Beragama Tanpa Akhlak

Social order tersebut, saya kira yang juga menjadi muara semua agama, fondasinya adalah akhlak. Jika masyarakat manusianya tidak berakhlak, maka social order tersebut tak akan terbangun, dan agama menjadi tidak berarti. Itulah kenapa misi utama kenabian Muhammad adalah memperbaiki akhlak, yang bisa kita terjemahkan sebagai perangai, tabiat, atau tingkah laku yang telah mendarahdaging dalam diri.

Tapi justru inilah yang alpa dipahami oleh masyarakat kita akhir-akhir ini. Di mana-mana semangat beribadah kian semarak, tapi di saat yang sama tatanan sosial, atau social order, justru mulai rusak. Dipermudah oleh media sosial melalui jaringan Internet, orang ramai saling menebar kebencian sehingga di antara sesama saling membenci. Inilah yang oleh hadis Nabi disebut berlidah tajam. Tak ada respect, tak ada ruang persaudaraan dan persahabatan, bagi mereka yang berbeda pandangan dan keyakinan, bagi liyan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagaimana bisa kita sedang tekun beribadah, menyembah Tuhan, tapi di saat yang sama kita begitu membenci dengan ciptaan-Nya yang lain? Apakah bisa beragama tanpa berakhlak?

Fenomena inilah yang membuat saya masih sering teringat guru-guru saya dulu, yang pernah bertutur begini: Tak ada gunanya kamu jengking (maksudnya sujud) sampai jidatmu kapalen (hitam), kalau kamu tak baik sama tetanggamu…

Tinggalkan Balasan