Beda Santri, Beda “Minhum”

Dengan adab khusnudzon itu, seorang santri tidak boleh menganggap remeh atau meremehkan, hina atau menghinakan, nista atau menistakan, kepada siapa pun. Dengan adab khusnudzon itu, seorang santri tidak boleh berprasangka buruk, menganggap orang lain jelek atau jahat, dan mendaku diri lebih baik dari yang lain. Jangan mentang-mentang menyandang status santri, kita jadi merasa lebih ahli ibadah ketimbang yang lain.

Karena itu, dalam praktik keseharian di lingkungan pesantren atau dunia santri, kita tetap harus menghormati dan menghargai terhadap sesama, sekalipun terhadap orang-orang yang kelihatannya berperilaku tidak baik atau tidak waras, berpenampilan nyeleneh, bertampang gembel atau urakan, atau bahkan norak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di pondok saya dulu, setiap malam Jumat manis saat dilaksanakan manaqiban, ribuan orang datang dari berbagai penjuru. Penampilan mereka sangat beragam dan dari berbagai “kelas sosial”. Ada yang berjubah dan bersurban megah. Banyak yang hanya bersarung dan berpeci. Tak sedikit yang bercelana layaknya orang biasa. Selalu ada yang berpenampilan gembel layaknya seorang pengemis. Namun, kiai saya memperlakukan semuanya dengan penghormatan yang sama.

One Reply to “Beda Santri, Beda “Minhum””

Tinggalkan Balasan