Ananda Sukarlan, Puisi, dan Irama

Ia menangkap kontras itu dengan akord disonan dan ritme yang tampak jenaka, namun menyimpan luka. “Saya mendengar luka yang dalam, tapi justru di situlah nikmatnya,” ujarnya.

Dari deretan penonton, saya merasakan bahwa Ananda telah menangkap “pesan rahasia” dalam puisi itu. “Nada-nada lincah itu seperti kaki kecil yang berjalan jinjit di antara pecahan kaca,” saya katakan, “melambangkan bahwa dalam hidup, kita harus tetap kuat dan penuh kesadaran menghalau kesedihan dengan hati-hati.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ratnaganadi—soprano yang baru saja memenangkan Kompetisi Nusantara Plus 2024, meraih golden ticket ke babak final Ananda Sukarlan Award 2025, dan akhirnya menjadi juara pertama—tampil dengan gestur dan suara yang prima.

“Ia bukan hanya cerdas secara intelektual,” kata Ananda, “tapi juga tajam secara musikal.”

Ia menambahkan bahwa partitur tak bisa sepenuhnya menyampaikan ekspresi, dan di situlah letak seni interpretasi. “Saya bisa menjelaskan lebih dalam saat saya sendiri yang memainkan piano,” ujarnya, “tapi banyak peserta kompetisi sudah membawakannya dengan kedalaman yang mengesankan.”

Percakapan kami kemudian beralih ke perbedaan antara “musikalisasi puisi” dan “tembang puitik”. Ananda menjelaskan bahwa tembang puitik adalah konsep, bukan gaya.

Ia merujuk pada tradisi art song dari Eropa—seperti Lied di Jerman, Mélodie di Prancis, dan Romanza di Italia. “Tembang puitik adalah puisi yang mengalami transformasi menjadi musik,” katanya, “dengan empat elemen utama: penyair, komposer, vokalis, dan instrumentalis.”

Tinggalkan Balasan