Bagaimana Ayat dan Sains Membaca Kerusakan Alam

Ketika banjir besar menerjang beberapa daerah Sumatra akhir 2025, media menulisnya sebagai bencana. Tapi warga tahu itu bukan peristiwa mendadak. Tanah yang sudah lama kehilangan pepohonan, dan akhirnya menyerah.

Seorang ibu di Aceh pernah berkata dalam sebuah wawancara, “Air sekarang tidak kenal rumah orang.” Kalimat yang sederhana, tapi lebih jujur daripada ratusan dokumen Kementerian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Prediksi Sains

Dalam bukunya The Uninhabitable Earth, David Wallace-Wells menggambarkan masa depan bumi dengan nada yang tidak jauh berbeda dari peringatan wahyu. Ia menuliskan bahwa kerusakan alam bukan terjadi dalam satu kejadian besar, tetapi dalam “efek domino” yang saling menubruk.

Satu pohon hilang mungkin tidak terasa.
Seribu pohon hilang mulai menimbulkan tanya.
Satu juta pohon hilang, dan sungai pun kehilangan ingatannya.

Wallace menjelaskan dengan data bahwa pemanasan global akan membuat hujan lebih brutal, cuaca lebih tidak sabar, dan bumi lebih mudah tersinggung. Di Indonesia, semua itu sudah kelihatan tanpa perlu teleskop ilmiah. Deforestasi, menurut banyak riset, mempercepat datangnya banjir. Gambut yang dikeringkan mempercepat kebakaran. Sungai yang dipersempit mempercepat bencana. Kadang kita tidak perlu membaca sains untuk melihatnya. Kita hanya perlu memandang kampung yang tergenang.

Bahasa Ayat dan Sains

Ada momen ketika Al-Qur’an dan ilmu lingkungan berbicara dalam bahasa yang sama. Ar-Rum ayat 41 menyebut “ulayah tangan manusia”. Wallace menyebut “human-driven catastrophe”. Dua-duanya menunjuk pada pelaku yang sama: kita.

Tinggalkan Balasan