RITME NADI KEMARAU
saban hari denyut melaut ke pulau rasa
perahu layar membujuk aib gelombang
terombang-ambing mimpi batin puisi

kemarau merantau-rantau, berdenyut nadi
basah, tangis, nan tersungkur tabiat tafakur
bersulam terik mata cagak hari gejolak
dua puluh hari kita bersekutu dengan abu
tapal batas jantung meraung seliut gunung
: ritme hati menjadikan ekspresi yang alibi
walau saja kemarau tandang di dada batu
riak rindu bunga bersedekah senyum rayu
riadat sujud berkaca pada asa nan asma-Nya.
angin di kebun raban terjangkit wabah corona
berkabung setengah jam dalam lamun peristiwa
hingga Tuhan yang satu, terkepung linang watu.
Sumenep, 2021.
