Dua kata ini, yakni alis dan sriti, dipilih sebagai visualisasi atau gambaran utuh dari keindahan seorang perempuan. Alis bukan sekadar aksen dari kecantikan sebuah wajah, namun merupakan pusat di mana semua pandangan dunia akan tersedot ke arahnya, ke lengkung hitam di atas mata itu. Alis juga merupakan pintu untuk memasuki keindahan sejati, untuk menyelami kedalaman rindu yang tak terukur lubuknya.
Pada titik ini saya teringat pada Nizar Qabbani, seorang penyair dari Damaskus, yang juga sangat terobsesi oleh salah satu bagian dari tubuh perempuan, yakni payudara. Bagi penyair Arab yang terkemuka ini, payudara bukan sekadar dua pepaya yang menggantung di dada, namun merupakan sumber kehidupan sekaligus keindahan. Dalam ratusan puisinya, diksi payudara ini selalu disebut-sebuatnya, bahkan diagung-agungkannya, baik dalam ungkapan mengenai cinta atau rindu, juga sebagai bentuk kemarahan, perlawanan atau gugatan dalam hal politik.

Kembali ke puisi Ahmad Faisal Imron. Saya kutip bait pertama dan kedua yang menyentuh dari puisi Alis Sritimu di bawah ini:
wahai qilbia, wahai pemilik alis sriti
di gazebo tua dan malam kedelapan
tanpa bulan, tentu itu yang kuingat
setelah begitu lama aku ingin mabuk
meminum seluruh dahagamu, setelah
begitu lama aku ingin mengatakan bahwa
tubuhmu adalah kamar putih keabadianku
jangan tingggalkan aku sekali lagi
wahai qilbia, aku tak mungkin menahan hidup
tanpa napasmu, percayalah, di saat cibiran hidup
yang begitu pahit ini, di saat badai yang membuat
nadi kita kencang berdenyut, seperti adonis
aku tak pernah mengatakan cintaku ialah bulan
cintaku ialah gergaji pada penjara besi kemurungan ini
Jika dalam kumpulan Maliun Hawa dan Langit Lemburawi puisi-puisi Faisal Imron kebanyakan panjang dan sublim dengan bentuk pengucapan yang cenderung berlapis, dalam kumpulan terbarunya kita menemukan puisi-puisi yang lebih ringkas, lebih padat namun terasa renyah, selain pengungkapannya yang lebih liris dan mengalir. Citraan alam seperti gunung, lembah, laut, pulau, pantai dan angkasa, yang kadang dikaitkan dengan alur sejarah serta nama-nama tokoh tertentu rasanya tidak terlalu dominan dalam kumpulan ini.
Justru, sebaliknya, citraaan-citraan yang dekat dan akrab dengan keseharian seperti benda atau perabot, alat musik, makanan, minuman (solfdrink) atau tempat seperti kafe dan gazebo lebih banyak kita temukan, dan tentu saja citraan yang berkaitan dengan tubuh perempuan seperti payudara dan bibir.
Dengan citraan-citraan yang katakanlah lebih “duniawi” ini, bagi saya Faisal Imron tidak kehilangan intensitas kekhusyukannya. Puisi-puisinya tetap mengandung kesubliman yang dalam, metaforanya tidak berhenti pada sesuatu yang kasatmata namun juga memantulkan hal yang lebih jauh lagi. Tidak hanya berhenti pada tubuh perempuan, namun juga ada upaya menyentuh rahasia Tuhan. Saya kutip bagian akhir dari puisi yang berjudul Marwa, yang juga banyak menyebut-nyebut alis sriti pada dua bait awalnya:
kekasih, izinkan aku meminjam matamu
agar kau dapat melihat betapa dalamnya rindu
kekasih, izinkan aku meminjam jemarimu
agar kau dapat merasakan betapa bergetarnya
tangan ini saat menulis asmamu
aku tak punya alasan mengapa aku mencintaimu
tapi aku punya seribu satu alasan
mengapa aku merindukanmu setiap waktu
hingga, mengapa setiap aku melangkah
yang ingin kutuju adalah rumah putihmu
Demikianlah sedikit catatan mengenai Alis Sritimu, kumpulan puisi terbaru dari Ahmad Faisal Imron, seorang penyair, pelukis dan kiai yang sehari-harinya mengasuh pesantren di Lemburawi, Kabupaten Bandung.
