Gegamane cumeti
Sada lanang saking swarga

Sun sabetake gunung gugur
Segara asat, bumi bengkah
Sun sabetake langit butul kang langit sapitu
Sun sabetake atine si jabang bayi… (sebut nama yang dituju)
Wong ayu elinga
Welase ning badan ingsun
Mbrenganga kaya jaran
Teka welas teka asih marang badanku
Laailahaaillah Muhamadurrasullallah…
Setelah selesai membacanya, Baridin mengucapkan beberapa kata. “Siapa tahu. Barangkali nanti semua berakhir bahagia.”
“Tapi ada syaratnya,” ujar Gemblung, “puasa mutih 40 hari dan di hari ke-40 kau harus pati geni.”
“Aku telah pergi dari rumah, dan, aku akan pergi lebih jauh lagi, kembali ketika Ratmina begitu dimabuk rindu ingin segera bertemu denganku,” kata Baridin.
“Apa kata ibumu nanti?”
“Peduli amat. Persetan. Toh aku sudah bukan anaknya, aku telah diusirnya. Hari segera gelap,” katanya. “Aku harus segera pergi mencari tempat tirakatku.”
Baridin, seorang kuli bajak sawah yang tergila-gila gadis cantik di kampungnya, tak ingin memikirkan apa pun selain Ratmina. Ia mantap melangkahkan kakinya ke dalam hutan dan bertapa di sana. Guna-guna itu dibacanya sambil merapal nama Ratmina ribuan kali.
Sepeninggal Baridin, di rumah orang tuanya yang megah, hati Ratmina langsung berdebar-debar. Ia mulai menyebut-nyebut nama Baridin. Kebenciannya kepada Baridin berubah jadi hasrat yang meledak-ledak. Ia ingin lekas bertemu, kabur dari rumah, mencarinya ke mana-mana. Ia kini jatuh hati sedalam-dalamnya.
“Kang Baridin, kulane melu kang…” itu yang diucapkan oleh Ratmina sepanjang jalan yang dilaluinya. Ia menanyakan ke mana perginya Baridin kepada setiap orang. Kini orang mulai menganggapnya gendeng. Gila.
