Bandongan, Terasa Membosankan Tapi Mencerdaskan

Setelah pertengkaran pikiran dengan argumentasi masing-masing tadi, kiai atau guru tinggal menjadi perumus jawaban supaya pemahaman santri tetap di jalan yang benar.

Analoginya, ketika kiai hanya membacakan kitab, itu sama persis ketika kiai menyediakan bahan mentah, selanjutnya terserah santri mau mengolahnya jadi apa, dan tentu olahan setiap santri berbeda. Begitupula ngaji bandongan, kiai memberikan bahan mentah pemikiran kepada santri, tergantung santrinya mau mematangkan lagi atau tidak. Nah untuk mematangkannya tadi didibuatlah sistem musyawarah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Intinya,  bandongan menuntut santri mikir, berpikir kritis. Bayangkan kalau kiai atau guru harus menjelaskan semua dengan gamblang seperti pemceramah atau konten-konten tiktok, ya terlalu memanjakan santri, membuat santri malas berpikir dan tidak mau menganalisis sendiri. Tapi kalau dikasih pemikiran mentah atau setengah matang, mau tidak mau santri musti meraciknya sendiri. Nah biar tidak salah pemikiran, kiai atau guru tetap memvalidasinya.

Metode bandongan ini juga diakui keampuhannya oleh Kiai Mahrus. Diceritakan oleh Kiai Chalwani Berjan, Kiai Mahrus mengaku kalau ngaji mantiq yang membacakan Kiai Dalhar, ia cepat paham dan mudah mengerti. Padahal, Kiai Dalhar hanya membacakan. kiai Dalhar juga mengakui, “Baru ini, saya punya santri yang diajar mantiq dan lainnya cepat paham.”

Untuk bandongan ini, Kiai Mahrus juga memerintahkan kepada santri, kalau selesai ngaji, harus dipelajari lagi berkali-kali lagi supaya paham. Tidak seperti kita yang selesai ngaji kitabnya ditaruh.

Begitulah ngaji bandongan di pesantren, terlihat membosankan tapi mencerdaskan.  Secatra kontinu sistem ini bisa melahirkan nalar santri yang kritis dan taktis. Sistem ini pula yang kemdudian menjadikan santri Lirboyo suka ber-bahtsu sampai saat ini.

Tinggalkan Balasan