Karena itu, dapat pula diambil satu kesimpulan bahwa sesungguhnya agama itu, pertama-tama, adalah soal social order atau tertib sosial, bukan seberapa tekun seseorang menjalankan ritual ibadah. Ada beberapa hadis yang menguatkan argumen ini.
Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Dari Abu Hurairah, misalnya, dikisahkan bahwa ada seorang sahabat yang menyampaikan kepada Nabi perihal seorang perempuan yang

rajin salat malam, selalu berpuasa di siang hari, dan suka bersedekah. Namun, perempuan tersebut berlidah tajam. Sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Mendengar itu, Rasul memastikan bahwa perempuan tersebut bukan orang baik, atau saleh, dan ia termasuk penghuni neraka.
Berdasarkan kisah tersebut, jika ditelisik lebih dalam, seluruh perintah-perintah ibadah yang diajarkan Nabi Muhammad, muara sesungguhnya adalah social order tersebut. Perintah salat, misalnya, jelas tujuannya agar manusia terhindar dari perilaku yang merusak dan kedurhakaan. Jadi, seluruh ibadah manusia itu memang bukan untuk Tuhan, melainkan untuk kebaikan tatanan sosial kemasyarakatan —kecuali puasa di bulan Ramadan, satu-satunya ibadah yang memang diakui hanya untuk Allah seperti disitir dalam satu hadis qudsi.
