Ada banyak riwayat hadits yang menjelaskan disyariatkannya waktu azan. Sebagai penanda waktu salat, dan menjadi awal dilaksanakan ibadah azan, sudah tidak terjadi selisih di kalangan ulama. Namun, selain waktu penanda salat, azan juga dianjurkan sebagai bentuk nilai ibadah. Jadi, meski di dalamnya ada ajakan untuk salat, namun dapat mengandung makna salat yang lebih luas. Yaitu ajakan untuk berdoa, berbuat kebajikan, serta melakukan hal-hal yang bermanfaat secara sosial.
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa azan dianjurkan sesaat seorang bayi dilahirkan. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi dari jalur Abu Rofi’, disebutkan, bahwa Abu Rofi’ melihat Rasulullah mengazankan Hasan bin Ali dengan azan salat ketika Fatimah melahirkan. Hadits tersebut dinilai hasan shahih, sedangkan ulama salafi menilainya dengan hasan sebagaimana dijelaskan dalam Irwa’ al-Ghalil (4/400). Mengazani bayi yang baru lahir sudah menjadi tradisi di dalam kehidupan seorang muslim.

Azan juga dianjurkan ketika ada seseorang yang kerasukan setan atau jin. Rasulullah bersabda, “Jika ada yang kerasukan jin atau setan maka kumandangkanlah azan.” (HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubro, Abu Ya’la, dan Jami’ Al-Hadits). Riwayat ini jelas menganjurkan agar orang yang kerasukan jin atau setan dikumandangkan azan sebagaimana azan untuk salat. Hal ini dimaksudkan agar jin atau setan yang mengganggu segara pergi dari orang yang kerasukan tersebut.
Selain itu, azan juga dikumandangkan ketika seseorang mengalami rasa sedih dan kesusahan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Dailami, disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib menyampaikan bahwa Nabi Muhammad melihat dirinya (Ali bin Abi Thalib) bersedih. Kemudian Nabi meminta agar azan dikumandangkan di telinga Ali bin Abi Thalib. “Suruh sebagian keluargamu azan di telingamu. Sebab itu obat bagi rasa sedih,” kata Nabi.
Jadi azan juga dapat dijadikan sebagai obat bagi kesedihan, kesusahan, dan galau yang berkepanjangan. Termasuk ketika terjadi bencana, angin ribut, hujan yang sangat lebat, dan tragedi alam lainnya, mengumandangkan azan dianjurkan sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar bencana alam tersebut segera berakhir.
Hikmah Azan
Ada beberapa hikmah azan terkait dengan nilai spirit Islam. Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa hikmah azan di antaranya adalah dapat mengusir setan. Rasulullah bersabda, “Apabila diserukan Adzan untuk salat, setan pergi berlalu dalam keadaan ia kentut hingga tidak mendengar azan. Bila muadzin selesai mengumandangkan azan, ia datang hingga ketika diserukan iqomat ia berlalu lagi.” (HR Bukhari dan Muslim).
Selain dapat mengusir setan, mengumandangkan azan juga mendaptkan pahala yang besar. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Seandainya orang-orang mengetahui pahala yang terkandung pada azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan cara mengadakan undian atasnya, niscaya mereka akan melakukan undian itu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menjelaskan bahwa mengumandangkan azan akan mendapatkan keutamaan berupa pahala. Bahkan seandainya harus diadakan semacam undian, maka mereka kaum muslim akan melakukannya karena keutamaan dalam mengumandangkan azan.
