Bandongan, Terasa Membosankan Tapi Mencerdaskan

Keresahan ngaji bandongan yang saya pikul bertahun-tahun itu, lama kelamaan sirna, ketika saya bisa memahami apa yang dibacakan kiai, oh ternyata begini, ternyata begitu. Ya karena berangkat dari terpaksa, terbiasa pada akhirnya bisa. Ciahhh.

Saya menemui realita, ketika Pondok Lirboyo ini terkenal di bidang bahtsu-nya dengan segala nalar kritisnya, ternyata berangkat dari ngaji bandongan. Kok bisa?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yap, ketika ngaji bandongan, penekanannya pada memaknani kitab. Di sini, santri dituntut untuk menggunakan konsentrasi pendengaran maksimal, ditunjang kecepatan tangan menarikan pulpen di atas kertas kuning.

Lalu, muncul daya kritisnya di mana? Nah bagi yang memaknani kitab dengan sungguh, percikan ilmu itu akan tumbuh dengan sendirinya. Karena kiai atau guru uma membacakan, otomatis santri menjadi bertanya-tanya, misal “Kok dibaca romadhoni, bukan romadhona?”

Karena kiai atau guru tidak menjelaskan dengan gamblang, santri kadang penasaran, dn akhirya dituntut untuk belajar lagi.

Dari situ timbullah ekosistem untuk memahami secara mendalam terhadap teks yang dibacakan oleh kiai atau guru, dan kita menyebutnya ‘memurodi dan mentasyawurkan’ sendiri. Apalagi ketika memaknani, penalaran santri itu cenderung berbeda, maka terjadilah pertengkaran pemikiran yang kemudian pihak madrasah memfasilitasinya dengan diadakan musyawarah/diskusi setiap mata pelajaran.

Musyawarah ini nyatanya tidak selesai di kelas, dan biasanya berlanjut di pelataran kamar, lorong-lorong asmara, serambi masjid. Pokonya di manapun tempat asalkan cukup buat naruh kopi dan kitab, pasti dimanfaatkan untuk musyawarah atau diskusi ini.

Tinggalkan Balasan