Bagaimana Ayat dan Sains Membaca Kerusakan Alam

Ada hari-hari ketika berita banjir dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terasa seperti gema dari masa depan. Bukan sekadar bencana musiman, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang retak pada hubungan kita dengan Bumi. Sungai yang dulu sekadar lewat kini membawa kayu-kayu hanyut dari hutan yang hilang. Tanah yang dulu menyerap air kini menumpahkannya kembali ke rumah-rumah orang kampung.

Dalam suasana itulah sebuah ayat terasa hidup kembali: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ayat itu seperti cermin yang tiba-tiba muncul di depan wajah kita. Cermin yang tidak kita minta, tapi menampilkan kenyataan apa adanya.

Ayat dan Isyaratnya

Para ahli tafsir mengatakan ayat ini tidak punya cerita khusus tentang kapan atau kenapa ia turun. Tidak ada kisah pertikaian, tidak ada kejadian perang, tidak ada tokoh antagonis. Ayat ini turun ke dunia tanpa membawa alamat tujuan, seolah-olah memang dimaksudkan untuk menunggu manusia di setiap zaman yang mulai bermain-main dengan Bumi.

Al-Tabari menyebut fasad sebagai hilangnya keberkahan. Ibn Katsir menyebutnya bencana alam. Quraish Shihab menyebutnya rusaknya keseimbangan. Ketika dibaca hari ini, ayat itu seperti bicara dengan bahasa yang sama dengan laporan-laporan lingkungan: hutan dibabat, gambut dikeringkan, sungai dipersempit, laut diobok-obok. Ayat ini turun tanpa asbab karena sepertinya sedang menunggu kita.

Fasad Alam Indonesia

Kalau kita mau jujur, apa yang terjadi di negeri ini seperti terjemahan langsung dari ayat tersebut. Hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi dipotong seperti kain yang dibutuhkan untuk pesta besar. Lahan gambut—yang ribuan tahun diciptakan pelan-pelan oleh alam—dibuka dalam hitungan bulan untuk sawit dan industri. Sungai-sungai kehilangan palungnya, gunung kehilangan penahannya, kampung kehilangan jalannya.

Ketika banjir besar menerjang beberapa daerah Sumatra akhir 2025, media menulisnya sebagai bencana. Tapi warga tahu itu bukan peristiwa mendadak. Tanah yang sudah lama kehilangan pepohonan, dan akhirnya menyerah.

Seorang ibu di Aceh pernah berkata dalam sebuah wawancara, “Air sekarang tidak kenal rumah orang.” Kalimat yang sederhana, tapi lebih jujur daripada ratusan dokumen Kementerian.

Prediksi Sains

Dalam bukunya The Uninhabitable Earth, David Wallace-Wells menggambarkan masa depan bumi dengan nada yang tidak jauh berbeda dari peringatan wahyu. Ia menuliskan bahwa kerusakan alam bukan terjadi dalam satu kejadian besar, tetapi dalam “efek domino” yang saling menubruk.

Satu pohon hilang mungkin tidak terasa.
Seribu pohon hilang mulai menimbulkan tanya.
Satu juta pohon hilang, dan sungai pun kehilangan ingatannya.

Wallace menjelaskan dengan data bahwa pemanasan global akan membuat hujan lebih brutal, cuaca lebih tidak sabar, dan bumi lebih mudah tersinggung. Di Indonesia, semua itu sudah kelihatan tanpa perlu teleskop ilmiah. Deforestasi, menurut banyak riset, mempercepat datangnya banjir. Gambut yang dikeringkan mempercepat kebakaran. Sungai yang dipersempit mempercepat bencana. Kadang kita tidak perlu membaca sains untuk melihatnya. Kita hanya perlu memandang kampung yang tergenang.

Bahasa Ayat dan Sains

Ada momen ketika Al-Qur’an dan ilmu lingkungan berbicara dalam bahasa yang sama. Ar-Rum ayat 41 menyebut “ulayah tangan manusia”. Wallace menyebut “human-driven catastrophe”. Dua-duanya menunjuk pada pelaku yang sama: kita.

Ayat itu menyebut bahwa bencana yang kita alami baru “sebagian”. Wallace menyebut bahwa ini baru permulaan. Al-Qur’an mengajak manusia “kembali”. Ilmu pengetahuan mengajak manusia “berhenti sebentar”. Dua-duanya sebenarnya sedang memanggil kita ke arah yang sama: sadar sebelum terlambat.

Sebagai santri, kita kadang terlalu sibuk mencari makna gaib dalam bencana. Padahal ayat ini menolak itu. Ayat ini tidak menyebut malaikat, jin, atau musuh tak terlihat. Ia menyebut tangan manusia. Sangat konkret. Sangat duniawi.

Lalu, kita mau apa? Pertanyaan ini seperti bayangan yang mengikuti setiap banjir, longsor, dan kabut asap.

Mungkin kita tidak bisa menanam kembali seluruh hutan Sumatra besok pagi. Mungkin kita tidak bisa menghentikan industri raksasa hanya dengan marah.Tapi kita bisa mulai dengan menata ulang cara memandang alam. Bukan sebagai stok, bukan sebagai pasar, bukan sebagai halaman kosong yang siap dibangun.

Dalam tradisi pesantren, Bumi disebut amanah. Kata yang pelan, tapi sangat berat. Menerima amanah tanpa dijaga hanyalah cara lain untuk mengkhianatinya.

Ketika air bah datang dan televisi menayangkan rumah-rumah hanyut, ayat Ar-Rum itu seperti mengetuk hati kita: “Supaya mereka kembali.”

Kembali ke mana? Mungkin kembali ke kesadaran bahwa manusia tidak bisa berjalan sendiri. Mungkin kembali pada akhlak ekologis yang selama ini kita anggap “urusan ahli lingkungan”. Mungkin kembali pada cara nenek moyang memperlakukan hutan sebagai tetangga, bukan tambang. Wallace memperingatkan dengan grafik dan data.Al-Qur’an memperingatkan dengan ayat. Dan Indonesia memperingatkan dengan banjir.

Ketiganya sedang memanggil kita, santri atau bukan, untuk berhenti pura-pura tidak tahu. Karena fasad di darat dan laut sudah tampak. Dan peringatan, seperti banjir, tidak selalu datang dua kali.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan