“Jangan pernah meremehkan mereka. Kita tak pernah tahu bahwa di antara mereka itu adalah kekasih-kekasih Allah, wali Allah,” demikian pesan Pak Kiai kepada semua santrinya. Itulah kenapa, di antara kami para santri selalu ada “alarm”. Di antara kami akan saling mengingatkan dengan kalimat: “Sstttt…, jangan-jangan dia wali,” ketika berhadapan dengan seseorang yang terlihat aneh atau berperilaku “menyimpang”.
Mungkin itu berlebihan. Tapi dengan itu kami jadi punya “sistem kendali” untuk tidak lekas menghakimi liyan sebagai orang tidak baik, orang sesat, atau bahkan melakukan takfiri. Ini, tentu, berbeda dengan cara pandang toko sebelah alias minhum. Jangankan terhadap yang nonmuslim atau orang-orang yang memang bergajulan, terhadap kami yang hidup sebagai santri saja sering dianggap sesat, ahli bidah yang artinya adalah calon penghuni neraka. Berapa banyak, misalnya, mereka yang telah menghina-hina Gus Mus, bahkan menyebutnya sesat? Padahal, jelas-jelas KH Mustofa Bisri itu orang yang alim allamah. Gus Mus tak sendiri. Cukup banyak kiai pesantren memperoleh perlakuan yang sama. Bahkan, keberadaan Wali Songo sebagai penyebar Islam di Nusantara pun mulai mereka ragukan kebenarannya.

Dari kecenderungan itu, bisa dibilang cara pandang toko sebelah memang suudzon: yang berbeda dari mereka pasti dianggap tidak benar sampai kita menyatakan “hijrah”. Hijrah di sini berarti mau bergabung dan menjadi bagian dari kelompok toko sebelah.

pas banget. santri pasti mengalami posisi ini.