada prinsip kebenaran. Dengan hilangnya prinsip kebenaran, harapan akan kemenangan pupus dan orang akan menolak untuk mengambil risiko atau melakukan pertaruhan eksistensial karena tidak ada kemungkinan menang. Mereka lebih memilih perhitungan realistik yang membawa kepada keamanan hidup.

Tinggalkan Balasan