Bendera Seorang Pelaut

Angin kencang 17 Agustus tiada mampu mengeringkan rintik air mata yang terus menetes dari sudut mata Nisa. Ia masih terisak sembari menabur bunga ke gundukan tanah yang masih wangi itu. Selembar bendera yang mulai lusuh, terkalung di lehernya.

Masih segar dalam ingatan Nisa, puncak pahit yang ia rasa; dua hari lalu suaminya ditemukan tewas di sebuah pantai pulau seberang. Mulanya nelayan tidak tahu jika bendera merah putih yang tampak di permukaan air adalah ujung perahu yang ditumpangi suaminya. Setelah diangkat, barulah nelayan itu tahu jika ada perahu yang tenggelam terseret arus, dan suami Nisa ditemukan terjepit di dalam perahu itu dalam keadaan tak bernyawa. Nelayan memperkirakan perahu itu karam di tengah laut dan diseret arus ke bibir pantai setelah tenggang waktu sepuluh hari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Selamat jalan pahlawanku! Kau memang mewarisi semangat juang kakekmu. Bendera ini telah mengantarkanmu menjadi pejuang sejati, yang tak takut memilih, antara merdeka atau mati,” ucap Nisa dengan bibir gemetar. Air matanya merintik ke lembar bendera yang terkalung di lehernya. Angin menyelinap. Suasana mendadak senyap.

ilustrasi: kibrispdr.org.

Tinggalkan Balasan