Dalam persoalan lain, gaya hidup manusia dalam menjaga kesehatan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Pengalaman yang dialami ketika pandemi menuntut manusia untuk senantiasa menjaga kesehatan dengan berolah raga, makan makanan bergizi, serta membangun karakter berpikir yang positif, tentu bisa dilaksanakan terus menerus.
Selain itu, sudut pandang dalam memaknai simbol dan makna pun kian beragam. Blumer (1987) menyatakan bahwa interaksi yang dibangun manusia akan membentuk suatu konsep yang secara otomatis menciptakan term-term pelabelan kepada suatu objek. Dalam hal ini, kita seringkali melihat suatu objek dengan tendensi negatif yang cenderung akan mengarahkan kita pada stigma yang negatif pula.

Pada konteks yang aktual, untuk beberapa kalangan, ketika melihat seseorang memakai cadar, maka yang pertama terbangun di benak pikir adalah pengikut pemahaman tertentu yang konservatif. Namun, saat pandemi yang “menuntut” kita untuk memakai masker, mungkin ada paradigma baru yang mengataka bahwa seseorang yang bercadar adalah bentuk kepatuhan terhadap protokol kesehatan.
Simpulannya, berbagai fenomena yang terbentuk selama masa pandemi, telah berkontribusi terhadap pembentukan wacana, narasi serta paradigma manusia dalam melihat suatu perkara. Paradigma baru ini tentu dapat menjadi alternatif untuk menyongsong konsepsi yang lebih positif, adaptif dan bijak dalam menghadapi tantangan-tantangan di masa depan.
