MEREKA YANG BERBAHAYA
Orang-orang patah hati adalah penyair paling piawai. Kata-kata adalah satu-satunya pisau yang tidak membuat tangan berdarah atau begitulah kita berjanji pada diri sendiri, setiap kali mengasahnya lagi.

Mereka duduk di sudut-sudut jalan, meminum kopi dan membicarakan tentang hal-hal yang ada dalam mimpi dan buku puisi. Sekali-kali juga tidur di siang hari menikmati kebutaan sesaat sebelum malam terjadi.
2026.
TAKARIR 1
Aku tumbuh di antara dua bahasa dan tidak sempurna di keduanya. Di bahasa pertama aku terlalu kaku. Di bahasa kedua aku terlalu gagap. Di antara keduanya ada bagian dari aku yang tidak menemukan lanskap kata untuk menggambarkan dosa yang masuk surga.
Mungkin itulah kenapa aku menulis puisi, karena puisi adalah bahasa ketiga, yang tidak punya aturan ucap dan boleh tersendat. Asalkan dapat menampung hal-hal yang tidak muat, aku senantiasa membawany ke neraka dengan pahala.
2026.
TAKARIR 2
Bukan karena aku tidak melihatnya. Aku melihatnya.
Aku baca tiga kali. Aku balas dua kali. Aku hapus keduanya. Kadang ada hari ketika kata-kata terasa terlalu berat untuk dipindahkan dari kepala ke layar, dari satu bahasa ke lainnya. Ketika setiap kalimat yang aku susun terdengar rumpang atau tidak cukup atau terlalu lancang atau terlalu sopan, dan pilihan paling jujur adalah mengurungkan. Aku seharusnya bilang ini lebih awal. Atau sama sekali tidak perlu bilang jika kamu mengenalku dengan cara bertatapan.
2026.
TAKARIR 3
Kita tidak tahu itu percakapan terakhir. Kalau tahu, kita pasti bicara berbeda, lebihkan gula, lebihkan merica,
lebihkan sedikit tentang bumbu sederhana yang kita pikir selalu bisa menambah sedapnya.
Tapi tidak ada yang tahu. Jadi kita bicara tentang cuaca,
tentang rencana minggu depan, tentang hal-hal yang terasa penting di pekarangan.
Dan kemudian seseorang pergi. Dan nanti kita tahu itu percakapan terakhir kali. Sejak itu aku bicara dengan sedikit lebih membuka kamus besar bahasa Indonesia. Tidak selalu berhasil. Tapi tetap aku coba.
2026.
TAKARIR 4
Ia menunjukkan tulisannya dengan segala tanaman yang tumbuh diatasnya. ia sudah percaya pada pupuk mahal dan air zam-zam yang ia gunakan merawat bahasa hingga tumbuh dewasa. tapi selanjutnya ia tidak percaya bahasa itu dipanen dengan kualitas sempurna.
Aku mengerti perasaan itu. Aku pernah di sana.
Aku mungkin masih di sana, kadang. Jadi aku bilang yang jujur. bagian ini sehat, bagian itu kerontang, di sini ada sesuatu yang belum matang tapi menarik untuk ditanam, dan secara keseluruhan ini adalah tulisan seseorang yang sudah punya lahan besar tapi belum percaya bahwa tanamanya layak dibudidayakan. Percayakan. Itu pekerjaan yang tidak ada akhirnya. Tapi mulailah rajin menengoknya.
2026.
TAKARIR 5
Aku kenal puisi ini tapi tidak sepenuhnya mengenalinya.
Senyumnya berbeda, lebih ketawa, lebih kurang suara,
lebih tidak tahu bahwa ada hal-hal yang akan datang
dan mengubah merah mulut itu menjadi hitam.
Aku tidak ingin kembali ke sana. Pada kamus lama.
Bahwa gaya bahasa yang dihapus dalam perjalanan penuh kemacetan tak perlu diselamatkan, biarkan kekal dalam tawa anak kecil di kenangan.
2026.
