Dari Orientalisme ke Digital Prejudice
Islamofobia bukanlah fenomena baru yang muncul pasca-peristiwa 9/11 semata. Ia adalah residu panjang dari narasi superioritas yang pernah dibedah secara tajam oleh Edward Said dalam karya monumentalnya, Orientalism (1978). Said menjelaskan bagaimana dunia Barat secara historis mengonstruksi “Timur” (khususnya Islam) sebagai entitas yang eksotis, statis, dan mengancam untuk melegitimasi dominasi mereka.

Di era sekarang, narasi orientalisme tersebut mengalami digitalisasi. Algoritma media sosial, yang didesain untuk memaksimalkan engagement, cenderung memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat—terutama amarah dan ketakutan.
Secara sosiologis, hal tersebut menciptakan “ruang gema” (echo chambers) di mana prasangka terhadap Islam terus diproduksi dan dikonsumsi tanpa tandingan narasi yang berimbang. Fakta aktual menunjukkan bahwa narasi ekstremis dari kelompok marginal sering kali mendapatkan panggung lebih besar daripada pesan damai dari mayoritas Muslim, semata-mata karena algoritma membaca bahwa “konflik lebih menjual daripada harmoni.”
Simulakra dan Post-Truth
Melihat fenomena ini melalui kacamata filsafat kontemporer, kita menemukan pemikiran Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1981). Baudrillard berargumen bahwa di era media massa, realitas telah digantikan oleh simbol dan tanda. Islamofobia digital sering kali bekerja pada level simulakra. Masyarakat tidak lagi takut pada umat Islam yang nyata sebagai tetangga atau rekan kerja mereka, melainkan takut pada “citra Islam” yang diciptakan oleh media—citra yang sering kali terdistorsi, penuh kekerasan, dan intoleran.
Lebih jauh lagi, dalam kondisi post-truth, kebenaran objektif kalah oleh emosi dan keyakinan pribadi. Byung-Chul Han dalam bukunya In the Swarm: Digital Prospects (2017) mengingatkan bahwa masyarakat digital saat ini bertindak seperti “kawanan” (swarm) yang mudah terprovokasi namun kurang memiliki kohesi untuk refleksi mendalam. Algoritma kebencian memanfaatkan kerentanan psikis ini untuk mengubah Islamofobia menjadi komoditas digital yang viral.
Data menunjukkan bahwa ujaran kebencian berbasis agama di platform digital terus meningkat setiap tahunnya. Fenomena cyber-bullying terhadap perempuan berhijab atau stigmatisasi terhadap komunitas muslim di Eropa dan Amerika sering kali bermula dari disinformasi yang disebarkan secara terstruktur.
