Amtsilati: Inovasi Pembelajaran Nahu Saraf dan Perkembangannya

Terbentuknya nama “Amtsilati” berasal dari susunan idhafah (gabungan dua isim) kata pertama “amtsilatun” yang berarti contoh dan kata kedua “ya’ mutakallim” yang bermakna saya. Jadi ketika disambung memiliki makna “contoh dari saya”, mengingat idhafah bisa menyimpan makna  من  (min),  فى (fii),  dan  ل (lii).

Penciptaan Amtsilati dimulai saat tanggal 17 Ramadhan 2001. Sebelum itu, beliau mulai merenung dalam zikirnya dan muncul pikiran untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh). Ketika dilakukan secara ikhlas, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setiap hari beliau melakukan mujahadah dan pada tanggal 17 Ramadhan mendapat visual akan para gurunya, di antaranya Syekh Muhammad Baha’uddin An-Naqsyabandiyyah, Syekh Ahmad Mutamakkin, dan Imam Ibnu Malik (pengarang alfiyyah ibnu malik) dalam kondisi setengah sadar. Pada saat itu beliau mendapatkan dorongan untuk menulis yang sangat kuat, dan itu berakhir pada tanggal 27 Ramadhan. Amtsilati selesai ditulis tangan dalam waktu 10 hari.

Perkembangan Amtsilati

Ingin bahwa Amtsilati tidak hanya untuk konsumsi pribadi, Kiai Taufiqul Hakim mencoba membedah bukunya di beberapa tempat agar publik mengenal karyanya. Awalnya di Kabupaten Jepara, Amtsilati dibedah di gedung Nahdlatul Ulama (NU). Saat itu Amtsilati belum mendapat perhatian yang lebih.

Tak menyerah sampai di situ, keberuntungan perlu adanya perjuangan. Beliau mendapat saran untuk membedah buku di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur,  yaitu di Pondok Pesantren Mambaul Qur’an yang diasuh KH Hafidz. Beliau berinisiatif menyelenggarakan pengenalan program baru Amtsilati ini pada 30 Juni 2002.Tidak disangka, Amtsilati mulai mendapat sambutan dan apresiasi dari masyarakat dengan luar biasa.

Tinggalkan Balasan