Selain itu, sebanyak 106 penulis terlacak menulis di lebih dari satu rubrik. Jadi, batas antara “esais”, “penyair”, dan “cerpenis” di duniasantri bersifat poros, bukan pagar. Mukhlisin Ashar, misalnya, dominan di Opini, tetapi juga menulis Puisi dan Cerpen; Rusdi El Umar dominan di Opini, namun juga produktif di Puisi; Bisri Mustofa kuat di Cerpen. Secara sosiologis, ini memperlihatkan bahwa dunia intelektual santri di sini bergerak dalam mode poligenre. Tidak tunggal.
Tren ini menegaskan satu hal, melalui duniasantri.co, santri tampil sebagai produsen wacana publik dalam berbagai bentuk dan tema tulisan, bukan hanya penjaga tradisi internal. Bukti paling kuat bukan sekadar jumlah artikel, tetapi arsitektur sosial produksi konten: ribuan akun penulis, mayoritas santri/alumni, serta volume naskah masuk yang jauh lebih besar daripada yang dirilis.

Hal tersebut menunjukkan dunisantri bekerja bukan hanya sebagai penerbit, tetapi juga sebagai mesin kaderisasi penulis. Dalam ekosistem media Islam Indonesia, hal ini menjadi faktor diferensiasi yang sangat kuat. Banyak media punya rubrik opini, atau cerpen, atau puisi, namun sangat sedikit yang benar-benar membangun infrastruktur penulis komunitas seperti yang terjadi pada duniasantri. Media pada umumnya hanya menerina dan menerbitkan tulisan yang sudah jadi.
Implikasi strategis ke depan cukup jelas. Jika dunisantri ingin menumbuhkan “santri thought” secara konsisten, maka yang perlu dipertahankan bukan hanya volume tulisan, tetapi arsitektur lintasan berpikir: menjaga puisi sebagai identitas afektif, memperdalam opini politik-kebangsaan sebagai medan intervensi publik, menguatkan literasi-menulis sebagai fondasi intelektual, dan sekaligus merawat cerpen sebagai laboratorium pengalaman sosial santri.
Di Balik Data
Itulah simpulan analisis LLM ChatGPT. Namun, apa yang terjadi di balik data? Mesin pintar itu belum bisa membacanya, termasuk mendengarkan tangis santriwati asal Sumatera yang mengawali tulisan ini.
Benar, pada 26 Mei 2026, duniasantri merilis naskah ke-5.000. Jumlah yang disubmit seluruhnya 9.530 naskah. Ke-5.000 naskah tersebut tulis oleh 751 penulis dari 3.736 akun penulis. Artinya, tercatat ada 2.985 akun penulis yang tulisannya belum pernah dirilis. Ada dua kemungkinan. Pertama, ada yang memang belum pernah submit naskah. Kedua, naskah yang disubmit termasuk bagian dari 4.471 yang tidak dirilis. Bagian ini masih luput dari keterbacaan LLM ChatGPT.
Dari mana para penulis di duniasantri.co itu datang, atau berasal? Hal itu juga luput dari keterbacaan. Yang bisa dibaca dengan teknologi LLM ChatGPT hanya yang tertera pada by line akun penulis yang tulisannya sudah dirilis.
Sesungguhnya, para penulis di duniasantri.co itu datang dari beberapa sumber. Pertama, tentu, dari workshop-workshop penulisan di berbagai daerah yang digelar jejaring duniasantri (JDS) sejak 2019, baik yang offline maupun online. Kedua, mereka yang datang dari berbagai pesantren, atau alumni pesantren, yang menjadikan duniasantri.co sebagai media untuk berkreasi. Ketiga, mereka yang datang dari kampus-kampus, kebanyakan dari perguruan tinggi Islam, sebagian untuk memenuhi tugas perkuliahan. Keempat, dari lomba-lomba penulisan yang diselenggarakan duniasantri. Kelima, dari masyarakat umum yang memiliki perhatian pada dunia pesantren atau para pegiat literasi.
Meskipun seluruh data itu belum terbaca, namun kesimpulan dari hasil analisis LLM ChatGPT cukup kuat: bahwa situs ini telah menjadi mesin kaderisasi penulis. Datanya menunjukkan, dari tahun ke tahun, jumlah akun penulisnya terus bertambah signifikan. Setiap saat selalu muncul akun penulis baru di situs ini. Di situ, positiong duniasantri.co dinilai sangat kuat karena keunikannya: para penulis yang terus bermunculan merupakan bagian dari jejaringnya. Mereka bukan penulis lepas seperti lazimnya pada media lain. Memang begitulah hakikat dari citizen journalism, yang ide awalnya muncul begitu saja.
