Bahasa Indonesia Boleh Profan, Namun Tak Boleh Kotor*

*Pidato kunci disampaikan dalam Pembukaan Pameran 60 Tahun Majalah Horison di PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 23 April 2026.

Saudara-saudara yang saya hormati,

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita berkumpul hari ini di sebuah ruang yang tidak sekadar menyimpan dokumen, tetapi menyimpan ingatan, menyimpan jejak batin, dan mungkin juga menyimpan kegelisahan yang belum usai. Di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin ini, kita berhadapan dengan sesuatu yang lebih dari sekadar arsip: kita berhadapan dengan waktu yang masih berbicara —tentang yang terbit dan yang tenggelam atau dilupakan.

Pameran 60 Tahun Majalah Horison, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin, berlangsung dari 23 April hingga 24 Mei 2026. Tepat hari ini kita membukanya. Saya ingin menyampaikan hormat dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin serta tim kurator —Esha Tegar Putra, Cempaka Pertiwi, Serrum Arthandler— beserta seluruh panitia, yang telah bekerja keras merawat ingatan kolektif ini. Mereka tidak sekadar menggantung bingkai atau menata etalase. Mereka telah membangun sebuah jembatan waktu. Lewat zonasi yang terencana —dari linimasa, dewan redaksi, Angkatan ’66, ilustrasi, lintasan pemikiran, hingga evolusi desain— kita diajak menyusuri denyut nadi sebuah majalah yang lahir di tengah kepungan sejarah yang tak pernah ramah.

Saya berdiri di sini bukan sebagai pemimpin redaksi Horison lagi. Jabatan itu telah saya letakkan. Dan justru karena itu, saya bisa melihat dengan lebih jernih —dengan rasa terima kasih yang paling dalam, dan mohon maaf yang tak terhingga, terutama kepada Taufiq Ismail, satu-satunya pendiri Horison yang dalam usia 90 tahun lebih kini masih bersama kita. Saya senang sekali bahwa saya mendengar kabar sayup-sayup ini: redaksi baru bermaksud menghidupkan kembali Horison, dan mereka mungkin akan memulai dari pameran ini. Menurut saya, itu langkah yang cerdas sekaligus berani. Karena, mereka memulai kembali bukan dengan lompatan kosong, tetapi dengan berpijak pada akar — itulah yang disebut tradisi dalam arti paling sehat.

Pameran ini diberi judul “Yang Terbit, Yang Tenggelam”. Saya ingin merenungkan judul itu sejenak.

Dalam sejarah sastra Indonesia, kita terbiasa merayakan yang terbit. Kita memuji edisi-edisi yang terbit tepat waktu, karya-karya yang terbit di media besar, penulis-penulis yang terbit namanya menjadi kanon. Tapi pameran ini mengajak kita melakukan sesuatu yang lebih jujur: ia juga menengok ke dasar —ke apa yang tenggelam. Karya yang tidak dimuat. Gagasan yang kalah dalam perdebatan. Penulis yang dilupakan karena tidak masuk arus utama. Wacana yang kandas karena tak kuasa melawan arus politik atau pasar. Dengan keberanian seperti ini, pameran ini tidak hanya merayakan Horison sebagai institusi sukses. Ia juga merayakan kerapuhan, kegagalan, dan ketidaksempurnaan —karena justru dari situlah pembelajaran sejati lahir.

Saya ingat, ketika saya masih aktif di redaksi, kami sering berdebat tentang apa yang layak terbit dan apa yang tidak. Itu proses yang melelahkan, kadang menyakitkan, karena di belakang setiap keputusan ada pertimbangan estetika, politik, dan juga soal uang. Ada naskah-naskah hebat yang tenggelam karena kolom terbatas. Ada penulis muda yang potensial tetapi tidak sempat kami orbitkan karena kami terlalu sibuk dengan rutinitas. Pameran ini menjadi semacam pengakuan publik: bahwa di balik setiap majalah yang terbit, ada lautan naskah dan mimpi yang tenggelam. Dan itu tidak salah. Yang salah adalah jika kita berpura-pura bahwa yang terbit adalah satu-satunya yang berharga.

Saya ingin mengajak Saudara berjalan sejenak dalam imajinasi, menyusuri zona-zona pameran ini. Di Zona Linimasa, kita melihat rentang waktu 60 tahun —dari edisi Juli 1966 hingga bentuk digital pasca-2010. Setiap tahun punya wajahnya sendiri: ada yang penuh semangat, ada yang lesu, ada yang penuh sensor, ada yang penuh harapan. Di Zona Dewan Redaksi, kita melihat foto-foto para penggawa dari masa ke masa —wajah-wajah yang sebagian sudah almarhum, sebagian masih berjuang di tempat lain.

Di Zona Angkatan ’66 dan Peran H.B. Jassin, kita diingatkan pada sebuah generasi yang lahir dari pergolakan, yang mencoba merumuskan ulang hubungan antara sastra, politik, dan kebebasan. Tapi juga diingatkan bahwa Jassin, sang “Dokter Sastra”, memiliki sisi lain yang jarang dirayakan secara publik: ia adalah seorang pencari spiritual yang gelisah, yang akhirnya menemukan ketenangan dalam irama ayat-ayat suci. Kita akan kembali ke Jassin nanti, karena ia adalah kunci dari refleksi saya hari ini.

Lalu ada Zona Ilustrasi, yang menunjukkan bahwa Horison tidak hanya menerbitkan teks, tetapi juga membangun dialog antara kata dan gambar. Ada Zona Audio, di mana kita bisa mendengar rekaman suara penyair yang sudah tiada —suara yang seolah bangkit dari kematian untuk membacakan puisinya sendiri. Ada pula zona evolusi desain, yang memperlihatkan bahwa majalah ini juga berubah secara visual, dari yang sederhana hingga yang lebih berani, dari cetak ke digital.

Saudara-saudara, pameran ini adalah sebuah pernyataan: sebuah majalah sastra tidak pernah hanya tentang apa yang terbit di atas kertas. Ia tentang jaringan manusia, tentang perdebatan yang tidak kunjung usai, tentang kegagalan yang diakui, dan tentang keteguhan untuk terus terbit meski sering hampir karam.

Ada satu hal yang membuat pameran ini memiliki makna yang lebih dalam: ia berlangsung di bawah nama H.B. Jassin, seorang yang sepanjang hidupnya tidak hanya membaca dan menilai sastra, tetapi juga menjaga ingatan sastra itu sendiri. Seorang yang percaya bahwa apa yang pernah ditulis —bahkan dalam sobekan kertas pun— tidak boleh hilang begitu saja dari kesadaran kita sebagai bangsa. Dan mungkin, di sinilah makna simbolik pameran ini paling terasa.

Ini bukan sekadar pameran. Ini adalah sebuah peristiwa kebudayaan. Artinya, ia tidak hanya menyajikan benda-benda untuk dilihat, lalu usai. Ia mengubah cara kita melihat. Ia menggugat cara kita mengingat. Ia memaksa kita bertanya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan: apakah yang kita warisi ini masih hidup, atau hanya tinggal nama?

Dan di sinilah nama H.B. Jassin menjadi lebih dari sekadar label pada sebuah gedung. Ia adalah sebuah metode. Sepanjang hidupnya, Jassin tidak hanya membaca dan menilai sastra; ia juga mengarsipkannya. Ia menyimpan surat, kliping, naskah, foto, bahkan kuitansi honor penulis —semua yang menurut orang lain mungkin remeh. Ia percaya bahwa apa yang pernah ditulis, bahkan dalam secarik kertas sekalipun, tidak boleh hilang begitu saja dari kesadaran kita sebagai bangsa. Karena baginya, ingatan adalah fondasi peradaban. Tanpa ingatan, kita adalah bangsa yang amnesia, yang mudah diombang-ambingkan oleh slogan dan lupa pada janji-janji “kebenaran”.

Maka, pertemuan antara Horison dan ruang ini bukanlah kebetulan. Horison adalah majalah yang lahir dari semangat keterbukaan dan keberanian estetis. PDS H.B. Jassin adalah tempat di mana semangat itu dirawat dalam bentuk arsip —dingin, sunyi, namun setia dan sepenuh hati. Dengan pameran ini, seolah-olah Horison kembali ke rumahnya sendiri, ke tempat di mana ingatan dijaga dengan sekuat tenaga. Barangkali juga untuk diuji kembali: apakah —dengan satu dan lain cara— ia masih memiliki alasan untuk hidup?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab, dunia telah berubah. Majalah cetak kian sunyi. Generasi muda lebih akrab dengan layar gawai daripada dengan kertas yang mulai menguning. Otoritas sastra tidak lagi sepenuhnya berada di tangan redaksi, tetapi tersebar di ribuan akun media sosial, di algoritma yang tidak pernah membaca puisi dengan hati yang bergetar. Di tengah semua itu, Horison hadir dengan pameran ini —bukan dengan gegap gempita, tetapi dengan ketenangan sebuah pertanyaan. Bukan dengan klaim kemenangan, tetapi dengan pengakuan jujur atas apa yang terbit dan apa yang tenggelam.

Dan justru karena kejujuran itulah, pameran ini menjadi peristiwa kebudayaan dalam arti sejati. Ia tidak memaksakan jawaban. Ia memberi ruang bagi setiap pengunjung untuk merenung: apakah saya masih peduli pada bahasa yang bersih? Apakah saya masih percaya bahwa kata-kata bisa menjadi lebih dari sekadar alat? Apakah saya mau mengambil bagian dalam menjaga estafet yang sudah berjalan 60 tahun ini?

Saudara-saudara,

Saya tidak tahu apakah Horison akan bertahan 60 tahun lagi. Tapi saya tahu, setidaknya pada hari ini, di ruang ini, di bawah nama H.B. Jassin, ia masih berbicara. Ia masih menggema. Dan bagi sebuah majalah sastra, tidak ada kemenangan yang lebih besar daripada masih didengar, masih diperdebatkan, masih dirindukan —di tengah dunia yang semakin keras dan bising.

Pameran ini adalah bukti bahwa Horison belum usai. Ia hanya berganti napas. Dan di bawah atap PDS H.B. Jassin, napas itu terasa hangat, seperti kembali ke pangkuan seorang penjaga ingatan sastra yang paling setia.

Di tengah semua itu, saya ingin mengajukan sebuah refleksi kecil, yang mungkin akan saya ulang beberapa kali dalam pidato ini. Refleksi itu adalah: Bahasa Indonesia boleh profan, namun tak boleh kotor.

Apa maksudnya?

Saudara-saudara,

Sekali lagi, bahasa Indonesia boleh profan, namun tak boleh kotor.

Pada hemat saya, inilah salah satu spirit paling mendasar majalah sastra Horison dan H.B. Jassin, dua institusi kebudayaan kita yang kini telah menjadi sejarah itu. Tapi sebagai sejarah, Horison dan H.B. Jassin bukanlah proyek kebudayaan yang selesai. Ia tetap hidup, diwariskan, dan —dalam satu dan lain cara— diwarisi antargenerasi secara produktif dan kreatif. Pameran 60 Tahun Majalah Horison yang bertempat di PDS H.B. Jassin ini adalah bukti bahwa spirit itu tetap menyala. Tidak redup. Tidak padam. Ia hanya berganti tangan, berganti napas, berganti cara menyala.

Dilihat secara lebih dalam, pameran tersebut bukan sekadar arsip yang dipajang, melainkan sebuah simbol yang kaya makna. Ia menghadirkan lapisan sejarah, estetika, dan sakralitas bahasa Indonesia dalam satu ruang. Melalui pameran ini, ketiganya —sejarah, estetika, dan sakralitas bahasa Indonesia— kini menggemakan spirit tadi. Halus, namun seakan terdengar lantang. Karena, ia tidak berbicara dengan volume suara, melainkan dengan bobot eksistensial.

Lapisan Sejarah: Kerja Profan yang Tak Boleh Kotor

Mari kita mulai dari lapisan pertama: sejarah. Pameran ini memajang fakta-fakta konkret. Edisi demi edisi. Foto demi foto. Surat, kuitansi, koreksi naskah, notulen rapat. Ini adalah artefak dari kerja profan —kerja yang melelahkan, yang tidak romantis, yang kadang membuat redaksi berdebat hingga tengah malam tentang apakah sebuah koma perlu dihapus atau sebuah kata perlu diganti. Kerja yang harus berurusan dengan uang, dengan percetakan, dengan distributor yang kadang tidak membayar, dengan pembaca yang marah karena karyanya tidak dimuat.

Sejalan dengan itu, sobekan wesel, surat-surat pribadi, tulisan tangan penulis, manuskrip, kliping koran —semua itu dirawat Jassin sepenuh hati di rumahnya yang penuh sesak. Bukan karena ia seorang kolektor yang obsesif, tetapi karena ia percaya bahwa dalam setiap sobekan kertas itu, ada denyut kehidupan yang suatu saat akan dibutuhkan. Wesel, misalnya: secarik kertas kecil yang nilainya mungkin hanya beberapa ratus rupiah, tetapi di atasnya tercatat perjalanan uang dari penerbit ke penulis —sebuah bukti bahwa sastra juga urusan makan, bahwa penulis pun perlu hidup, bahwa karya tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kerja dan upah yang kadang tak seimbang. Jassin menyimpannya. Bukan karena ia pelit, tetapi karena ia tahu: suatu hari, seorang peneliti akan bertanya, “Berapa sebenarnya honor pengarang tahun 1960-an?” Dan jawabannya ada di sobekan wesel itu.

Kerja itu profan. Sangat profan. Tidak ada kesucian dalam mengoreksi cetakan yang salah. Tidak ada kemuliaan dalam menagih utang ke agen majalah. Tapi kerja itu kiranya tidak pernah kotor. Mengapa? Karena ia dikerjakan dengan integritas, dengan tulus. Karena, Horison dari masa ke masa meyakini bahwa apa yang mereka jaga adalah bahasa —dan bahasa adalah amanah. Demikian juga tak ada kesucian pada kerja menyimpan sobekan wesel. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa suatu saat, secarik kertas kecil itu akan berbicara lebih keras daripada seribu kata propaganda. Dan, mungkin karena sangat profan, meskipun tidak kotor, semua itu tenggelam.

Dan pameran ini, dengan jujur, memang juga menampilkan yang tenggelam. Edisi yang gagal. Gagasan yang kandas. Nama-nama yang tidak jadi terkenal. Inilah kejujuran sejarah: bahwa tidak semua yang diusahakan berhasil terbit. Tapi yang tenggelam pun tidak kotor. Ia tenggelam karena ombak zaman, bukan karena niat busuk. Dan justru dengan mengakui yang tenggelam, pameran ini membedakan dirinya dari pameran-pameran lain yang hanya memuja kejayaan. Ini adalah pameran yang dewasa. Yang tidak takut pada bayang-bayangnya sendiri.

Akhirnya, kita sampai pada sejarah sebagai fondasi, yakni sejarah sebagai kerja konkret dalam menjaga bahasa —tugas utama Horison dan Jassin. Bukan sejarah sebagai nama besar, bukan sebagai tanggal-tanggal heroik, bukan sebagai narasi kemenangan yang dipoles agar tampak gemilang. Sejarah yang saya maksud di sini adalah sejarah yang berkeringat: ia terdiri dari hari-hari biasa ketika para redaktur duduk membaca naskah yang masuk, memilah mana yang layak terbit dan mana yang perlu ditolak dengan surat penolakan yang santun; ketika mereka berdebat tentang sebuah koma, tentang sebuah diksi yang terlalu asing atau justru terlalu biasa; ketika mereka harus memotong sebuah esai karena kolom terbatas, lalu menyampaikan permohonan maaf kepada penulisnya.

Kalau Horison adalah kerja kurasi, seleksi, dan disiplin bahasa, maka Jassin adalah kerja dokumentasi, kritik, dan kesadaran arsip. Dua wajah dari satu tubuh yang sama: tubuh yang bernama penjagaan bahasa Indonesia.

Horison bekerja di permukaan: ia memilih apa yang pantas dibaca oleh publik. Ia adalah pintu gerbang. Setiap bulan (atau setiap terbitan), para redaktur menghadapi tumpukan naskah —ada yang indah, ada yang ambisius tapi gagal, ada yang sekadar curhat tanpa bentuk. Mereka harus memutuskan. Dan keputusan itu tidak pernah mudah. Sebab, di belakang setiap naskah yang ditolak, ada seseorang yang mungkin menangis, yang mungkin berhenti menulis, yang mungkin mengirim surat kemarahan. Tapi Horison harus tetap tegas. Bukan karena sombong, tetapi karena disiplin bahasa adalah syarat mutlak agar bahasa tidak kotor. Jika semua naskah dimuat tanpa seleksi, maka kualitas akan  runtuh, dan pembaca akan kehilangan pegangan tentang apa itu bahasa yang baik. Kurasi bukanlah tindakan kekuasaan; ia adalah tindakan tanggung jawab.

Sementara, Jassin bekerja di kedalaman: ia tidak hanya membaca dan menilai, tetapi juga menyimpan. Ia sadar bahwa apa yang terbit hari ini akan menjadi sejarah besok. Maka ia mengarsipkan tidak hanya naskah yang sudah jadi, tetapi juga proses di baliknya — koreksi tangan, catatan pinggir, surat penolakan yang ditulis dengan susah payah, bahkan amplop bekas yang masih menempel perangko. Ia tidak memisahkan antara yang “penting” dan yang “remeh”. Karena baginya, remeh hari ini bisa menjadi penting 50 tahun kemudian. Kesadaran arsip yang dimiliki Jassin adalah sebuah bentuk kecemasan yang produktif: cemas bahwa suatu saat bangsa ini lupa, maka ia siapkan jala ingatan sekuat tenaga.

Dan kerja kurasi dari Horison serta kerja arsip dari Jassin, dua-duanya adalah kerja yang profan. Tidak ada kesucian dalam memilah naskah sambil minum kopi pahit di ruang redaksi yang sempit. Tidak ada kemuliaan dalam menempel kliping koran dengan lem di meja makan yang penuh tumpukan. Tapi kerja itu, sekali lagi, tidak pernah kotor. Mengapa? Karena keduanya dikerjakan dengan integritas: Horison menolak memuat karya karena bujukan atau sekadar nama besar pengarang; Jassin tidak pernah memanipulasi arsip untuk membangun citranya sendiri. Mereka bekerja dengan tulus, dengan kesadaran bahwa yang mereka jaga adalah bahasa, dan —sekali lagi— bahasa adalah amanah.

Dalam konteks itu, kurasi dan dokumentasi adalah kesadaran kebudayaan: kesadaran bahwa sebuah bangsa tidak akan pernah dewasa jika ia tidak pernah belajar dari apa yang telah ia tulis, baca, dan perdebatkan. Kesadaran bahwa masa depan tidak mungkin kokoh tanpa fondasi masa lalu yang jujur —bukan masa lalu yang dipalsukan, bukan masa lalu yang dipotret hanya dari sudut terbaiknya, melainkan masa lalu yang utuh dengan segala keringat, air mata, dan juga kebodohannya. Kesadaran bahwa menjaga bahasa berarti menjaga integritas kolektif, karena bahasa adalah rumah kita bersama. Jika rumah itu kotor, maka kita semua yang tinggal di dalamnya akan merasa malu, meskipun kita tidak ikut mengotorinya.

Kurasi tanpa integritas hanyalah pameran kekuasaan: ia memajang yang menguntungkan dan menyembunyikan yang tidak. Dokumentasi tanpa kejujuran hanyalah pembangunan monumen diri: ia mengabadikan nama dan menghapus jejak pihak lain. Tapi Horison dan Jassin melakukan sebaliknya. Mereka memajang yang terbit, tetapi juga mengakui yang tenggelam. Mereka mendokumentasikan kejayaan, tetapi juga menyimpan bukti-bukti kegagalan, keraguan, dan perselisihan. Di sinilah letak keberanian moral yang sesungguhnya: berani tidak menjadi pahlawan dalam cerita yang kita tulis sendiri. Berani menampilkan wajah apa adanya, karena kita percaya bahwa kebenaran lebih mulia daripada pencitraan.

Dari fondasi sejarah yang konkret inilah —dari kerja kurasi dan dokumentasi— pameran “Yang Terbit, Yang Tenggelam” lahir. Ia mengingatkan bahwa kerja kurasi memang “mengorbitkan”, namun juga mengandung konsekuensi “menenggelamkan”. Dari yang terbit, lahirlah kanon; tetapi pada saat yang sama, ada gagasan yang terlupakan, penulis yang hilang, kemungkinan yang tak dilanjutkan. Dengan demikian, pameran ini mengirimkan pesan: sejarah sastra bukan hanya tentang apa yang tercatat atau bertahan, melainkan juga tentang apa yang hilang. Namun justru karena kejujuran itulah —karena ia tidak berpura-pura bahwa semua bisa terbit— pameran ini menjadi monumen bagi kerja profan yang kiranya tidak pernah kotor. Dan karena ia monumen, ia juga adalah pengadilan: ia mengundang kita untuk bertanya apakah saat ini masih ada yang bersedia melakukan kerja serupa dengan integritas yang sama?

Lapisan Estetika: Menjaga Martabat Bahasa

Lapisan kedua adalah estetika. Horison sejak awal memperjuangkan bahasa yang indah, yang padat, yang berirama —yang kita sebut sastra. Bukan karena estetika adalah hiasan, tetapi karena estetika adalah roh bahasa, dan terutama benteng melawan kekotoran. Bahasa yang kotor —yang kasar tanpa alasan, yang manipulatif, yang dangkal— tidak akan pernah bisa estetis, tidak akan pernah mencapai tingkat tertinggi estetika bahasa. Sebaliknya, bahasa yang estetis menuntut kejujuran: ia tidak bisa berbohong dengan elegan, karena kebohongan akan merusak ritmenya sendiri.

Horison dan H.B. Jassin adalah penjaga estetika yang paling keras. Mereka menolak bahasa yang asal jadi, yang asal provokatif, yang asal populis. Bukan karena mereka elitis, tetapi karena mereka tahu: ketika bahasa kehilangan bentuk estetiknya, ia mudah dijadikan alat. Dan ketika ia menjadi alat, ia mudah kotor. Di atas landasan itulah, kebebasan berkarya dan berpikir —khususnya secara historis di awal Orde Baru— tidak pernah dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Justru sebaliknya: kebebasan itu harus dipertanggungjawabkan melalui bentuk. Sebuah puisi boleh berteriak melawan kekuasaan, tetapi teriakannya harus tertata; sebuah cerpen boleh menggugat kemunafikan, tetapi gugatannya harus berirama. Tanpa bentuk yang matang, yang lahir bukanlah kebebasan, melainkan kekacauan yang mudah dijinakkan atau justru dijadikan kambing hitam oleh kekuasaan.

Mari kita ingat konteks kelahiran Horison pada Juli 1966. Indonesia baru saja keluar dari pusaran kekerasan. Bahasa dipakai sebagai alat propaganda oleh berbagai kubu. Kebenaran mudah dipalsukan. Dalam situasi seperti itu, Horison hadir dengan sebuah tawaran yang radikal: kembalikan bahasa Indonesia kepada martabatnya. Caranya bukan dengan membungkam kritik, melainkan dengan memastikan bahwa kritik itu disampaikan dalam bentuk yang layak. Maka, sastra menjadi semacam laboratorium etika: di dalamnya, setiap kata harus dipertimbangkan, setiap irama harus dirasakan, setiap diksi harus diuji. Tidak ada ruang bagi bahasa yang asal-asalan, karena asal-asalan adalah pintu masuk bahasa yang kotor.

Jassin, sebagai kritikus sastra paling berpengaruh di masanya, adalah benteng terdepan estetika ini. Ia tidak segan-segan menulis ulasan puluhan halaman tentang sebuah puisi, mengupas pilihan diksi, ritme, enjambemen, hingga penggunaan tanda baca. Ia juga tidak segan-segan mengkritik keras karya yang menurutnya gagal memenuhi standar estetis —bahkan jika pengarangnya adalah sahabat dekatnya sendiri. Bukan karena ia suka merendahkan, tetapi karena ia percaya bahwa pujian yang tidak jujur lebih berbahaya daripada kritik yang tajam. Pujian palsu membuat penulis terlena, lalu berhenti berkembang, lalu mulai menulis dengan malas, lalu bahasanya menjadi kotor. Itulah yang ia hindari.

Dalam konteks itu, Horison —termasuk Jassin di dalamnya— lahir dari kegelisahan intelektual dan keberanian moral. Kegelisahan intelektual, karena mereka sadar bahwa bahasa Indonesia masih relatif muda, masih dalam proses pembentukan, masih sangat mungkin terjerumus ke dalam kekotoran jika tidak dijaga. Keberanian moral, karena mereka bersedia mengambil posisi yang tidak selalu populer. Menolak naskah seorang teman adalah tindakan yang tidak nyaman. Mengkritik karya seorang tokoh sastra yang sudah dihormati adalah risiko sosial. Tapi mereka melakukannya. Bukan karena mereka haus kekuasaan atau ingin dianggap paling benar, tetapi karena moral estetis mereka berkata: lebih baik tidak populer daripada tidak jujur.

Dari kegelisahan dan keberanian itulah estetika Horison terbentuk: sebuah estetika yang tidak pernah puas dengan yang sudah baik, yang sudah dicapai, estetika yang selalu mencari yang lebih baik, yang eksperimental, yang selalu bertanya “apakah ini sudah cukup indah, sudah cukup jujur, sudah cukup hidup?” Dan pertanyaan itu pun tak pernah berhenti.

Majalah sastra Horison dan sosok H.B. Jassin tidak sekadar berfungsi sebagai media cetak dan kritikus, melainkan menjelma sebagai arena pertemuan berbagai spektrum karya sastra dan pemikiran dari berbagai generasi. Di balik lembarannya, terjadi pertarungan gagasan yang sengit, di mana estetika, pemikiran, dan gaya bahasa diuji serta diperdebatkan secara terbuka. Sebagai “Paus Sastra Indonesia”, Jassin menjadi wasit sekaligus kurator yang menentukan standar mutu. Dalam batas berbeda, keduanya adalah panggung krusial bagi lahirnya kanon sastra sekaligus medan laga bagi pergolakan intelektual yang membentuk arah sastra Indonesia modern.

Dan di sinilah letak pentingnya estetika bagi spirit “profan tak boleh kotor”. Jika estetika adalah benteng, maka ia menjaga agar bahasa Indonesia —yang sehari-hari dipakai untuk berdagang, bergosip, berpolitik, dan mengeluh— tidak jatuh ke dalam jurang kekasaran dan kepalsuan. Sebuah iklan boleh profan tujuannya (misalnya menjual sabun), tetapi ia tidak boleh kotor (berbohong tentang khasiatnya). Sebuah pidato politik boleh profan kepentingannya (misalnya meraih suara), tetapi ia tidak boleh kotor (misalnya menebar kebencian atau kebohongan). Dan sastra, dengan estetika yang dijaganya, adalah sekolah bagi profanitas yang bersih. Ia mengajarkan bahwa kata-kata adalah sesuatu yang hidup, yang bisa menyakiti atau menyembuhkan, yang bisa membangun atau meruntuhkan. Maka, setiap kali kita menulis atau berbicara, kita sedang mempertanggungjawabkan sesuatu di hadapan bahasa itu sendiri.

Sastra menjalankan tugas tertingginya di ranah profanitas ini: menjaga roh dan martabat bahasa. Ia tidak perlu menjadi kitab suci. Ia tidak perlu didakwahkan dari mimbar. Ia cukup hadir sebagai teguran halus setiap kali kata-kata mulai kehilangan arah. Sastra adalah disiplin yang membuat bahasa tetap jernih. Bukan jernih dalam arti sederhana dan mudah, tetapi jernih dalam artian tidak keruh oleh kebohongan, tidak pekat oleh kepalsuan, tidak bau oleh kemunafikan, tidak kotor oleh buzzer, tidak jorok oleh hoaks, tidak busuk oleh ujaran kebencian. Ia seperti air yang mengalir dari hulu yang masih bersih: ia boleh melewati lumpur, tetapi ia tidak akan menjadi lumpur.

Sastra adalah yang menahan kata-kata dari kejatuhan menjadi banal. Dalam dunia yang semakin riuh dengan slogan, klikbait, hoaks, ujaran kebencian, dan status media sosial yang berganti setiap detik, kata-kata mudah sekali kehilangan bobotnya. Cinta diucapkan terlalu mudah sehingga ia kehilangan getarannya. Benci diumbar terlalu cepat sehingga ia kehilangan maknanya. Kebenaran diklaim oleh semua pihak sehingga ia kehilangan rujukannya. Di tengah semua itu, sastra hadir sebagai rem yang tidak terlihat: ia memaksa kita berhenti sejenak, membaca ulang, merasakan lagi, menimbang lagi, bertanya apakah sebuah kata benar-benar pantas diucapkan. Sebuah puisi yang baik tidak bisa dibaca sambil lalu. Ia menuntut waktu, perhatian, dan kerentanan. Dan dalam tuntutan itulah, bahasa diselamatkan dari kekeringan makna, dari ketergesaan yang terburu-buru.

Dalam arti itu, sastra menjaga bahasa agar tidak kehilangan bobot batinnya. Bobot batin adalah sesuatu yang tidak bisa diukur dengan statistik atau popularitas. Ia adalah gema yang tersisa setelah sebuah kalimat selesai dibaca. Ia adalah rasa yang terus mengendap meski buku sudah ditutup. Tanpa bobot batin, bahasa hanyalah bunyi yang cepat lenyap, seperti air di atas daun talas. Dengan bobot batin, bahasa menjadi sesuatu yang mengendap, yang terus bekerja dalam jiwa pembacanya, yang mengubah cara pandang tanpa perlu bersuara keras. Dalam pengertian ini, sastra adalah latihan rohani yang profan: ia tidak menjanjikan surga, tetapi ia mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang lebih peka, lebih jujur, lebih berani menghadapi kenyataan.

Dan Horison, sejak 1966 hingga hari ini, adalah salah satu rumah bagi latihan rohani yang profan itu. Ia tidak pernah mengaku sebagai lembaga suci. Ia tidak pernah memasang wajah malaikat di sampulnya. Tapi di dalamnya, selama 60 tahun, berlangsung proses yang terus-menerus: menjaga agar kata-kata tetap memiliki bobot, menahan arus banalitas yang tak henti, dan memastikan bahwa bahasa Indonesia —yang sehari-hari dipakai untuk hal-hal yang sangat duniawi— tidak kehilangan martabatnya. Inilah estetika sebagai etika. Inilah sastra sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Horison dan Jassin tidak pernah mengklaim telah berhasil sepenuhnya. Mereka hanya berusaha. Dan pameran ini adalah bukti bahwa usaha itu tidak sia-sia. Karena 60 tahun kemudian, kita masih berbicara tentang estetika. Kita masih peduli pada sastra. Kita masih percaya bahwa bahasa yang indah adalah bahasa yang jujur. Dan kita masih ingin mewariskannya kepada generasi yang akan datang, agar mereka tahu bahwa di tengah segala kebisingan, hoaks, buzzer, dan ujaran kebencian, masih ada ruang untuk kata-kata yang dipahat dengan penuh cinta.

Lapisan Sakralitas: Jassin dan Bacaan Mulia 

Namun bagi Jassin, estetika sastra yang dijaganya —termasuk lewat Horison— ternyata belum cukup. Ada sebuah kerinduan yang tidak terpuaskan oleh puisi Chairil Anwar, tidak juga oleh esai-esai kritiknya sendiri. Ia bertanya: jika bahasa Indonesia mampu melahirkan puisi sekelas “Aku” atau “Doa”, mengapa ia belum pernah dipakai untuk berbicara langsung dengan Yang Maha Kuasa? Pertanyaan inilah yang membawanya ke wilayah yang belum pernah dijamah sastrawan sebelumnya dalam arti yang sesungguhnya: wilayah wahyu.

Inilah lapisan ketiga, lapisan yang paling dalam, yaitu sakralitas bahasa. Di sinilah kontribusi Jassin paling berkilau. Jassin tidak hanya menjaga estetika bahasa Indonesia di ranah profan, yakni bahasa dalam sastra Indonesia modern. Ia terbang lebih jauh. Ia menguji bahasa Indonesia pada tugas tertingginya: menjadi medium wahyu, menjadi alat artikulasi kitab suci. Bacaan Mulia adalah proyek Jassin yang berangkat dari keyakinannya bahwa bahasa Indonesia, betapapun telah modern pencapaiannya dalam sastra Indonesia, masih harus didorong ke posisi yang lebih tinggi lagi. Di sini Jassin menaikkan bahasa Indonesia dari tataran profan ke ranah sakral.

Di tangan Jassin, Bacaan Mulia adalah proyek bahasa, proyek intelektual, dan proyek spiritual sekaligus. Dalam kesempatan yang terbatas ini, cukuplah kita melihatnya sebagai proyek bahasa secara ringkas. (Mudah-mudahan ada kesempatan lain kita mengapresiasi mahakarya Jassin ini sebagai proyek intelektual dan proyek spiritual). Dalam konteks ini, Bacaan Mulia adalah puncak dari evolusi negosiasi bahasa Indonesia antara profanitas dan sakralitas.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Mari kita lihat posisi Jassin dalam lanskap historis. Kita tahu, bahasa Melayu-Indonesia lahir sebagai lingua franca, bahasa perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, bahasa komunikasi antaretnis, bahasa kesultanan, dan seterusnya. Di sini, bahasa Melayu adalah bahasa profan —bahasa yang dipakai untuk tawar-menawar ikan, untuk surat-menyurat dagang, untuk mengatur administrasi kerajaan, untuk bercerita tentang hal-hal keseharian yang tidak pernah mengklaim dirinya suci. Ia adalah bahasa yang cair, lincah, dan rendah hati. Tidak ada pretensi. Tidak ada ambisi untuk menjadi kitab. Ia hanya ingin dipahami.

Tetapi bayangkan: di akhir abad ke-16, seorang sufi di Aceh mengambil langkah yang radikal. Ia menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa syair sufistik. Hamzah Fansuri, sufi itu, berusaha menaikkan derajat bahasa Melayu dari level bahasa profan ke level bahasa sakral. Ia berbicara tentang wujud, tentang fana’, tentang perjalanan jiwa menuju Tuhan —semua dalam bahasa Melayu yang sebelumnya hanya dipakai di dermaga dan pasar. Ini adalah lompatan peradaban: sebuah bahasa yang relatif muda dan sederhana tiba-tiba dipanggil untuk memikul beban metafisika yang paling berat. Dan ia ternyata mampu. Syair-syair Hamzah Fansuri tidak hanya indah, tetapi juga dalam —ia menggetarkan, ia membuka cakrawala, ia membuat bahasa Melayu bernyanyi tentang Yang Tak Terhingga.

Di abad ke-19, Raja Ali Haji melanjutkan upaya penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa sakral ini lewat gurindam, syair, dan kitab-kitabnya. Ia tidak hanya menulis tentang cinta kepada Tuhan, tetapi juga tentang etika, tentang bagaimana menjadi manusia yang beradab. Dalam Gurindam Dua Belas, bahasa Melayu diajak untuk berbicara tentang dosa dan pahala, tentang baik dan buruk, tentang yang halal dan yang haram. Sekali lagi, bahasa profan itu diangkat ke tingkat yang lebih tinggi. Ia tidak lagi hanya menjadi alat transaksi, tetapi menjadi medium bagi pesan-pesan moral yang mengatur kehidupan.

Di titik ini, bahasa Melayu sebagai bahasa profan dan bahasa sakral berjalan beriringan. Tidak ada pertentangan. Sebuah kata yang sama bisa dipakai di pasar untuk menawar harga rempah, dan di surau untuk memuji kebesaran Tuhan. Inilah keunikan bahasa Melayu: ia fleksibel, ia tidak kaku, ia bisa turun dan naik tanpa kehilangan identitasnya. Ia seperti sungai yang mengalir dari gunung ke laut: di hulu ia jernih dan sakral, di hilir ia keruh dan profan, tetapi ia tetap sungai yang sama.

Dalam sastra Indonesia modern, upaya itu dilanjutkan oleh Amir Hamzah dalam puisi-puisi religiusnya. Nyanyi Sunyi adalah contoh paling jelas: bahasa Indonesia yang modern, yang lahir dari Sumpah Pemuda 1928, tiba-tiba dipakai untuk berbicara tentang kerinduan kepada Tuhan. Amir Hamzah tidak meniru gaya Hamzah Fansuri atau Raja Ali Haji. Ia menemukan jalannya sendiri: bahasa yang tenang, berirama, penuh metafor, tetapi tetap sederhana sekaligus bertenaga. Ia tidak berteriak. Ia berbisik. Dan dari bisikan itulah kesakralan muncul, seperti embun yang sangat jernih di daun-daun pagi hari.

Di masa selanjutnya, upaya itu masih diusahakan oleh Chairil Anwar namun dalam skala yang sangat terbatas. Chairil lebih banyak berbicara tentang kematian, kesepian, pemberontakan, dan cinta yang membakar. Ia adalah penyair profan yang gemilang. Ketika ia menyentuh yang sakral —misalnya dalam puisi “Doa”— ia melakukannya dengan nada yang getir, penuh keraguan, bukan dengan ketundukan yang tenang. Chairil adalah anak zaman yang merdeka, tetapi juga terasing dari rumah spiritualnya. Bahasanya berkilau, tetapi kilau itu berasal dari api dunia, bukan dari cahaya langit.

Di titik ini, posisi H.B. Jassin sangat menarik. Jassinlah yang “menemukan” bahasa Chairil yang berkilauan, dan membelanya dengan gigih di tengah serangan para kritikus yang menganggap Chairil terlalu liar, terlalu Barat, terlalu mengabaikan tradisi. Tanpa Jassin, mungkin Chairil tidak akan pernah menjadi ikon sastra Indonesia modern seperti sekarang. Tapi Jassin tidak buta. Ia melihat dengan jelas bahwa kilau bahasa Chairil tampak profan. Cinta, patriotisme, kegelisahan eksistensial —semuanya bergerak di ranah duniawi. Chairil jarang sekali menengadah ke langit dengan pasrah.

Di sinilah, Jassin tidak puas dengan capaian estetika bahasa Chairil yang “hanya” profan itu, betapapun gemilangnya. Ia mencintai Chairil, tetapi ia menyadari batasnya. Ia menginginkan sesuatu yang lebih. Ia tidak menolak yang profan, tetapi ia tidak ingin berhenti di sana. Baginya, bahasa yang hanya mampu mengurus urusan dunia adalah bahasa yang setengah dewasa. Ada kerinduan vertikal dalam diri Jassin yang tidak terpuaskan oleh puisi-puisi pemberontakan Chairil. Ia merindukan bahasa Indonesia yang tidak hanya kuat di ranah dunia, tetapi juga mampu menyentuh yang transenden. Ia merindukan bahasa yang bisa dipakai untuk berdoa, untuk memuji, untuk menundukkan diri di hadapan Yang Tak Terjangkau —tanpa kehilangan kekuatan dan keindahannya.

Dalam konteks itulah, Jassin mengusahakan Bacaan Mulia sebagai upaya sakralisasi bahasa Indonesia. Ia tidak meninggalkan Chairil. Ia justru membawa bekal dari Chairil: keberanian, kebebasan, kepekaan terhadap ritme dan diksi, ketajaman dalam menimbang puisi. Tapi ia melangkah lebih jauh. Ia memasuki wilayah yang tidak pernah dimasuki Chairil: wilayah wahyu. Langkah ini bukan tanpa risiko. Seorang kritikus sastra yang tiba-tiba berbicara tentang firman Tuhan dapat dituduh melampaui batas keahliannya. Tapi Jassin justru melihat risiko itu sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual yang paling tinggi. Di sini, Jassin berhadapan dengan pertanyaan yang sangat menantang: sejauh mana bahasa Indonesia modern mampu membawakan spirit estetika kalam ilahi yang sakral itu —dengan segala pesan ilahiahnya?

Dengan Bacaan Mulia, Jassin menunjukkan bahwa bahasa Indonesia yang modern, yang lahir dari pergulatan kolonial dan revolusi, ternyata mampu —setelah diuji, setelah diasah, setelah ditempa— menjadi medium bagi firman Ilahi dalam batas maksimalnya. Ia tidak menggantikan bahasa Arab. Ia tidak menyamai al-Qur’an. Tapi ia membuktikan bahwa bahasa Indonesia pantas dipakai untuk hal yang paling tinggi, dengan standar estetika yang maksimal, dengan getaran akan yang sakral. Dengan demikian, dalam Bacaan Mulia, bahasa tidak lagi dipilih untuk bertahan, tetapi diuji untuk melampaui —melampaui capaian sastra, melampaui terjemahan al-Qur’an yang sudah ada, melampaui yang profan untuk mencapai yang transenden. Demikianlah, Jassin mengangkat bahasa dari pasar ikan ke altar doa, dari pelabuhan ke mihrab.

Bagi Jassin, inilah tugas tertinggi bahasa Indonesia modern: bukan sekadar menjadi alat komunikasi yang efisien, bukan sekadar menjadi bahasa sastra, bahasa intelektual, bahasa politik, atau bahasa pasar, melainkan juga —dan terutama— menjadi bahasa yang sanggup menampung getaran ketuhanan tanpa kehilangan jati dirinya sendiri. Ialah tugas untuk mengingatkan bahwa sebuah bangsa yang merdeka tidak hanya membutuhkan bahasa untuk berdagang dan berkuasa, tetapi juga bahasa untuk berdoa, merendah, dan menyembah.

Dan dari sanalah lahir konsekuensi etis yang paling tegas: jika bahasa Indonesia mampu menyentuh yang sakral, sanggup menampung getaran kalam ilahi, maka di ranah profan sekalipun ia tak boleh kotor. Karena, kekotoran adalah penghinaan terhadap kemampuan bahasa Indonesia dalam menyentuh yang sakral, yang transenden. Ketika bahasa itu sudah terbukti mampu memikul beban yang paling berat —beban wahyu— maka tidak ada lagi alasan untuk membiarkannya tercecer dalam kekotoran sehari-hari. Bahasa yang kotor adalah bahasa yang kehilangan martabat.

Dan dari sanalah spirit “bahasa boleh profan, namun tak boleh kotor” mencapai puncaknya. Jika bahasa Indonesia mampu menyentuh yang sakral —mampu menjadi wadah firman Tuhan— maka di ranah profan pun ia wajib bersih. Tidak ada alasan untuk membiarkannya kotor. Tidak ada alasan untuk menjadikannya alat kebohongan, ujaran kebencian, hoaks, atau sekadar kemalasan berpikir. Proyek Jassin adalah argumen paling kuat bahwa bahasa Indonesia layak dihormati.

Maka, bahasa harus selalu dijaga, dirawat, disucikan dalam penggunaannya, meskipun ia tetap berada di ranah profan —di mimbar politik, di medsos, di algoritma, di dunia digital. Karena kesucian, bagi Jassin, bukanlah milik eksklusif bahasa Arab atau bahasa Latin. Kesucian adalah cita-cita yang harus diusahakan oleh setiap bahasa yang hidup —termasuk bahasa Indonesia yang masih muda, yang masih haus akan pengakuan, yang masih terus mencari bentuknya yang paling sempurna.

Penutup: Kedalaman Sejarah dan Kesadaran akan Kehilangan

Saudara-saudara yang saya hormati,

Tapi Bacaan Mulia juga adalah sebuah ironi. Ia “terbit” sebagai karya monumental, namun “tenggelam” dalam praktik penerjemahan al-Qur’an di Indonesia. Ia dihormati, tetapi tidak dijadikan rujukan utama. Ia dibicarakan, tetapi tidak menempati panggung pusat. Di sinilah pameran ini memainkan perannya: dengan digelar di rumah Jassin, ia mengapresiasi yang tenggelam itu. Ia memberi tempat pada karya yang mungkin tidak populer, tetapi sangat luhur. Sebagai terjemahan terbaik al-Qur’an, Bacaan Mulia tenggelam. Itu fakta yang tak bisa kita mungkiri. Namun di rumah Jassin ini, di PDS yang penuh dengan arsip yang padat, yang tenggelam itu diapresiasi. Ia diberi tempat. Ia diakui sebagai bagian dari sejarah yang tidak pernah selesai. Yang tenggelam pun berharga, bahkan kadang justru amat sangat berharga —Bacaan Mulia, misalnya.

Dan di situlah letak kedalaman sejarah dan kesadaran akan kehilangan yang hendak ditawarkan pameran ini.

Kedalaman sejarah tidak hanya tentang mengetahui tanggal dan peristiwa. Ia tentang memahami bahwa setiap yang terbit menyisakan yang tenggelam —dan yang tenggelam itu tidak mati. Ia hanya menunggu, di rak-rak yang diam, di lemari arsip yang sunyi, di ingatan yang mulai kabur, untuk suatu hari kita baca ulang, juga dibaca oleh generasi yang berbeda sudut pandang. Pameran ini adalah undangan untuk membuka kembali apa yang selama ini terpendam.

Kesadaran akan kehilangan adalah pengakuan bahwa kita tidak akan pernah bisa memulihkan semua yang telah tenggelam. Ada naskah yang terbakar. Ada suara yang tak sempat direkam. Ada gagasan yang mati sebelum sempat lahir. Tapi justru dengan menyadari kehilangan itu, kita menjadi lebih bersyukur pada apa yang masih tersisa —dan lebih bertanggung jawab pada apa yang masih bisa kita jaga.

Saudara-saudara,

Pameran 60 Tahun Majalah Horison ini, dengan segala zona dan etalasenya, adalah sebuah monumen bagi yang terbit dan yang tenggelam sekaligus. Ia tidak meminta kita untuk meratapi yang hilang. Ia meminta kita untuk belajar dari kerapuhan: tidak ada kebesaran yang abadi, tidak ada kanon yang tak tergantikan, tidak ada bahasa yang otomatis bersih.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Saya tidak tahu apakah Horison akan bertahan 60 tahun lagi. Saya tidak tahu apakah pameran ini akan dikenang atau justru tenggelam bersama ribuan pameran lain. Tapi saya tahu, pada hari ini, di ruang yang diberi nama H.B. Jassin ini, kita semua sedang bersama-sama mengucapkan sebuah ikrar. Ikrar bahwa kita masih peduli pada bahasa. Ikrar bahwa kita masih percaya pada kekuatan kata-kata yang jujur. Ikrar bahwa kita tidak akan menyerahkan bahasa Indonesia kepada mereka yang hanya ingin mengotori dan menungganginya. Profan itu manusiawi, namun kotor itu palsu dan manipulatif.

Jika kita gagal menjaganya, bahasa Indonesia memang tidak akan mati —tetapi ia akan kehilangan martabatnya. Dan bangsa yang kehilangan martabat bahasanya, lambat laun akan kehilangan martabat dirinya.

Pada saatnya, pameran ini akan usai. Etalase akan ditutup. Zona-zona akan dibongkar. Tapi semoga spiritnya tetap menyala. Karena perjuangan menjaga bahasa tidak pernah usai. Ia hanya berganti bentuk, berganti tangan, berganti napas.

Terima kasih.

Jamal D. Rahman:

Mmenulis puisi, kritik, dan esai tentang sastra, kebudayaan, dan Islam. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah sastra Horison, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Pemimpin Redaksi Jurnal Sajak, dan mengajar sastra di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menerima Hadiah Majelis Sastra Asia Tenggara dari Menteri Pendidikan Malaysia Dato’ Seri Mahdzir bin Khalid, 2016. Dua bukunya baru saja terbit: Islam, Sastra, Pengetahuan: Pergulatan Wacana Kolonial Laut Banten dan Wahdatul Wujud: Artikulasi Islam dalam Sastra Indonesia Modern. Sementara itu, dua bukunya akan terbit sebentar lagi: Secangkir Kopi Seorang Musafir: Esai-esai Sastra-Budaya dan Sejarah, Sastra, Pesantren: Pergumulan Budaya.

Tinggalkan Balasan