Beragama Tanpa Akhlak

Saya masih sering teringat akan guru-guru saya dulu, dulu sekali; guru-guru saya di madrasah atau di langgar-langgar. Guru-guru saya itu mendidik kami dengan cara-cara sederhana, dengan contoh-contoh sederhana.

Misalnya, saat melihat ada kerikil berserak, atau seonggok batu, atau sebatang kayu melintang di tengah jalan, saya diminta memungut dan menyingkirkannya. Agar orang yang lalu setelahmu tidak diterantuk, tersandung, atau keserimpet dan jatuh. Dan itu akan melapangkan jalan orang lain setelahmu. Begitu pesan guru-guru saya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Atau jika sedang berjalan, lalu berpapasan dengan atau melintasi orang yang lebih tua, kami diminta tersenyum, membungkuk, dan memberi salam. Begitulah cara guru-guru saya dalam mendidik kami bersikap hormat dan menghargai orang lain, terutama yang lebih tua. Ketika sedang berbicara dengan orang lain pun, kami dilarang bersuara lebih nyaring dari lawan bicara, lebih-lebih jika lawan bicaranya adalah orang yang lebih tua.

Itu semua, menurut guru-guru saya dulu, adalah bagian dari akhlak, misi terpenting yang diemban Nabi Muhammad dalam kerasulannya. Dari masa yang jauh itu, saya teringat salah satu hadis Nabi yang sangat popular: Artinya, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Tinggalkan Balasan