Berbeda dengan musikalisasi puisi yang cenderung lebih sederhana, tembang puitik menuntut pendalaman artistik dari semua pihak. “Pengiring” bukan sekadar latar, melainkan pendamping yang memberi makna metaforik pada melodi.
“Saya lebih suka menyebutnya pendamping,” ujar Ananda, “karena ia sejajar dengan penyanyi dalam hal virtuositas.”

Di balik semua itu, Ananda Sukarlan tetap menjadi sosok yang tak hanya menggubah musik, tetapi juga menggubah cara kita mendengar puisi. Ia telah menerima penghargaan dari Spanyol, Italia, dan Prancis, serta diakui sebagai salah satu dari 100 tokoh seni paling berpengaruh di Asia. Namun malam itu, di Jakarta, ia memilih duduk di depan piano, membiarkan puisi berbicara melalui nada.
Ananda Sukarlan adalah pianis dan komponis Indonesia yang telah memperdengarkan lebih dari 300 karya baru dari komponis dunia, banyak di antaranya mengusung elemen musik etnik Nusantara. Ia dikenal luas di Eropa dan Amerika, serta telah meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk Disco de Oro di Spanyol dan gelar kesatriaan dari Presiden Italia. Karya-karyanya—seperti Rapsodia Nusantara dan Ars Amatoria—menjadi bahan kajian akademik di berbagai universitas dunia.
Sebagai penyandang Tourette–Asperger Syndrome, Ananda aktif mengembangkan pendidikan musik inklusif dan menjadi pembicara di berbagai institusi global. Ia juga memperkenalkan musik tradisional Jawa dan Bali ke panggung internasional, menginspirasi komponis seperti Jesús Rueda dan David del Puerto untuk menciptakan karya bertema Nusantara.
Ananda terus memperkuat diplomasi budaya Indonesia melalui musik, menjembatani tradisi lokal dengan ekspresi global. Ia adalah satu-satunya orang Indonesia yang tercatat dalam 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century. Dan saya, sebagai penyair dan pendengar, hanya bisa menyimak dengan hati yang terbuka—karena di antara kata dan bunyi, ada ruang yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
