IBU PADA MULUT KECILKU
I
Yang kurindu dalam Ramadan adalah ibu
Semangkuk kolak
Sepiring nasi putih
Telur ceplok
Dan segelas teh hangat

Tangannya menyimpan bumbu
Yang tak djual dalam sachet toko
Alarm pagi yang nyaring—
Bukan pukulan beduk
dan aransemen sahur
Tapi suara ibu—
Yang meski sedikit parau
Amatlah merdu
Menembus dinding-dinding sahur
Dalam ruang nyenyak tuk tidur;
Ketuk pintu, langkah kaki
Dan suara nyaring.
“Nak, sudah ibu siapkan menu sahur!”
Aroma kaldu mi
Telur rebus
Segelas susu
Aku
Bersusah payah membuka pintu
Menatap raut ibu yang selalu segar
Meski garis-garis tua
Menggoret wajah tegar
Seringkali, disuapkannya kesabaran
Pada tiap butir nasi
II
Siang hari yang panas,
perut keroncongan
tenggorok kering
Tapi ibu bilang, “sampai maghrib ya!”
Aku yang lemas di sudut kamar
Sambil memeluk bantal-guling
Lalu tertidur
Aroma ibu kembali menguar
Pada udara di lorong hidungku
Ia dekap tubuh kecil
Yang menunggu tabuh beduk maghrib
III
Sore—
Saban tadarus di surau kecil
Ibu menjenguk pada daun pintu
Aku celingukan
Ia bawa serantang kasih sayang
“Buat nanti berbuka!”
Beduk ditabuh
Azan berkumandang
Tapi suara ibu masih nyaring di telinga
Aroma sayur bening dan tempe goreng
Mengenyangkan rinduku
Pada ibu
Sambil menyuapkan sendok
Pada mulut kecilku
Aku menggumam, “Pantas, surga di bawah telapak kakimu.”
—menyisakan banyak kasih yang terus dipupuk
Bulan berganti, tapi ibu yang tetap kurindu.
Malang, 31 Januari-16 Februari 2026.
