Dari sinilah kita seharusnya mulai membuka pikiran mengenai beragama dengan akal sehat, dan bahwa agama bukanlah mengenai doktrin yang kaku yang membenarkan jalan yang lurus hanya bisa dilalui dengan satu cara saja. Hal ini tentu saja selaras dengan peran Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil ‘alamin. Selain itu, alangkah lebih baiknya kita juga mengetahui apakah indoktrinisasi juga hidup saat para utusan Allah menjalankan peran beragama.
Jika bercermin kepada kehidupan Rasulullah, beliau bahkan tidak pernah memaksakan dalam beragama, atau beliau bahkan tidak pernah meneladankan untuk menjadi sama persis seperti beliau. Karena, sebenarnya beliau paham setiap manusia memiliki pembawaan dan kemampuan yang berbeda-beda.

Hal yang terpenting adalah substansinya dan bukan ritualnya. Maka sejak beliau hidup, beliau tidak pernah memaksa para sahabatnya untuk bersikap seragam. Bahkan, sampai cara salat pun Rasulullah hanya mengatakan “Salatlah kalian sebagaimana melihat aku sholat.” Tentu saja perkataan itu multitafsir dan tidak ada kebenaran tunggal. Dari situlah keberagaman keluar. Ulama memiliki keberagaman pandangan dan penafsiran. Semua itu terjadi karena fitrah kebenaran bukan hanya dari satu pintu.
Beragama dengan Akal
