Antara Hisab dan Rukyat

Dalam konteks Indonesia, dua pendekatan ini sering diidentikkan dengan dua arus besar organisasi Islam, yakni Muhammadiyah yang cenderung menggunakan hisab hakiki wujudul hilal, dan Nahdlatul Ulama yang lebih menekankan rukyat atau hisab imkanur rukyat.

Namun penting dicatat bahwa penyederhanaan ini tidak sepenuhnya tepat, sebab keduanya sama-sama memanfaatkan hisab dan rukyat dalam kadar tertentu; yang berbeda adalah standar penetapan dan kriteria yang digunakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perdebatan antara hisab dan rukyat sejatinya bukan semata persoalan benar atau salah, melainkan soal epistemologi: bagaimana cara kita mengetahui masuknya bulan baru?

Hisab mewakili pendekatan rasional-ilmiah, sedangkan rukyat merepresentasikan pendekatan empiris-observasional yang berpijak pada teks. Namun dalam kenyataannya, hisab pun berdiri di atas observasi panjang para astronom, dan rukyat modern pun tidak lepas dari bantuan perhitungan astronomi. Keduanya saling terkait, bukan sepenuhnya terpisah.

Jika ditarik lebih jauh, perdebatan ini mencerminkan dialektika klasik dalam khazanah Islam antara nalar dan teks, antara akal dan wahyu. Sejak masa teologi awal, umat Islam telah bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan metodologis serupa, sebagaimana tampak dalam perdebatan antara kelompok rasionalis dan tradisionalis.

Dalam konteks hisab dan rukyat, ketegangan itu hadir dalam bentuk yang lebih teknis, tetapi akarnya tetap sama: bagaimana memahami dan mengamalkan ajaran secara tepat di tengah perkembangan ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan