***
Ahmad Faisal Imron adalah seorang penyair, pelukis, dan pemain musik. Di luar itu semua, ia dikenal luas sebagai ajengan atau kiai, meski tidak pernah memakai jubah putih dan bersorban seperti aktivis ormas. Ia dipanggil orang kiai bukan semata karena lahir, besar, dan berkiprah di pesantren, namun lebih jauh ia telah melakoni sebuah paradoks dalam hidupnya.

Selain mengasuh santri sebagai aktivitas utamanya, ia juga total berkesenian. Ia menulis puisi dengan serius dan kerap menyelenggarakan kegiatan apresiasi sastra baik di pesantren maupun di kampung sekitarnya. Namun puisi-puisi yang ditulisnya bukanlah puisi dakwah yang dengan gampang mengkafirkan orang lain. Bukan puisi yang mengangkat persoalan secara hitam-putih. Puisinya imajis, bahkan surealis, dengan pengungkapan yang cenderung artistik dan sublim.
Ia main musik dan secara berkala menggelar konser untuk menghibur masyarakat sekitar pesantren. Yang menarik, musik yang ditampilkannya bukan hanya kasidah, gambus, atau nasyid, justru musik metal dan underground.
Ia juga melukis. Tapi jangan bayangkan lukisan-lukisannya berupa kaligrafi atau komposisi geometris Timur Tengah. Lukisan-lukisannya justru abstrak ekspresionis.
Sebagai orang yang mengenalnya sejak lama, tentu saja saya tidak heran dengan semua paradoks ini. Bisa jadi justru merupakan bagian dari apa yang dimaksud dengan khariqul ‘adah, sebuah perilaku yang kelihatan mahiwal atau di luar kebiasaan umum dalam konteks dunia kepesantrenan.
Sebagai penyair, paling tidak ia sudah menerbitkan dua kumpulan puisi tunggal, Mailun Hawa (2007) dan Langit Lemburawi (2012), di samping sejumlah antologi bersama. Begitu juga sebagai pelukis, beberapa pameran tunggal sudah ia gelar di samping sejumlah pameran bersama.
Februari lalu, Faisal Imron mengontak saya dan kemudian mengirimkan sebuah manuskrip kumpulan puisi, yang berjudul Alis Sritimu. Awalnya saya mengira ia sekadar minta tanggapan atau masukan. Namun, beberapa hari kemudian Faisal menelepon lagi dan ternyata ia minta pengantar untuk kumpulan puisi terbarunya itu. Saya sempat tertegun. Sebab, setelah saya baca selintas, rasanya buku ini lebih pas jika diberi pengantar oleh seorang teoretikus atau akademisi ketimbang oleh saya yang cenderung intuitif.
Tema utama dari puisi-puisinya adalah cinta dengan segala dimensi serta nuansanya. Tentu ini merupakan tema klasik yang mungkin setiap penyair di dunia pernah menuliskannya. Namun yang menarik bagi saya, bagaimana tema klasik ini diungkapkan dengan bahasa yang sederhana namun terasa penuh hiperbol. Bagaimana diksi-diksi dipilih dan disusun secara intens dan telaten hingga melahirkan ungkapan-ungkapan yang segar serta penuh tenaga.
Secara bentuk, meskipun masih normal seperti puisi pada umumnya, namun jika dirasakan diksi-diksinya yang ketat pada irama dan imaji, juga teknik pemenggalan kalimat dalam larik dan bait, pada beberapa puisinya yang berhasil sedikit banyak telah menawarkan sesuatu yang segar secara kebahasaan. Hal-hal inilah yang menurut saya menarik jika dianalisis secara teoretis oleh seorang akademisi, baik dari sisi makna filosofisnya, pencapaian linguistiknya maupun bentuk artistiknya.
Alis Sritimu yang dijadikan judul kumpulan puisi ini sebelumnya sudah pernah saya lihat sebagai judul dari beberapa lukisan karya Ahmad Faisal Imron. Alis yang merupakan bulu di dahi, yang posisinya di atas mata, serta sriti yang merupakan nama burung kecil yang berbulu hitam, tampaknya telah menjadi obsesi tersendiri bagi penyair dan pelukis ini. Selain menjadi judul sejumlah lukisan serta puisi, dua kata tersebut juga bertebaran dalam puisi-puisinya.
