Alain Badiou: Kembali ke Filsafat, Kebenaran, dan Subjek

Menurut Badiou dalam Being and Event (2005), kebenaran merupakan proses militan yang dimulai dari waktu dan tempat khusus dalam sebuah situasi, lalu setahap demi setahap mencapai transformasi situasi itu yang sejalan dengan bentuk-bentuk baru dari prinsip-prinsip egalitarian. Hanya komitmen murni, terpisah dari mediasi psikologis, sosial atau objektif mana pun, yang dapat menjadi kendaraan yang mencukupi untuk sebuah kebenaran, tetapi secara resiprokal, hanya sebuah kebenaran universal yang memadai dan berkualitas yang berharga untuk dikejar komitmen macam itu. Hanya kebenaran yang dapat menggugah dan memunculkan subjek dengan komitmen yang sungguh-sungguh.

Badiou mengajukan konsep kebenaran baru yang berbeda dari konsep-konsep terdahulu. Konsep baru ini tidak membuang konsep-konsep terdahulu yang dikemukakan para filsuf sebelum Badiou, melainkan melampaui itu semua. Ia berangkat dari konsep kebenaran yang dikemukakan Heidegger, lalu dilampauinya dengan menggunakan konsep kebenaran ala filsafat analitik, kemudian dengan dasar ontologinya konsep-konsep itu disintesis dan ditransformasi menjadi konsep kebenaran yang original.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Secara ringkas, konsep kebenaran dari Badiou dapat kita temukan dalam eseinya Philosophy and Truth yang dimuat dalam buku Infinite Thought (2003), juga dalam wawancaranya di European Graduate School Faculty (Agustus, 2002). “Truth is first of all something new,” begitu premis pertama Badiou tentang kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang baru; sesuatu yang baru diungkap, baru dikenali, baru ditemukan. Apa yang disebarkan, apa yang diulang adalah pengetahuan, bukan kebenaran. Membedakan pengetahuan dari kebenaran, bagi Badiou, adalah hal yang esensial. Jauh-jauh hari, pembedaan itu sudah dilakukan Kant yang membedakan rasio (Vernunft) dari pengertian (Verstand), juga dilakukan Heidegger yang membedakan kebenaran sebagai penyingkapan (aletheia) dari pengertian sebagai kognisi, sains atau techne. Aletheia secara memadai selalu merupakan awal, yang pertama. Techne selalu keberlanjutan, penerapan, sebuah pengulangan. Itu alasan mengapa Heidegger menyatakan bahwa penyair kebenaran adalah selalu merupakan penyair yang memberikan pagi kepada dunia; yang memberikan kebaruan pada umat manusia. Dalam ungkapan  Heidegger, “The poet always speaks as if the being was expressed for the first time.”

Badiou mengambil implikasi dari pernyataan Heidegger tentang kebenaran, “Jika semua kebenaran adalah sesuatu yang baru, apa masalah filosofis esensial yang memadai dalam kaitannya dengan kebenaran?” Jawabannya adalah masalah kemunculan dan kemenjadiannya. Kebenaran harus disajikan kepada pikiran bukan sebagai putusan (judgment) atau proposisi, melainkan sebagai proses nyata. Skema yang ada dalam pikiran mewakili proses terjadinya kebenaran. Apa yang dipikirkan atau dikatakan bukanlah kebenaran, melainkan representasi kebenaran, skema dari proses terjadinya kebenaran. Agar proses kebenaran mulai, sesuatu harus terjadi.  Pengetahuan hanyalah memberi kita pengulangan, hanya menunjukkan apa yang sudah ada.

Agar kebenaran mengafirmasi kebenaran, harus ada sebuah tambahan lain, sebuah suplemen (tambahan yang berbeda dari apa yang ditambahi; pelengkap baru). Tambahan ini adalah kesetiaan kepada kemungkinan, kepada yang tak teramalkan, tak terkalkulasi, kepada apa yang mungkin melampaui itu semua. Badiou menyebut kemungkinan yang melampaui semua itu sebagai kejadian (event). Kebenaran muncul dalam kebaruannya sebab ada suplemen kejadian yang mengiterupsi pengulangan. Contohnya, munculnya tragedi teatrikal dengan Aeschylus, berubahnya fisika matematik bersama Galileo, petemuan cinta antara dua orang yang mengubah seluruh hidup, atau Revolusi Prancis 1972 dengan semboyan “kebebasan, kesetaraan, persaudaraan”. Sebuah kejadian terkait dengan gagasan yang tak-dapat-diputuskan, yang tak dapat dinilai dengan aturan yang ada. Badiou menyatakan, “Kejadian ini milik situasi.” Kita bisa menegakkan pengetahuan dan menentukan kalimat itu benar atau salah. Tetapi kita tak dapat menentukan kejadian, jika dapat kita putuskan benar atau salah, maka itu bukan kejadian, melainkan sesuatu yang dapat diduga dan dikalkulasi dalam situasi. Sebuah kejadian tak dapat diberi putusan benar atau salah. Kita tak bisa mengatakan secara pasti, “Di sini kebenaran mulai.” Kejadian kebenaran dimulai dengan pertaruhan, dimulai dari kejadian yang tak-dapat-diputuskan. Orang harus bertaruh terlebih dahulu untuk menghasilkan kebenaran.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa kebenaran dimulai dengan aksioma kebenaran, dengan sesuatu yang tak dapat dibuktikan benar atau salahnya dalam kenyataan. Kebenaran dimulai dengan keputusan untuk mengatakan bahwa kejadian sedang berlangsung. Fakta bahwa kejadian tak-dapat-diputuskan merupakan batas bagi tampilnya subjek dari kejadian. Subjek semacam itu dibentuk oleh kalimat dalam bentuk pertaruhan, “Ada yang sedang berlangsung yang tak dapat saya perhitungkan, tidak juga dapat didemonstrasikan, tetapi saya meyakininya dan setia padanya.”

Dalam pemahaman Badiou, subjek adalah “a relation between an event and the world.”  Subjek adalah apa yang sesungguhnya terjadi ketika orang memiliki kreasi, sebuah proses baru, kejadian dari sesuatu sebagai konsekuensi apa yang terjadi di dunia. Hubungan antara kejadian dan dunia dalam pengertian subjek itu bukanlah hubungan langsung sebab di satu sisi, sebuah kejadian menghilang, dan di sisi lain kita tak pernah punya hubungan dengan keseluruhan dunia. Hubungan itu adalah hubungan tak langsung antara sesuatu dalam kejadian dan sesuatu dalam dunia. Ia adalah hubungan antara ‘jejak’ dan ‘tubuh’. Tepatnya, hubungan baru antara ‘jejak’ dan ‘tubuh’. Jejak adalah apa yang bertahan di dunia ketika kejadian menghilang; sesuatu dari kejadian tetapi bukan kejadian itu sendiri; sebuah tanda, simptom. Sedangkan tubuh adalah bagian fisik dari orang. Hubungan baru antara jejak dan tubuh itu adalah subjek ketika dihasilkan ‘tubuh baru’ dari situ. ‘Tubuh baru’ adalah realitas dari subjek di dunia, pendukung subjek. Sebagai hubungan baru antara jejak dan tubuh, subjek adalah konstruksi di dalam sebuah dunia, konstruksi tubuh baru, sekaligus juridiksi baru yaitu komitmen pada jejak. Ketika hubungan itu berlanjut, ia menjadi proses hubungan antara jejak dan tubuh yang disebut Badiou sebagai subjek baru.

Subjek dimulai dengan tindakan memastikan kejadian yang tak-dapat-diputuskan dan oleh sebab itu ia mengambil risiko untuk memutuskannya. Keputusan ini memulai prosedur tak terbatas pembuktian kebenaran. Orang lalu melakukan pengkajian terhadap keputusannya dan itu merupakan konsekuensi dari aksioma yang memberi putusan terhadap kejadian. Pengkajian itu merupakan latihan kesetiaan (fidelity). Tak ada aturan yang bisa menjelaskan penyebabnya karena aksioma adalah pernyataan yang ditentukan secara arbriter di luar aturan pembentukan pengetahuan apapun. Aksioma diformulasi dalam sebuah pilihan murni, komitmen pada kemungkinan, butir demi butir.

Pilihan murni menurut Badiou adalah pilihan tanpa konsep. Pilihan ini berhadapan dengan ‘dua istilah yang tak terpahamkan’ (two indiscernible terms), ‘ini atau itu’. Dua istilah tak terpahamkan jika tidak ada formasi bahasa yang memungkinkan pembedaan terhadap keduanya. Namun jika tak ada formasi bahasa yang dapat memahami dua istilah dari situasi, maka jelas bahwa pilihan untuk membuktikan secara tepat satu istilah dari istilah lainnya tidak memiliki dukungan objektif yang bisa mempertahankannya. Dengan demikian yang dilakukan adalah pilihan murni mutlak, bebas dari dugaan atau asumsi lain yang mendahuluinya, tanpa indikasi dari istilah-istilah yang diajukan, dan tanpa petunjuk yang dapat mengenalinya. Istilah yang satu tak dapat dipahami hubungannya secara objektif dengan istilah yang lain. Orang yang terlibat untuk menghasilkan subjek kebenaran seperti melempar dadu, tidak dapat memastikan secara objektif apa yang akan muncul. Dengan kata lain, kemunculan subjek kebenaran menuntut adanya yang-tak-dapat-dipahami (the indiscernible). Ada koneksi antara subjek di satu sisi dan yang-tak-dapat-dipahami di sisi lain. Yang-tak-dapat-dipahami mengorganisasi titik murni dari subjek dalam proses pembuktian kebenaran. Pembuktian itu bukan pada apa yang dinyatakan orang yang menjadi subjek, melainkan pada apa yang terjadi dalam kenyataannya. Yang perlu dimiliki subjek adalah kesetiaan kepada aksioma kebenaran yang dipilihnya, bahwa kejadian itu merupakan kejadian yang menghasilkan kebenaran.

Aksioma yang ditegakkan melalui pilihan murni itu adalah aksioma tentang sesuatu yang kongkret dan terjadi di sini, sesuatu yang finit, terbatas. Satu istilah yang menunjuk kepada kejadian, yang-tak-dapat-dipahami, memungkinkan istilah yang lain yang belum terjadi dan juga tak dapat dipahami. Tindakan ini adalah tindakan lokal dari kebenaran, menunjuk pada apa yang ada di sini. Tindakan semacam ini merupakan pilihan murni di antara yang-tak-dapat-dipahami. Badiou memberi contoh Sophocles sebagai subjek dari kebenaran artistik, pelopor tragedi Yunani. Kebenaran itu dimulai dengan kejadian Aeschylus, sebuah kreasi seni yang merupakan pilihan murni di hadapan yang-tak-dapat-dipahami. Meskipun karya ini finit, sebagai kebenaran artistik, tragedi terus berlanjut tak terbatas. Begitu juga kebenaran ilmiah yang dicapai Galileo.

Subjek yang terbatas dalam lokalitas tertentu menghadapi kejadian yang tak-dapat-diputuskan mengajukan aksioma berhadapan dengan yang-tak-dapat-dipahami, melanjutkan pembuktian untuk menghasilkan kebenaran. Itu terjadi sebagai pilihan murni. Lalu, sedikit demi sedikit, pilihan ini mulai menjadi kerangka yang menunjukkan bentuknya, menunjukkan batas yang memilahnya dari yang lain, membentuk himpunan bagian dari situasi. Jelas bahwa himpunan bagian ini infinit, tak terbatas, tetap tak berakhir. Jika pun kita mengandaikan itu berakhir, maka tak terhindarkan itu akan menjadi himpunan bagian tanpa predikat yang menyatukannya dengan himpunan induknya. Himpunan bagian itu tak dapat ditotalisasi, juga tak dapat dikonstruksi atau dinamai dengan bahasa dari situasi. Himpunan macam ini disebut himpunan bagian generik. Kita dapat mengatakan bahwa kebenaran, kalau pun kita mengandaikan identitas akhirnya, adalah generik.

Pada kenyataannya, sama sekali tidak mungkin jika suksesi pilihan murni menghasilkan sebuah himpunan bagian yang dapat disatukan di bawah predikasi tertentu. Jika konstruksi kebenaran dapat diulang dengan properti yang jelas, maka pemahaman tentang kebenaran akan menjadi sebuah pengelolaan yang secara rahasia diatur oleh hukum tertentu. ‘Yang-tak-dapat-dipahami’, tempat subjek menemukan tindakannya, akan menjadi kenyataan yang dapat dikenali oleh pemahaman superior. Tetapi tak ada hukum seperti itu dan tak ada tuhan kebenaran, tidak ada pemahaman superior. Oleh karena itu pola kebenaran tak dapat dicocokkan dalam ketidak-terbatasannya dengan konsep apapun. Dengan demikian istilah yang sudah dibuktikan atau yang akan dibuat merupakan himpunan bagian generik dari situasi. Singkatnya, sebuah kebenaran selalu bersifat generik.

Hukum kebenaran tak dapat dipahami secara jelas, bahkan menurut Badiou dapat dikatakan tak ada hukum. Tak ada hukum yang mengatur sains, politik, cinta atau seni yang oleh Badiou ditunjuk sebagai empat ranah tempat dihasilkannya kebenaran. Yang terjadi dalam kejadian kebenaran adalah kita dapat mengantisipasi ide kebenaran generik yang lengkap.  ‘Ada’ dari kebenaran adalah himpunan generik dari pengetahuan, praktek, seni dan sebagainya, tetapi kita tidak dapat memiliki formula khas untuk menghasilkan himpunan itu sebab ia bersifat generik. Tidak ada predikat untuk itu. Kita hanya dapat mengantisipasinya, bukan sebagai kenyataan, melainkan sebagai fiksi. ‘Ada’ generik dari kebenaran sebagai himpunan bagian generik tidak pernah terpresentasikan. Kita tak punya presentasi kebenaran yang lengkap sebab kebenaran tak-dapat-dilengkapi, tetapi kita dapat mengetahui secara formal bahwa kebenaran selalu mengambil tempat sebagai ketak-terbatasan generik.

Subjek dapat membuat hipotesis tentang situasi tempat kebenaran melengkapi totalisasi generiknya sebagai titik lokal tempat beradanya subjek. Selalu ada kemungkinan bagi subjek untuk mengantisipasi totalisasi ‘ada’ generik dari kebenaran. Hipotesis antisipasi itu, merujuk Badiou, disebut sebuah dorongan (forcing), fiksi yang berkekuatan untuk melengkapi kebenaran.[1]

Konstruksi kebenaran dibuat melalui pilihan dalam yang-tak-dapat-dipahami, dibuat secara lokal dalam keterbatasan, tetapi potensinya tergantung dari daya dorong hipotetis. Dalam sebuah ‘pilihan yang terbatas’ hanya ada konstruksi kebenaran, sedangkan dalam ‘antisipasi tak terbatas dari kebenaran lengkap’ ada kekuatan yang menggerakkan untuk terus menerus melengkapi kebenaran dan menjadikannya universal. Seberapa jauh dorongan hipotesis menggerakkan pelengkapan kebenaran? Badiou menyatakan, sampai pada satu titik nyata dalam situasi ‘yang-tak-dapat-dinamai’ (the unnameable), titik yang tak punya nama, kenyataan yang tak dapat diungkapkan dengan bahasa, sesuatu yang tak bisa dipaparkan atribut-atribut identitasnya. Dengan demikian, hipotesis itu akan terus menggerakkan karena yang-tak-dapat-dinamai tetap tak ternamai, tak dipahami identitasnya secara lengkap.

Memberi nama dan memaksakan identitas pada yang-tak-dapat-dinamai merupakan ‘yang jahat’ (evil). Akar dari yang jahat atau kedurjanaan adalah pemaksaan totalitas, pemaksaan memberi identitas yang final terhadap yang-tak-dapat-dinamai. Yang jahat adalah kehendak yang dipaksakan apapun bayarannya. Yang jahat mengambil bentuk dalam tiga wujud: (1) pengkhianatan, penyangkalan karena sulit untuk tetap setia; (2) khayalan, menyatakan ‘simulacrum’ sebagai kejadian yang sesungguhnya; dan (3) teror, mendorong sebuah kebenaran yang bersifat total. Contoh yang jahat menurut Badiou: memaksakan bahwa bangsa Aria adalah bangsa terunggul seperti yang dilakukan Hitler dengan Nazi dan pembersihan ras Yahudi dari muka bumi; dan Stalinisme yang memaksakan totalitas dan menebar teror yang mematikan banyak orang.

Mereka yang setia pada konstruksi kebenaran dan mendedikasikan tindakannya dengan dorongan hipotesis untuk melengkapi kebenaran adalah subjek kebenaran. Subjek pada prakteknya adalah orang yang dapat melakukan ‘break’ dengan status quo; orang yang dapat melampaui situasi untuk menghasilkan situasi baru; orang yang dapat melampaui dilema; orang yang dapat menciptakan daya tersendiri dalam mempengaruhi munculnya situasi baru.

“A subject is thus anyone carried by his or her fidelity to the consequences, as rigorous as they are haphazard, of an event, while a truth is nothing other than the cumulative collection of such post-evental consequences.” (European Graduate School, 4-1997)

Dari pengertian itu dapat ditarik implikasi bahwa subjek tidak selalu tampil pada seseorang. Orang menjadi subjek jika dan hanya jika melakukan ‘break’ dengan status-quo. Dengan demikian, subjek juga bersifat temporal. Orang tidak terus menerus jadi subjek. Seseorang menjadi subjek ketika ia menjalani kejadian kebenaran.

Dengan konsep kebenarannya, Badiou sekaligus mengajukan konsep subjek yang juga merupakan pemikiran etika. Dengan menjelaskan subjek, Badiou sekaligus memaparkan apa yang baik untuk dilakukan oleh setiap orang. Apa yang baik terkait erat dengan kebenaran dalam terminologi Badiou. Orang melakukan sesuatu yang baik semestinya juga melakukan proses penemuan kebenaran mengikuti prosedur kebenaran. Dengan konsep tentang subjek yang diturunkan dari kebenaran dan ontologinya, Badiou telah mengembalikan filsafat sebagai upaya atau proses pencarian kebenaran. Filsafat sebagai cinta kebenaran yang dicanangkan filsuf-filsuf Yunani Kuno ditegakkan kembali oleh Badiou.

***

Catatan tambahan tentang situasi dan himpunan generik

Situasi memiliki satuan (unity) sebagai hasil sebuah ‘operasi’ yang disebut count-for-one = struktur dari situasi; struktur yang menentukan apa yang termasuk atau tidak termasuk dalam situasi dengan menjumlah berbagai multiplisiti (kumpulan) sebagai unsur (element) dari situasi. Sebuah unsur adalah adalah unit dasar dari situasi. Sebuah struktur, dengan demikian, menghasilkan  kesatuan pada level setiap unsur dari situasi. Struktur juga menghasilkan kesatuan pada level keseluruhan situasi dengan menyatukan multiplisiti dari setiap unsur.

Definisi statis dari situasi adalah “a situation is a presented multiplicity” (situasi adalah multiplisiti yang tertampilkan).

Penjelasan tentang situasi sebagai being dalam ontologi Badiou menggunakan dasar teori himpunan dalam matematika. Multiplisiti adalah himpunan (set) dan unsur-unsurnya adalah himpunan bagian (subset). Buat Badiou, matematika adalah ontologi.

Jenis-jenis situasi

Dasar: aksioma dalam teori himpunan tentang power-set yang menyatakan bahwa “ada himpunan dari semua himpunan bagian dari sebuah himpunan asal (initial) yang bernama power-set.

Dalam pengertian metaontologikal, power-set adalah rangkaian situasi (the state of situations). Sebuah rangkaian (the state) adalah a second count-for-one; jika sebuah himpunan mengskematisasi sebuah presentasi maka power-set atau state schematizes the representation of presentation. The state terbuat dari seluruh pengelompokan kembali unsur-unsur situasi yang mungkin.

Badiou membedakan tiga jenis situasi: situasi natural, historikal dan netral. Apa yang membedakan ketiganya adalah jenis kumpulan (multiple): (i) normal multiples yaitu kumpulan yang dipresentasikan baik oleh situasi maupun diwakili oleh rangkaian situasinya (multiples ini counted-for-one dua kali); (ii) excrescent multiples yang hanya diwakili oleh rangkaian situasi (the state); dan (iii) singular multiples yang hanya terjadi pada level presentasi dan tidak terkena efek count-for-one kedua.

  1. Situasi natural didefinisikan sebagai situasi yang tidak memiliki singular multiples; situasi ini hanya memiliki normal multiples atau excrescent multiples; dan elemen normalnya juga memiliki elemen normal.
  2. Situasi netral didefinisikan sebagai situasi yang memiliki campuran singular, normal and excrescent multiples.
  3. Situasi historikal didefinisikan sebagai situasi yang memiliki sekurang-kurangnya satu ‘evental-site’; sebuah sub–type dari singular multiple.

Dalam pengertian teori himpunan, singular multiple adalah bagian dari sebuah himpunan tetapi satu atau beberapa anggota himpunan bagiannya bukan himpunan bagian himpunan induk itu. Singular multiple adalah (1) bagian dari sebuah himpunan induk; (2) beberapa bagiannya tidak termasuk dalam (bukan milik dari) himpunan induk itu. Ada elemen asing yang tergabung dalam singular multiple dan itulah yang menghasilkan singularitas dalam multiple ini.

Sebuah evental-site adalah keragaman ekstrem dari singular multiple; tak ada evental-site yang menjadi bagian dari himpunan induk.

Situasi historikal adalah situasi yang menghasilkan sejarah. Sejarah adalah kumpulan atau pertambahan evental-site. Sejarah hanya dapat dihasilkan oleh subjek karena evental-site hanya dapat dihasilkan oleh subjek.

Himpunan Generik

Himpunan generik adalah himpunan bagian yang baru dan tidak/belum terjelaskan dengan bahasa yang ada; untuk menjelaskannya membutuhkan bahasa baru, simbol baru. Jika dikaitkan dengan the symbolic dari Lacan, maka dapat dipahami bahwa himpunan generik adalah bagian dari situasi yang melampaui the symbolic dan itu merupakan hasil dari subjek.

[1] Tentang method of forcing dapat ditemukan dalam perbendaharaan teori himpunan yang digunakan Badiou dalam menjelaskan konsepnya tentang kebenaran. Paul Cohen (1963) mengemukakannya pertama kali, lalu dilengkapi dengan model dari Gödel. Metode ini telah digunakan oleh banyak ahli matematika untuk menyelesaikan probelem-problem matematis dan membantu menghasilkan pernyataan-pernyataan matematis yang kuat.

Tinggalkan Balasan