“Sekarang bulan Agustus, Sayang. Aku akan tetap melaut meski angin kencang. Aku ingin jadi pejuang yang berani seperti kakek.”
“Iya, Kak. Tapi aku berharap kakak tetap hati-hati, karena keberanian itu tetap dengan perhitungan,” pesan Nisa lirih.

“Jangan khawatir, Sayang. Aku akan tetap pulang untukmu,” balas Suto seraya mencium rambut Nisa, melepas pelukan, mengecup kening Nisa, lalu pamit sambil membawa bendera itu, persis di saat dentang jam berbunyi dua belas kali. Ketika itu bulan menelusup ke rimbun siwalan.
***
Nisa tak pernah membayangkan, dirinya akan bersimpuh di samping pusara suaminya ketika di seluruh penjuru tanah air, lagu kemerdekaan tengah dinyanyikan dan bendera merah putih dinaikkan ke pucuk tiang.
