Senja itu masih terasa sendu. Daun-daun kering tampak beterbangan diterpa angin. Di atas, awan tampak murung dengan beban yang disangganya. Di salah satu gundukan tanah yang masih baru, nampak gadis muda tengah menatap papan nisan dengan nanar. Dari sela kedua mata lentiknya menganak sungai bulir bening. Susah bila harus ditebak apa yang bergejolak dalam batin gadis itu. Beberapa kali air mata jatuh membasahi tanah merah di hadapannya. Aroma wangi bunga kenanga dan kemboja yang tumbuh rindang mengitarinya tidak sedikit pun menghibur.
“Sudahlah, Nak! Tenangkan hatimu. Biarlah takdir dan sang waktu yan akan memberimu jawaban atas kemelut batin yang kini engkau rasakan,” tegur sebuah suara dari arah belakang si gadis.

Merasa ada yang memanggil, gadis yang menekuri nisan itu kini beralih mencari sumber suara. Di antara deretan nisan yang berlumut, tampak sosok sepuh yang kini juga menatapnya. Dengan tulus wanita sepuh itu tersenyum seolah menguatkannya. Masih cukup jelas, gurat pilu mencumbu putih kulit wajah si gadis. Sekarang justru ia merasa bingung pada orang yang berdiri di hadapannya. Sembari berdiri, si gadis nampak mengibaskan tangan —membersihkan tanah yang menempel— lalu mengusap kedua matanya.
“Nenek berbicara denganku?” tanya si gadis ragu.
“Memang di sini ada orang lain, Nak? Tentu dengan dirimu. Kamu Anggi bukan?” tanya balik wanita sepuh yang dibalas anggukan oleh si gadis.
“Sudahlah, Nak. Nanti kuceritakan apa pun yang ingin kau tanyakan. Mari ikut bersamaku,” lanjut wanita sepuh itu sambil berjalan menuju pintu keluar makam. Sesekali terdengar pula suara kaleng yang saling bertabrakan dari dalam karung yang dipikulnya.
Gadis itu mulanya ragu. Namun, setelah ia pikir lagi, dari sekian banyak orang yang mengantarkan jenazah keluarganya, hanya wanita sepuh itu yang peduli padanya. Tidak ada sepatah kata pun penghinaan keluar dari mulut wanita sepuh itu. Berbeda dengan warga lain yang malah bersyukur atas musibah yang menderanya. Akhirnya dengan langkah patah-patah, ia ikuti wanita itu menuju suatu tempat.
“Panggil aku Mbah Minto ya, Nak,” ujar sang wanita sepuh di sela langkahnya.
***
Ricik sungai kecil, nyanyian katak, dan aroma tanah basah menemani langkah Anggi dan Mbah Minto menuju setapak pojok desa. Setelah berjalan memasuki hutan, kini di depan mereka tampak bangunan kecil dari anyaman bambu. Beberapa ekor ayam tampak berkotek dan mencakar-cakar tanah mencari makan. Anggi merasa tenang saat mulai memasuki pelataran rumah sederhana itu. Pohon kenanga yang sangat besar berdiri gagah menaungi halaman depan rumah Mbah Minto, membuat Anggi kagum dan merasa tenang karena aroma yang menyejukkan dada.
“Duduklah, Nak. Mbah Minto mau menyiapkan air minum dahulu,” pintanya sambil menunjuk kursi lapuk di pojok ruangan. Anggi pun mengangguk dan segera duduk.
Dengan wajah yang masih sembap, Anggi mengedarkan pandangan meniti setiap sudut ruangan. Tidak lama, aroma jahe menguar dari gelas yang dibawa Mbah Minto. Wanita sepuh itu berjalan pelan menuju tempat Anggi duduk. Lantas meletakan dua cangkir minuman di atas meja bambu di hadapannya.
“Silakan diminum, Nak.”
Perhatian Anggi langsung tertuju pada gelas yang berisi cairan cokelat pekat di hadapannya. Ia masih bingung dengan sikap wanita sepuh yang kini duduk di sampingnya. Mengapa ia begitu perhatian dengannya? Seolah ia seperti cucu yang lama tidak pulang dan sangat dirindukan. Akhirnya, dengan sopan Anggi mengambil cangkir, lantas menyesap isinya. Ketika jahe itu melewati tenggorokan, sebuah ketenangan seolah hadir seiring seruputan yang masuk.
