Anasir al-Syahadatain, Kitab Aksara Persia di Tanah Jawa

Namun ternyata, Indonesia tak hanya kaya akan budaya sendiri tapi juga menyimpan sisa sejarah lampau berbentuk naskah dari perkembangan pengetahuan keagamaan lintas negara. Naskah ini memiliki judul Anāṣir al-Shahādatayn yang jika diartikan menjadi “Unsur-Unsur Dua Syahadat”. Naskah ini dimiliki oleh seseorang bernama Sutiyono Abdullah yang berdomisili di Mlatinorowito, Kudus.

Menurut penuturannya, kitab ini ditemukan dalam atap sebuah rumah ketika pemiliknya hendak merenovasi. Kitab ini akhirnya diserahkan pada Sutiyono sebagai tokoh masyarakat di sana untuk disimpan. Adapun alamat rumah tempat naskah ini ditemukan berada di Rt. 01 Rw. 02, Kelurahan Mlatinorowito Kecamatan Kudus, Kudus, Jawa Tengah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sesuatu yang unik dari naskah kitab ini adalah jenis font yang digunakan untuk menulis, yakni khat farisi yang biasanya jarang sekali digunakan dalam penulisan kitab, kecuali untuk penulisan judul atau sekadar keterangan tambahan di bagian cover kitab.

Khat jenis ini muncul sekitar abad ke-7 M dan mulai populer digunakan pada abad ke-11-13 M. Nama Farisi sendiri adalah sebuah nisbat yang ditujukan pada asal daerah khat itu muncul, yakni Fāris, yang dapat diartikan negara Parsi atau Persia.

Menurut Dr Muhammad Tahir Kurdi, Persia atau Parsi adalah salah satu bahasa yang menggunakan kaligrafi Arab dalam penggunaannya. Bentuk hurufnya sama dengan aksara hijaiyah, namun memiliki beberapa karakteristik tersendiri, seperti پ :(pa), merepresentasikan bunyi p, چ : (ca), merepresentasikan bunyi c, ژ : (jha), merepresentasikan bunyi jh atau ja seperti campuran bunyi j, z, dan h, serta گ : (gaf) yang merepresentasikan bunyi g, berbeda dengan pengucapan huruf غ.

Cover bagian depan kitab dihiasi dengan iluminasi berupa gambar jalinan bunga disekeliling luar tulisan. Juga motif anyaman di bagian belakang judul yang menyerupai anyaman ketupat. Cover ini dihiasi dua macam gaya penulisan khat, yakni tsulust untuk tulisan ‘māshāallāhu lā quwwata illā billāhi’ dan tulisan ‘maṭba’ fakhr al-maṭābi’ wāqi’ likahinū maṭbū’ kardī’; serta khat farisi sendiri untuk penulisan judul Anāṣir al-Shahādatayn serta keterangan kecil sebagaimana terdapat dalam kolofon.

Tinggalkan Balasan