Tidak cukup untuk mengenalkan pada dunia program ini dengan hanya satu kali bedah buku. Kiai Taufiqul Hakim akhirnya melakukan pengenalan metode baru ini ke berbagai daerah.
Tidak hanya berfokus terhadap pengenalan publik akan metode baru, Kiai Taufiqul Hakim juga mendirikan pesantren sendiri. Pada 1 Mei 2004 beliau mendirikan Pondok Pesantren Darul Falah.

Amtsilati Mendunia
Program baru Amtsilati ini menjadi pemikat hati. Kesan ilmu nahu dan saraf sebagai momok perlahan sirna dengan metode baru ini. Keberkahan metode baru Amtsilati menarik banyak pesantren untuk mencoba menerapkan metode ini. Untuk dibentuk koordinator wilayah (Korwil) penerapan metode Amtsilati di berbagai daerah, seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatra, dan bahkan sampai Indonesia bagian timur. Yang terbaru, Kementrian Agama (Kemenag) DKI Jakarta meluncurkan program “Membaca Kitab Kuning dengan Metode Amtsilati” untuk seluruh madrasah negeri di wilayah DKI Jakarta.
Metode Amtsilati menunjukkan tajinya dalam perlombaan membaca kitab kuning nasional, Musabaqoh Qiroatul Kutub Nasional (MQKN) 2023 yang berlangsung di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Jawa Timur, dengan menyabet empat gelar. Tiga di antaranya juara satu dan menjadikan Jawa Tengah keluar sebagai juara umum dan berhasil menkudeta Jawa Timur sebagai juara bertahan berturut-turut .Sebuah prestasi yang cemerlang bagi suatu metode baru yang baru berumur kurang lebih dua dasawarsa.
Metode Amtsilati untuk saat ini tidak hanya diterapkan di dalam negeri, melainkan sudah digunakan di mancanegara. Beberapa korwil luar negri sudah dibentuk, antara lain di Mesir, Yaman, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Dan Amtsilati pun kini mendunia.
