KOTA YANG TAK LAGI BERNAMA
Ada jalan yang tak lagi mengenali langkahnya.
Dinding-dindingnya menghafal desingan,
lebih fasih dari doa-doa yang mengering di bibir ibu.

Langit terlalu sering pecah,
tetapi hujan tak pernah jatuh.
Hanya puing, hanya abu,
hanya nama yang ditulis di batu
dan tak sempat disebutkan lagi.
Di tikungan itu, seorang anak masih menunggu.
Mungkin ayahnya akan pulang,
mungkin tidak.
Mungkin rumahnya masih ada,
mungkin hanya ingatan yang berusaha bertahan.
Bangunjiwo, 2025.
SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI
Selembar kertas terbang di udara,
melayang di antara reruntuhan.
Tak ada alamat. Tak ada penerima.
Mungkin surat itu ditulis untuk Tuhan,
sebab hanya Dia yang masih punya rumah di sini.
Di halaman kedua, ada kalimat yang terputus:
“Ibu, aku ingin pulang…”
Tetapi di kota ini, pulang hanya kata kerja yang mati,
seperti tubuh-tubuh yang tak sempat bertanya
mengapa dunia membiarkan ini terjadi.
Di pagi yang sunyi, seorang lelaki memungut surat itu.
Ia membaca namanya sendiri di sana.
Dan tahu, ia sudah lama tidak ada.
