
Meskipun tiga rubrik ini ditulis oleh 603 penulis, tetapi struktur produktivitasnya tergolong timpang. Median tenure penulis hanya sekitar 1 hari karena banyak kontributor hanya muncul sekali atau dua kali. Namun, pada saat yang sama terdapat inti penulis yang sangat aktif: 119 penulis aktif minimal satu tahun, 62 penulis minimal dua tahun, dan 39 penulis minimal tiga tahun. Inilah yang di awal tulisan ini disebut long tail, dan sekaligus ada inti kader penulis yang relatif stabil.
Pola itu cocok dengan identitas resmi duniasantri.co sebagai media citizen journalism yang ditulis oleh santri, alumni pesantren, dan pegiat dunia pesantren. Sekaligus, mengindikasikan ekosistem penulis dunisantri memang lebar, tetapi tidak sepenuhnya datar; tetap ada lapisan inti yang menggerakkan ritme wacana.

Klaster dan Pergeran Topik
Berdasarkan data yang terbaca, teknologi LLM ChatGPT mengelompokkan para penulis duniasantri ke dalam tiga klaster, yaitu analitis-publik, liris-hibrida, dan fiksional-domestik.

Klaster tersebut memberi gambaran jelas. Ada penulis yang memang memosisikan diri sebagai kolumnis-opinionis, ada yang menjadi penjaga iklim puisi, dan ada yang memperkaya dunisantri lewat sastra prosais. Yang menarik, satu klaster tidak selalu sepenuhnya tunggal; klaster liris tetap bersentuhan dengan opini publik, sehingga menandakan bahwa di dunisantri, puisi dan perenungan sosial tidak benar-benar terpisah.
Analisis ini juga menemukan adanya pergeseran topik yang terjadi pada penulis-penulis long tail. Misalnya, pada penulis yang memiliki minimal 8 tulisan dan membentang setidaknya dua tahun, sekitar 32,1% menunjukkan perubahan tema dominan antara fase awal dan fase akhir kepenulisan. Itu berarti sekitar dua pertiga relatif stabil, sementara sepertiga lainnya bereksperimen atau berevolusi secara intelektual sebagai penulis. Selalu mencoba-coba genre baru atau tema anyar.

Temuan ini memperlihatkan bahwa dunisantri bukan hanya memiliki penulis yang “ahli” di satu bidang atau genre; platform ini juga memberi ruang bagi penulis untuk berpindah dari normatif ke publik, dari puisi ke opini, atau dari opini ke cerpen, dan sebaliknya. Hal tersebut merupakan sinyal baik untuk kaderisasi pemikiran santri.

