Ayat itu menyebut bahwa bencana yang kita alami baru “sebagian”. Wallace menyebut bahwa ini baru permulaan. Al-Qur’an mengajak manusia “kembali”. Ilmu pengetahuan mengajak manusia “berhenti sebentar”. Dua-duanya sebenarnya sedang memanggil kita ke arah yang sama: sadar sebelum terlambat.
Sebagai santri, kita kadang terlalu sibuk mencari makna gaib dalam bencana. Padahal ayat ini menolak itu. Ayat ini tidak menyebut malaikat, jin, atau musuh tak terlihat. Ia menyebut tangan manusia. Sangat konkret. Sangat duniawi.

Lalu, kita mau apa? Pertanyaan ini seperti bayangan yang mengikuti setiap banjir, longsor, dan kabut asap.
Mungkin kita tidak bisa menanam kembali seluruh hutan Sumatra besok pagi. Mungkin kita tidak bisa menghentikan industri raksasa hanya dengan marah.Tapi kita bisa mulai dengan menata ulang cara memandang alam. Bukan sebagai stok, bukan sebagai pasar, bukan sebagai halaman kosong yang siap dibangun.
Dalam tradisi pesantren, Bumi disebut amanah. Kata yang pelan, tapi sangat berat. Menerima amanah tanpa dijaga hanyalah cara lain untuk mengkhianatinya.
Ketika air bah datang dan televisi menayangkan rumah-rumah hanyut, ayat Ar-Rum itu seperti mengetuk hati kita: “Supaya mereka kembali.”
Kembali ke mana? Mungkin kembali ke kesadaran bahwa manusia tidak bisa berjalan sendiri. Mungkin kembali pada akhlak ekologis yang selama ini kita anggap “urusan ahli lingkungan”. Mungkin kembali pada cara nenek moyang memperlakukan hutan sebagai tetangga, bukan tambang. Wallace memperingatkan dengan grafik dan data.Al-Qur’an memperingatkan dengan ayat. Dan Indonesia memperingatkan dengan banjir.
Ketiganya sedang memanggil kita, santri atau bukan, untuk berhenti pura-pura tidak tahu. Karena fasad di darat dan laut sudah tampak. Dan peringatan, seperti banjir, tidak selalu datang dua kali.
