BALADA RUMAH GADANG

Jam gadang pun tak lagi gadang
Tersebab waktu mengulumnya lekang
Gadis dan bujang hilang cemerlang
Tersebab pedoman tak lagi dipandang

MARI KE TAMAN KERINDUAN

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mari ke taman kerinduan, wahai jiwa yang resah
Di mana kuntum cinta merekah tanpa lelah
Bukan di mimbar yang tinggi kebenaran terungkap
Tapi di antara kelopak hati yang resah penuh harap
Di jalan setapak yang berliku Kasih-Nya hadir
Memeluk dan merayap ke mudik dan hilir
Menyapa jiwa papa yang kehilangan tuannya
Tiada kidung tawa, hanya dendang sukma yang tersisa
Beberapa insan berbisik
Tuhan tak pernah hadir menelisik
Ia sibuk di singgasana tinggi tak terusik
Sedang siang malam insan ini diberi-Nya kasih

Tanpa pilah-pilih.
Diantara helai nestapa yang mendera
Cinta-Nya menjelma rumah persinggahan
Tiada yang bermukim lama
Selain hati yang terpaut pada tiang-Nya
Mari ke taman kerinduan, Wahai hati yang gersang
Kuntum makrifat akan mendekap ragamu yang lekang
Lepaskan jubahmu yang mulai lusuh
Sebab pakaian iman telah memilih warna yang teduh
Bukan lagi dunia yang menuntunmu pulang
Tapi hakikat Tuhan yang mendendang sayang
Dalam jarak pandangmu yang terbatas
Rindu-Nya mengalir amat deras
Di taman kerinduan ini
Perjumpaanmu tak lagi berbalas sepi
Sebentar lagi suara Haqq akan mengiringi:
“Selamat datang ke pelukan, hambaKu paling berbudi”

KALAM KOLAM

Pagi lebih ramai dari biasanya
Setelah kelompok camar menabur puisi di ranting cemara
Kata-kata berderai di kolam
Yang belum bersih lumutnya
Yang masih hijau airnya
Dengan tabah kata-kata berenang
Berpacu di sela ikan mencari makan
Kata-kata kehilangan rasa
Ikan-ikan kehilangan rona
Di pucuk pokok Tuhan berkalam:
“Pagi yang puisi”

SABDA MAKAM

Kepada jiwa muram
Carilah isyarat kematian
Pada tanah kearifan

Yang harumnya menutur Surga
Yang nisannya mengisah Baka

Tinggalkan Balasan