Saya akan membuka catatan ini dengan kisah monumental Leo Tolstoy. Suatu ketika, ia menegur seorang opsir karena memukul seorang perajut yang lepas dari barisan.
Dalam beberapa literatur, penggalan kisah itu digambarkan begini: Ia berseru, “Tidak malukah kau memperlakukan sesama manusia seperti itu? Apa kau belum pernah baca kitab suci?!”

Tetapi opsir tersebut diceritakan tak kalah garang. Ia menggertak dengan enteng kepada si bangsawan, ”Apakah kau belum pernah baca buku petunjuk disiplin pasukan?!”
Dalam dua sikap yang digambarkan kisah ini, sekurang-kurangnya saya dua kali tertegun. Tetapi anehnya, di tengah arus yang membenturkan sikap Tolstoy sebagai “ketidaktahudirian” serta opsir dengan “kepatuhan”, saya malah menyepakati pilihan sikap Tolstoy. Saya jadi ingat catatan kecil mengenai Eric From.
Kebahagiaan, begitu catatan From, akan tercipta ketika kita mencapai kebebasan batin. Dalam penggalan kisah Tolstoy dan sang opsir, kiranya Tolstoy menempatkan sisi kebebasan batin dalam mencapai “Final Destination” yang digambarkan From.
