Beragama dengan Akal atau Doktrin

Allah berkali-kali mengingatkan bahwa akal dan pikiran adalah hal yang penting dalam beragama. Akal dan pikiran juga merupakan aset yang penting untuk manusia. Lalu mengapa kita masih sering salah kaprah dalam beragama? Memang ada konteks yang tidak cukup menggunakan akal, perlu adanya iman. Hal-hal muamalah seharusnya masih dapat ditampung dengan akal pikiran. Sedangkan hal-hal yang manusia masih belum mampu menemukan jawaban, tentu perlu kita Imani. Jadi dalam konteks ini, akal sehat digunakan untuk membuat peran agama bukan hanya perkara iman, melainkan juga cakrawala berpikir untuk mempertajam kecerdasan.

Oleh karena itu, Allah selalu menggambarkan para utusan-Nya, yaitu para Rasul dan Malaikat sebagai makhluk yang berakal dan cerdas. Hal ini juga digambarkan dalam surah An-Najm ayat 1-6 yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad mendapatkan wahyu bukan karena hawa nafsunya, melainkan wahyu tersebut turun dari Jibril yang mempunyai akal yang cerdas dan diajarkan kepada Nabi Muhammad. Dalam konteks ini, kita dapat menggarisbawahi bahwa Allah menggambarkan Jibril sebagai utusan yang mempunyai akal yang cerdas. Lalu mengapa masih banyak di antara kita yang masuk dalam lingkaran dogma?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akal merupakan modal penting dalam beragama, bahkan al-Quran diturunkan untuk orang-orang yang berakal agar dapat mengambil pelajaran, sesuai dengan surah Ibrahim ayat 52. Jika jalan menuju pembelajaran saja sudah dimonopoli oleh “pemuka agama”, lalu kebenaran yang mana yang akan kita cari dan dapatkan? Agama tidak lagi menjadi pusat pembelajaran, melainkan menjadi sarana penanaman doktrin yang menyeramkan dan kaku.

Afala ta’qilun, apakah kamu tidak menggunakn akalmu? Afala tatafakkarun, apakah kamu tidak berpikir?

Tinggalkan Balasan